Ibu dan Jendela

Ibu menutup jendela saat Maghrib tiba.

“untuk apa?” Aku bertanya.

“Agar rasa sepi tidak hinggap kembali ke rumah ini.”

 

Saat aku dewasa dan Ibu telah tiada, aku menggantikan perannya

sebagai penutup jendela saat senja tiba.

 

Istriku yang melihatku melakukannya, menatap penuh tanya.

Dari ujung matanya mengalir air mata: “Untuk apa?”

 

“Agar hantu depresi tidak bersemayam kembali di rumah hati ini.”

Iklan

Eskapisme

Terisolasi  oleh  perasaan sendu, ia mulai membuka buku

dibaliknya halaman demi halaman tentang sejarah manusia

disimpannya rapat-rapat rasa sedihnya

merasalah dirinya tercerahkan oleh pengetahuan.

 

Ia taruh buku sejarahnya dan ia buka buku lainnya

Kali ini perihal sastra

di mana gagasan dibalut oleh cerita

Mencari-cari buah makna di belantara hutan kata-kata.

 

Saat lelah dalam pencarian

secangkir atau dua  cangkir fiksi mungil ia seduh

disruputnya perlahan

Terkadang rasanya menyejukkan, terkadang rasanya pahit tak karuan.

Dari dan dalam berbagai hal ia ambil seutuhnya sebagai pelajaran.

 

Saat Bulan Sepenggalan,

Pada tembok putih di hadapan, ia tumpahkan segala pemikiran

tentang ketidakmungkinan.

Bersandarlah padanya hidup yang tanpa tujuan.

 

Dibuatnya simpul dan tali gantungan

Yang digantung tidak hanya kegagalan cita-cita dan harapan

Tergantung pula di sana nyawa yang nilainya tak seberapa

dan leher yang lelah menopang riuhnya isi kepala.

Realise

I sit down under the branchless tree upon her terrace. Setting up my feelings and trying to contemplate what I don’t understand yet.
I finally walk down on the path to her door.
I knock once, I believe the tapping sounds is too low. So I knock twice. Still the response is silent.

I know it isn’t a sudden, though she always said it so, when the lightning strucks over and over again to my head. And breaking my chest into pieces.
It makes me wonder. It makes me regret. It makes her open the door for a while just to say shut the fuck up and blame the noise what we heard before as my fault.
It was me, I said to her. It was the sound of absolution. The confession. The thing that I’ll never do that again. Forever.

She just reply: take your loneliness away. And she shuts the door.

“Do you content with loneliness?” I asked her, yet the wind that only heard. Yeah I did too, as I responsed even she never heard my question before. Till I realise the only thing that missing is you, I added.

Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya, Haruki Murakami

 

1408338758-0590ec16c3e9391f62f9b85292c59665
source: kouzou.org

Tsukuru Tazaki memiliki teman dekat saat sma yg terdiri dari 5 org : 2 perempuan dan 3 lelaki termasuk dirinya. Tapi nyatanya saat kuliah, keempat teman dekatnya itu memutuskan untuk tidak menghubungi Tsukuru lagi selamanya. Alasan kenapa mereka memutus hubungan pun tanpa penjelasan. Dari satu bab ke bab lainnya, selain menggambarkan kesendirian seorang Tsukuru, sang tokoh juga pada akhirnya mencari jawaban atas alasan sahabat-sahabatnya meninggalkan dirinya.

Keempat teman dekat Tsukuru masing masing memiliki nama yang mengandung warna. Eri Kurono yang berwarna Hitam, Yuzuki Shirane yang berarti Putih, Kei Akamatsu yang memiliki arti Merah dan Yoshio Oumi yang berarti Biru Laut. Hanya Tsukuru yang tidak memiliki warna dalam arti namanya. Secara harfiah, namanya memiliki arti “membuat atau mendirikan sesuatu” yang mungkin selaras dengan pekerjaannya sebagai seorang arsitektur rel kereta api.

Novel ini adalah bentuk bildungsroman (coming of age) dalam jenisnya yang realis. Hal-hal realisme magis yang sangat Murakami menurut saya agak ditinggalkan di novel ini, selain tentu saja masih ada satu dua mimpi yang sangat menggambarkan ciri khas seorang Murakami. Ia mampu menggali secara dalam akan penggambaran tokohnya dan bagaimana ia menjelaskan mengenai kesendirian, masalah hidup yang menghantui tokoh utama dan menghadapi urusan masa lalu yang belum selesai.

Murakami juga masih asik bercerita tentang karakter seorang pria di umur 30an, single tapi tidak kesepian dan mimpi2 nan erotis dan sureal. Di balik kemampuannya menulis soal budaya populer, yang paling menarik untuk diangkat adalah cerita tentang tokoh-tokohnya dan bagaimana karakter mereka menggerakan plot yang dibangun. Seperti kebanyakan novel Murakami lainnya yg menyelipkan referensi musik, di novel ini dia memberikan “soundtrack” le mal du pays karya Franz Listz.

Dari sekian banyak (gak banyak-banyak bgt sih sebenernya) buku Murakami yg saya baca, yg ini adalah salah satu favorit karena ia menampilkan tokoh yg secara paradoksal, jika dilihat dari namanya, justru karakternya paling menonjol dibanding tokoh2 novelnya yg lain yaitu Tsukuru yang tanpa warna.

 

Ramadhan dalam sebuah catatan

Ramadhan tahun ini jatuh di pertengahan tahun. Saat matahari sedang asyik asyiknya menampakkan diri dan hujan sedikit malu untuk tampil di depan umum. Namun begitu, sekali dalam suatu waktu, langit mendung menggantung di atap kota Jakarta. Dan di antara cuaca yang lembut itu, aku menuliskan catatanku di sini. Jangan lah menduga bahwasanya tulisan ini akan menjadi semacam catatan amal ibadah selama bulan puasa karena sejujurnya aku bukan orang yang religius dan diriku lebih bejat dari kelihatannya.

Aku memandang Ramadhan adalah bulan yang berbeda dari bulan lainnya karena ada perubahan sedikit fase kehidupan terutama tentang pola makan. Segalanya menunggu untuk senja datang. Menjadi sedikit berbeda sekali dalam satu tahun itu pun ada baiknya, setidaknya hidup tidak berkutat terus menerus dalam kejenuhan.

Seperti tahun-tahun dan ramadhan-ramadhan yang lalu, segalanya berjalan sederhana dan biasa saja. Tidak banyak yang berubah di tahun ini, selain diriku yang telah mampu hidup mandiri secara ekonomi. Bulan Ramadhan kali ini aku habiskan sedikit lebih sepi dari hirup pikuk berbuka bersama teman, entah itu mantan teman kelas atau teman yang lebih tepat dikatakan kenalan.

Aku menghabiskan waktu menunggu senja jatuh dengan bermain sepakbola. Sudah terasa lama aku tidak bermain di lapangan besar. Kami, aku dan teman sepermainan, biasa memainkannya saat waktu menunjukkan pukul setengah 5 tepat sehingga menjelang Maghrib tidak terlalu terasa lamanya.

Kegiatanku selepas berbuka yaitu membaca buku satu atau dua jam dan melewati waktu malam dengan berlari sebentar. Melakukannya untuk beberapa kali awalnya terasa amat berat. 2 putaran lapangan sepak bola pun aku sudah kelelahan. Namun makin lama menjalankannya, setelah lari 3 atau 4 putaran aku merasa ringan dan segar. Adalah betul penelitian tentang berlari memberikan sedikit kebahagiaan.

Kesempatan untuk berbuka puasa bersama dengan sahabatku baru terjadi pada tanggal terakhir di bulan Mei. Aku sih menganggap mereka sahabat, entah apakah mereka menganggapku dengan hal yang sama atau tidak. Akhir-akhir ini aku baru sadar bahwa kebahagiaan juga bisa hadir lewat relasi pertemanan. Aku senang berkawan dengan mereka dan untuk hal ini, aku berharap agar mereka juga merasakan hal yang sama. Kami berbincang dan bersenda gurau tentang teman kami yang lainnya, kisah percintaan kami, hal-hal remeh yang boleh dibilang gosip tidak penting dan tentunya masing-masing dari kami saling bertukar kabar.

Terkadang di sela-sela perbincangan dan gelak tawa, pikiranku melompat jauh ke lima atau sepuluh tahun mendatang. Memikirkan sejauh mana persahabatan ini akan bertahan, siapa di antara kami yang perlahan mundur untuk pergi, bagaimana tiap-tiap dari kami akan bersikap dan sejauh apa takdir membawa hidup kami.

Menjelang akhir bulan Ramadhan, saat sebagian besar manusia kembali pulang dan berkumpul bersama keluarga, aku justru kembali bekerja. Tentunya ada saat-saat di mana aku merasakan stres dan rasa iri. Namun akan selalu ada dua sisi dalam setiap kejadian, bukan?

Yang menyenangkan saat bekerja menjelang lebaran adalah lengangnya jalanan Jakarta. Seperti ramadhan yang datang sekali dalam satu tahun, keadaan ini pun seperti itu. Jakarta saat lebaran bukanlah Jakarta yang aku kenal. Justru di saat lengang aku bisa merasakan jalanan Jakarta dan memandang hutan-hutan beton yang mengelilinginya. Entah mengapa semua pemandangan ini tertutupi saat kemacetan melanda. Padahal lebih banyak waktu yang dihabiskan di jalan.

Mendengarkan Nat King cole dan John Mayer saat melewati lancarnya tol dalam kota bisa dikategorikan sebagai sebuah bentuk wisata di Jakarta. Percayalah, kamu akan lebih menikmati alunan lagu dan liriknya dibanding saat kendaraan berhenti dan menghasilkan polusi.
Aku menutup catatan kecil ini dengan sedikit perasaan aneh yang sepertinya tidak bisa dijelaskan. Bekerja di akhir ramadhan dan awal lebaran, di saat yang lainnya berkumpul bersama keluarga mereka, ternyata menyenangkan juga.

 

Beauty and Sadness, Yasunari Kawabata

il_fullxfull-298606726

My first introduction with Japanese literature was a couple years ago. I still feel enchanted with the short story by Murakami  and I didn’t  know that Japanese could write beautifully. I was so blind. Turns out, the way Murakami tells his stories is an antithesis of what Japanese literature really is. They  have one specific fabulous novelist which apparently tell about the so-called “real” Japanese culture. So I googled it and comes the first Japanese Nobel prize awardee, Yasunari Kawabata. Without any doubt, I try my best to explore the Beauty and Sadness.

This is a delicate love story opens with a trip to kyoto and a journey into the past by Oki Toshio, a successful author. He travels to Kyoto to hear the New Year’s Eve Bells with his old lover, Otoko Ueno. Twenty years ago, at the age of fifteen, Otoko fell in love with Oki, who was married with a young son at the time of the affair. Otoko fell pregnant, but her baby was born prematurely only to die shortly after the birth. This made her mental down and tried to suicide. Her mother moved the family to Kyoto in an effort to put some distance between the two former lovers.

The narration back to the present : Otoko already has a girlfriend, in the explicit way this novel describe when she turns into lesbian, and Oki sold millions of copy of A Girl of Sixteen, A novel about his relationship with Otoko. Those 2 long decades never dimmed their love. However, their story turns into a destruction when Keiko, Otoko’s jealous girlfriend, disrupt their past love

The story goes between flashbacks from years ago and brief yet significant moments in the present. Kawabata’s prose has the feeling of painting but he leaves some scope for the reader to draw their own interpretation from the picture. It might be spoiler but this book left with the unanswered ending. In a way, this ending adds to the beauty of this poignant novella.

 

Three Billboard Outside Ebbing, Missouri. {contain spoilers}

threeposter

Seorang ibu yang anak gadisnya mati memutuskan untuk menyewa tiga papan iklan besar sebagai bentuk protes terhadap kepolisian kota Ebbing, dan kepada kepala polisi Bill lebih tepatnya, karena belum berhasil menangkap pembunuh anak gadisnya. Ibu itu bernama Mildrerd Hayes.

Kepala polisi Bill mendatangi Mildred dan berbicara bahwa dirinya memiliki penyakit kanker untuk meminta belas kasih Mildred namun ibu itu tak peduli. Berita mengenai papan iklan ini telah sampai ke media televisi dan membuat heboh seisi kota.

Bill memiliki bawahan bernama Jason yang temperamental, rasis dan sering memukul. Jason tinggal berdua dengan ibunya yang sudah cukup tua. Saat Bill bunuh diri karena kankernya semakin ganas, Jason menjadi marah dan memukuli pemilik usaha billboard karena membolehkan Mildred memasang iklan yang menghina atasannya.  Setelah itu Jason dikeluarkan dari kepolisian oleh seorang kepala polisi yang baru.

Jason menerima surat dari Bill yang berisi wejangan bahwa sesungguhnya Jason adalah pria yang baik dan jadilah polisi yang sabar dan penuh cinta. Saat ia membaca itu di kantor polisinya, Mildred yang kesal karena pemilik usaha billboard dipukuli oleh Jason, melempari kantor kepolisian dengan bom Molotov dan tanpa Mildred tahu bahwa ada Jason di dalam kantor.

Suatu ketika Jason sedang minum-minum di bar  ketika ia mendengar tentang seseorang  yang menyombongkan diri telah memerkosa wanita seksi. Ia segera menyelediki hal tersebut dan menghubungi Mildred.  Namun ternyata setelah melalui penyelidikan polisi, pembunuhnya bukan orang yang disangka oleh Jason.

Jason menelpon Mildred dan memutuskan unntuk pergi ke rumah si tersangka dan ingin main hakim sendiri. Namun saat mereka menaiki mobil, mereka menjadi tidak yakin akan rencana tersebut. Film berakhir di situ.

Film ini berkisah tentang rasa dendam dan benci. Kedua hal tersebut tidak akan membawa kita kemana mana selain daripada amarah yang tak berkesudahan. Hidup memang terlalu pedih untuk dijalani namun menyimpan dendam akan membuat hal tersebut menjadi jauh lebih pedih.

Di akhir cerita, penonton disuguhkan lewat perubahan sikap Jason dan cara Mildred berdamai dengan kasus kematian anak gadisnya yang tak terselesaikan. Berdamai dengan hidup itu sulit dan memang kita harus menerima segala rasa sakit lalu melepaskannya.

Pendalaman karakter yang luar biasa di film ini membuat saya tidak sungkan untuk membocorkan filmnya karena anda harus menonton sendiri bagaimana perubahan karakter dan penggambaran tentang manusia yang diselimuti rasa dendam akan mengajarkan kita satu atau dua hal penting tentang hidup.