Berliner Mauer

Aku pernah ke tembok Berlin beberapa kali. Dalam rentang waktu yg tidak begitu jauh dari kunjungan pertama dan beberapa kunjungan setelahnya. Tembok itu dingin, keras (tentu saja) dan mengintimidasi tiap tiap manusia yg melihatnya. Tembok Berlin adalah penanda sebuah sekat antara dua negara yg awalnya bersatu menjadi berpisah atas dasar perbedaan ideologi setelah perang terbesar umat manusia.

Dibangun pada Agustus 1961 oleh negara Jerman Timur. Ada ketakutan yang masif pada pemerintahan Jerman Timur saat itu karena banyak warga negaranya yang melarikan diri menuju Jerman Barat melalui Berlin Barat untuk sebuah penghidupan yg lebih baik. Dari sisi ekonomi, sosial maupun politik. Tembok itu adalah musuh bagi mereka yang memiliki sanak saudara di sisi seberangnya dan bagi mereka yang merasa kebebasan dalam kebersamaan adalah sebuah kekuatan. Namun bagi mereka yang membangunnya, beton panjang itu adalah pengejawantahan tegapnya rasa takut .

Diruntuhkan secara spontan dan simbolik oleh semangat kebebasan pada tgl 9 november 1989. Kelihatannya tembok itu seperti diruntuhkan dalam tempo yang serba tiba tiba. Walau ternyata terjadi dalam beberapa tahap.

Aku tidak bisa bilang bahwa kunjungan pertamaku ke sana berakhir mencerahkan karena tidak banyak informasi yang dapat diambil. Beberapa hari setelahnya aku kembali bertemu dengan tembok itu. Nama tempatnya adalah galeri sisi timur. Tembok itu diisi dengan berbagai kreativitas, aspirasi dan gambaran penyesalan yang kokoh. Bagian barat tembok dicat dan digambar oleh warga Berlin Barat, sementara sisi timurnya hanyalah beton polos yg suram. Saat aku melihat-lihat grafiti dan hasil proses kreatif individu yg merdeka (warga berlin barat) saat itu, sesaat aku tersadar bahwa sesungguhnya dalam kekang dan batas, akan selalu ada harapan yang digulirkan. Yang mana untuk hal ini bentuknya adalah sebuah ekspresi seni.

Galeri sisi timur berada tepat di depan Mercedez Benz Arena. Aku menyempatkan untuk mengambil gambar saat matahari tidak menampakan diri. Yang terdokumentasikan hanyalah beberapa gambar yg goyang dan tidak estetik. Kalau kalian cukup mengenalku, aku rasa aku tidak butuh sebuah pemakluman.

IMG20151121174717

Kunjungan paling berkesan justru terjadi pada sebuah siang yg dingin. Aku dan teman-teman menggunakan kereta bawah tanah ke sana. Kami turun dari kereta dan berjalan di lorong bawah tanah yg ganjil. Aku yakin jika saat itu tahun 70an, lorong itu pastilah berada dibawah bayang bayang praktik komunisme.
Tidak ada tanda palu dan arit di sana, jangan salah sangka. Tapi lorong itu mistis dan seperti menyerap rasa kebahagiaan dengan marmer-marmer hijau sebagai temboknya. Entah mengapa hal itu amat menarik perhatianku. Setelah melewati lorong yg lumayan panjangnya itu, kami mendapati diri kami berada tidak jauh dari taman memorial yg memajang Tembok Berlin.

Kalau aku tak salah ingat, nama jalannya adalah Bernauer. Di sana berdiri dengan angkuh 60 meter lebih tembok Berlin beserta menara penjagaannya. Di seberang tembok yg panjang itu, ada sebuah blok dengan gedung yang berisi museum tentang sejarah panjang perlintasan antar dua negara pecahan perang dunia tersebut.

IMG20151115151136

Diselimuti oleh angin sejuk, aku berjalan menuju tembok itu. Aku menyentuhnya dan yang muncul di pikiranku adalah segala daya dan usaha untuk memisahkan dan juga mendekatkan.
Ratusan upaya untuk kembali bersama dan berpisah, mungkin untuk waktu yg lama. Aktivitas penuh curiga dalam pemeriksaan dokumen negara, mata-mata yang menelisik dan tatapan belas kasih agar pergi dengan tenang adalah beberapa bentuk hal yg terjadi karena ada tembok itu.

Setiap aku membuka foto lama kunjunganku ke sana, justru yg ditinggalkan adalah bercak yg terjadi pada saat ini.
Karena sebenarnya tulisanku ini bukan tertuju untuk Berlin yg aku kenal dan aku berikan rasa rindu yg besar. Tulisan ini adalah pengandaian aku dan kamu. Sebuah tembok yg kamu bangun atas dasar rasa takut. Sebuah sekat yg aku takutkan akan menjauhkan. Seperti warga Berlin Timur yang menunggu waktu untuk sebuah kebebasan, aku pun berharap tembok yang kau bangun justru membuatmu sadar bahwa kita tidak bisa saling berjauhan. Lagi.

Iklan

Realise

I sit down under the branchless tree upon her terrace. Setting up my feelings and trying to contemplate what I don’t understand yet.
I finally walk down on the path to her door.
I knock once, I believe the tapping sounds is too low. So I knock twice. Still the response is silent.

I know it isn’t a sudden, though she always said it so, when the lightning strucks over and over again to my head. And breaking my chest into pieces.
It makes me wonder. It makes me regret. It makes her open the door for a while just to say shut the fuck up and blame the noise what we heard before as my fault.
It was me, I said to her. It was the sound of absolution. The confession. The thing that I’ll never do that again. Forever.

She just reply: take your loneliness away. And she shuts the door.

“Do you content with loneliness?” I asked her, yet the wind that only heard. Yeah I did too, as I responsed even she never heard my question before. Till I realise the only thing that missing is you, I added.

Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya, Haruki Murakami

 

1408338758-0590ec16c3e9391f62f9b85292c59665
source: kouzou.org

Tsukuru Tazaki memiliki teman dekat saat sma yg terdiri dari 5 org : 2 perempuan dan 3 lelaki termasuk dirinya. Tapi nyatanya saat kuliah, keempat teman dekatnya itu memutuskan untuk tidak menghubungi Tsukuru lagi selamanya. Alasan kenapa mereka memutus hubungan pun tanpa penjelasan. Dari satu bab ke bab lainnya, selain menggambarkan kesendirian seorang Tsukuru, sang tokoh juga pada akhirnya mencari jawaban atas alasan sahabat-sahabatnya meninggalkan dirinya.

Keempat teman dekat Tsukuru masing masing memiliki nama yang mengandung warna. Eri Kurono yang berwarna Hitam, Yuzuki Shirane yang berarti Putih, Kei Akamatsu yang memiliki arti Merah dan Yoshio Oumi yang berarti Biru Laut. Hanya Tsukuru yang tidak memiliki warna dalam arti namanya. Secara harfiah, namanya memiliki arti “membuat atau mendirikan sesuatu” yang mungkin selaras dengan pekerjaannya sebagai seorang arsitektur rel kereta api.

Novel ini adalah bentuk bildungsroman (coming of age) dalam jenisnya yang realis. Hal-hal realisme magis yang sangat Murakami menurut saya agak ditinggalkan di novel ini, selain tentu saja masih ada satu dua mimpi yang sangat menggambarkan ciri khas seorang Murakami. Ia mampu menggali secara dalam akan penggambaran tokohnya dan bagaimana ia menjelaskan mengenai kesendirian, masalah hidup yang menghantui tokoh utama dan menghadapi urusan masa lalu yang belum selesai.

Murakami juga masih asik bercerita tentang karakter seorang pria di umur 30an, single tapi tidak kesepian dan mimpi2 nan erotis dan sureal. Di balik kemampuannya menulis soal budaya populer, yang paling menarik untuk diangkat adalah cerita tentang tokoh-tokohnya dan bagaimana karakter mereka menggerakan plot yang dibangun. Seperti kebanyakan novel Murakami lainnya yg menyelipkan referensi musik, di novel ini dia memberikan “soundtrack” le mal du pays karya Franz Listz.

Dari sekian banyak (gak banyak-banyak bgt sih sebenernya) buku Murakami yg saya baca, yg ini adalah salah satu favorit karena ia menampilkan tokoh yg secara paradoksal, jika dilihat dari namanya, justru karakternya paling menonjol dibanding tokoh2 novelnya yg lain yaitu Tsukuru yang tanpa warna.

 

Ramadhan dalam sebuah catatan

Ramadhan tahun ini jatuh di pertengahan tahun. Saat matahari sedang asyik asyiknya menampakkan diri dan hujan sedikit malu untuk tampil di depan umum. Namun begitu, sekali dalam suatu waktu, langit mendung menggantung di atap kota Jakarta. Dan di antara cuaca yang lembut itu, aku menuliskan catatanku di sini. Jangan lah menduga bahwasanya tulisan ini akan menjadi semacam catatan amal ibadah selama bulan puasa karena sejujurnya aku bukan orang yang religius dan diriku lebih bejat dari kelihatannya.

Aku memandang Ramadhan adalah bulan yang berbeda dari bulan lainnya karena ada perubahan sedikit fase kehidupan terutama tentang pola makan. Segalanya menunggu untuk senja datang. Menjadi sedikit berbeda sekali dalam satu tahun itu pun ada baiknya, setidaknya hidup tidak berkutat terus menerus dalam kejenuhan.

Seperti tahun-tahun dan ramadhan-ramadhan yang lalu, segalanya berjalan sederhana dan biasa saja. Tidak banyak yang berubah di tahun ini, selain diriku yang telah mampu hidup mandiri secara ekonomi. Bulan Ramadhan kali ini aku habiskan sedikit lebih sepi dari hirup pikuk berbuka bersama teman, entah itu mantan teman kelas atau teman yang lebih tepat dikatakan kenalan.

Aku menghabiskan waktu menunggu senja jatuh dengan bermain sepakbola. Sudah terasa lama aku tidak bermain di lapangan besar. Kami, aku dan teman sepermainan, biasa memainkannya saat waktu menunjukkan pukul setengah 5 tepat sehingga menjelang Maghrib tidak terlalu terasa lamanya.

Kegiatanku selepas berbuka yaitu membaca buku satu atau dua jam dan melewati waktu malam dengan berlari sebentar. Melakukannya untuk beberapa kali awalnya terasa amat berat. 2 putaran lapangan sepak bola pun aku sudah kelelahan. Namun makin lama menjalankannya, setelah lari 3 atau 4 putaran aku merasa ringan dan segar. Adalah betul penelitian tentang berlari memberikan sedikit kebahagiaan.

Kesempatan untuk berbuka puasa bersama dengan sahabatku baru terjadi pada tanggal terakhir di bulan Mei. Aku sih menganggap mereka sahabat, entah apakah mereka menganggapku dengan hal yang sama atau tidak. Akhir-akhir ini aku baru sadar bahwa kebahagiaan juga bisa hadir lewat relasi pertemanan. Aku senang berkawan dengan mereka dan untuk hal ini, aku berharap agar mereka juga merasakan hal yang sama. Kami berbincang dan bersenda gurau tentang teman kami yang lainnya, kisah percintaan kami, hal-hal remeh yang boleh dibilang gosip tidak penting dan tentunya masing-masing dari kami saling bertukar kabar.

Terkadang di sela-sela perbincangan dan gelak tawa, pikiranku melompat jauh ke lima atau sepuluh tahun mendatang. Memikirkan sejauh mana persahabatan ini akan bertahan, siapa di antara kami yang perlahan mundur untuk pergi, bagaimana tiap-tiap dari kami akan bersikap dan sejauh apa takdir membawa hidup kami.

Menjelang akhir bulan Ramadhan, saat sebagian besar manusia kembali pulang dan berkumpul bersama keluarga, aku justru kembali bekerja. Tentunya ada saat-saat di mana aku merasakan stres dan rasa iri. Namun akan selalu ada dua sisi dalam setiap kejadian, bukan?

Yang menyenangkan saat bekerja menjelang lebaran adalah lengangnya jalanan Jakarta. Seperti ramadhan yang datang sekali dalam satu tahun, keadaan ini pun seperti itu. Jakarta saat lebaran bukanlah Jakarta yang aku kenal. Justru di saat lengang aku bisa merasakan jalanan Jakarta dan memandang hutan-hutan beton yang mengelilinginya. Entah mengapa semua pemandangan ini tertutupi saat kemacetan melanda. Padahal lebih banyak waktu yang dihabiskan di jalan.

Mendengarkan Nat King cole dan John Mayer saat melewati lancarnya tol dalam kota bisa dikategorikan sebagai sebuah bentuk wisata di Jakarta. Percayalah, kamu akan lebih menikmati alunan lagu dan liriknya dibanding saat kendaraan berhenti dan menghasilkan polusi.
Aku menutup catatan kecil ini dengan sedikit perasaan aneh yang sepertinya tidak bisa dijelaskan. Bekerja di akhir ramadhan dan awal lebaran, di saat yang lainnya berkumpul bersama keluarga mereka, ternyata menyenangkan juga.

 

Beauty and Sadness, Yasunari Kawabata

il_fullxfull-298606726

My first introduction with Japanese literature was a couple years ago. I still feel enchanted with the short story by Murakami  and I didn’t  know that Japanese could write beautifully. I was so blind. Turns out, the way Murakami tells his stories is an antithesis of what Japanese literature really is. They  have one specific fabulous novelist which apparently tell about the so-called “real” Japanese culture. So I googled it and comes the first Japanese Nobel prize awardee, Yasunari Kawabata. Without any doubt, I try my best to explore the Beauty and Sadness.

This is a delicate love story opens with a trip to kyoto and a journey into the past by Oki Toshio, a successful author. He travels to Kyoto to hear the New Year’s Eve Bells with his old lover, Otoko Ueno. Twenty years ago, at the age of fifteen, Otoko fell in love with Oki, who was married with a young son at the time of the affair. Otoko fell pregnant, but her baby was born prematurely only to die shortly after the birth. This made her mental down and tried to suicide. Her mother moved the family to Kyoto in an effort to put some distance between the two former lovers.

The narration back to the present : Otoko already has a girlfriend, in the explicit way this novel describe when she turns into lesbian, and Oki sold millions of copy of A Girl of Sixteen, A novel about his relationship with Otoko. Those 2 long decades never dimmed their love. However, their story turns into a destruction when Keiko, Otoko’s jealous girlfriend, disrupt their past love

The story goes between flashbacks from years ago and brief yet significant moments in the present. Kawabata’s prose has the feeling of painting but he leaves some scope for the reader to draw their own interpretation from the picture. It might be spoiler but this book left with the unanswered ending. In a way, this ending adds to the beauty of this poignant novella.

 

Three Billboard Outside Ebbing, Missouri. {contain spoilers}

threeposter

Seorang ibu yang anak gadisnya mati memutuskan untuk menyewa tiga papan iklan besar sebagai bentuk protes terhadap kepolisian kota Ebbing, dan kepada kepala polisi Bill lebih tepatnya, karena belum berhasil menangkap pembunuh anak gadisnya. Ibu itu bernama Mildrerd Hayes.

Kepala polisi Bill mendatangi Mildred dan berbicara bahwa dirinya memiliki penyakit kanker untuk meminta belas kasih Mildred namun ibu itu tak peduli. Berita mengenai papan iklan ini telah sampai ke media televisi dan membuat heboh seisi kota.

Bill memiliki bawahan bernama Jason yang temperamental, rasis dan sering memukul. Jason tinggal berdua dengan ibunya yang sudah cukup tua. Saat Bill bunuh diri karena kankernya semakin ganas, Jason menjadi marah dan memukuli pemilik usaha billboard karena membolehkan Mildred memasang iklan yang menghina atasannya.  Setelah itu Jason dikeluarkan dari kepolisian oleh seorang kepala polisi yang baru.

Jason menerima surat dari Bill yang berisi wejangan bahwa sesungguhnya Jason adalah pria yang baik dan jadilah polisi yang sabar dan penuh cinta. Saat ia membaca itu di kantor polisinya, Mildred yang kesal karena pemilik usaha billboard dipukuli oleh Jason, melempari kantor kepolisian dengan bom Molotov dan tanpa Mildred tahu bahwa ada Jason di dalam kantor.

Suatu ketika Jason sedang minum-minum di bar  ketika ia mendengar tentang seseorang  yang menyombongkan diri telah memerkosa wanita seksi. Ia segera menyelediki hal tersebut dan menghubungi Mildred.  Namun ternyata setelah melalui penyelidikan polisi, pembunuhnya bukan orang yang disangka oleh Jason.

Jason menelpon Mildred dan memutuskan unntuk pergi ke rumah si tersangka dan ingin main hakim sendiri. Namun saat mereka menaiki mobil, mereka menjadi tidak yakin akan rencana tersebut. Film berakhir di situ.

Film ini berkisah tentang rasa dendam dan benci. Kedua hal tersebut tidak akan membawa kita kemana mana selain daripada amarah yang tak berkesudahan. Hidup memang terlalu pedih untuk dijalani namun menyimpan dendam akan membuat hal tersebut menjadi jauh lebih pedih.

Di akhir cerita, penonton disuguhkan lewat perubahan sikap Jason dan cara Mildred berdamai dengan kasus kematian anak gadisnya yang tak terselesaikan. Berdamai dengan hidup itu sulit dan memang kita harus menerima segala rasa sakit lalu melepaskannya.

Pendalaman karakter yang luar biasa di film ini membuat saya tidak sungkan untuk membocorkan filmnya karena anda harus menonton sendiri bagaimana perubahan karakter dan penggambaran tentang manusia yang diselimuti rasa dendam akan mengajarkan kita satu atau dua hal penting tentang hidup.

Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta, Luis Sepulveda

IMG_20170808_211603

Antonio Jose Bolivar tinggal di sebuah gubuk kecil di daerah El Idilio, belantara hutan raya Amazon. Pak tua itu jatuh cinta dengan cerita cinta. Ia pandangi lekat-lekat kata demi kata dari buku yang ia baca. Buku yang berkisah tentang cerita cinta.

Walau kemampuan bacanya tidak seberapa, ia merasakan kata-kata yang demikian indahnya sampai kadang membuatnya lupa akan kebiadaban umat manusia. Manusia-manusia kulit putih yang mencari emas, ladang minyak, dan melacurkan keperawanan amazonnya. Belum lagi para pemburu macan kumbang yang mengusik semesta Amazonia dan menimbulkan kerisuhan di El Idilio tempat pak tua itu bermukim.

Pada bab pertama buku ini, penulis mengenalkan beberapa tokoh yang saya kira akan terus ada hingga akhir cerita. Namun cerita ini hanya terpusat, yang makin meruncing di bagian-bagian selanjutnya, pada tokoh Pak tua bernama Antonio Jose Bolivar. Diceritakan awal mula ia tinggal di El Idilio bersama beberapa penduduk, ketertarikannya akan novel cerita cinta dan tentu saja tentang hidupnya.

Saya baru sadar bahwa dengan alur penceritaan seperti itu, Luis Sepulveda membuat saya betah terus menerus membacanya. Inti novel ini sebenarnya dapat ditemukan di 1/4 bagian akhir novel namun Bab-bab awal novel ini membuat saya jatuh cnta dengan si pak tua yang membaca kisah cinta.

Novel ini bertema petualangan, yang tentu saja bisa dilihat dari sinopsis bukunya. Saya tidak begitu banyak membaca tema petualangan. Terakhir yang saya ingat mungkin harimau,harimaunya Mochtar Lubis, yang mana juga bercerita tentang pertarungan melawan hewan buas di tengah hutan rimba.

Luis Sepulveda pandai betul menceritakan tokoh-tokohnya dan alur cerita yang mengalir tenang namun menghanyutkan seperti sungai-sungai di Amazonia. Beberapa selipan humor membuat saya tertawa saat Antonio dan para temannya membicarakan tentang kota Venesia yang mereka baca dari novelnya Antonio. Ada juga humor gelap yang secara tepat muncul dalam beberapa adegan.

Novel pendek ini diterjemahkan dengan apik oleh Ronny Agustinus. Sangking bagusnya bahkan ada beberapa kosakata yang saya tidak tahu. Saya yakin sang penerjemah tidak hanya pandai berbahasa spanyol tapi juga memiliki perbendaharaan kata yang mumpuni. Saya juga pernah membaca terjemahan yang enak di buku Monster Kepala Seribu karya Laura Santullo. Buku itu diterjemahkan oleh Ratna Dyah Wulandari.

Di akhir novel,ada wawancara dengan Luis Sepulveda dan kaitan akan dirinya yang juga seorang aktivis politik. Bahkan wawancara ini pun tak kalah menarik dengan cerita novelnya. Saya berharap untuk membaca karya-karyanya lebih banyak.