Lo Pikir Lo Keren: Komedi Tunggal Adriano Qalbi

Aktivitas pertama yang gue lakukan dalam dunia internet tiap senin pagi adalah membuka soundcloud untuk mendengarkan podcast awal minggu. Konten tersebut dibuat oleh seorang pelawak bernama Adriano Qalbi. Namanya gak seterkenal komika lainnya di Indonesia, tapi kabarnya dia jadi salah satu panutan dari para komika-komika yang terkenal itu.

Gue pertama kali denger namanya saat dia masih sering manggung di acara provocative proactive stand up, acara komedi tunggal yang bertema sosial politik. Namun pertama kali gue nonton dia manggung saat acara Jumat Keramat dalam memperingati hari anti korupsi tahun 2015 lalu. Setelah itu gue selalu ngikutin podcastnya dan hampir setiap dia manggung gue dateng.

Tanggal 28 Januari kemarin, untuk pertama kalinya dia mengadakan acara komedi tunggal. Karena sold out di penjualan pertama, akhirnya dia buka untuk pertunjukan kedua yang mana digelar sebelum pertunjukan pertama. Beruntungnya gue dapet tiket untuk pertunjukan utama, yang malem, jd joke yang dia pake udah “dicobain” dulu empuk enggaknya di pertunjukan tambahan sebelumnya.

Show di buka sama Ben Dhanio, komika keturunan tionghoa tapi bahasannya gak cuma perihal tionghoa aja. Lumayan lucu sih menurut gue tapi ya gak lucu lucu banget lah. Setelah dia turun, lalu tampil lah komika yang baru dua kali manggung namanya Patra. Dia sebenernya adalah penyiar genfm namun karena karirnya mentok di situ-situ aja, akhirnya dia banting stir jadi komika. Yang gue inget, Patra ngebawain bit soal keresahannya jadi penyiar, 3 alasannya jadi komika dan tentang afgan. Dia keliatan gak grogi waktu tampil dan untuk komika yang baru tampil dua kali, jokesnya lucu dan gak keliatan kayak komika baru gitu.

Selesai Patra ngelawak, muncul lah Kukuh dengan gimmick yang bikin ketawa duluan bahkan sebelum dia mulai ngomong. Penampilan Kukuh malam itu benar-benar lucu banget. Dia bawain bit customer service, sushi tei dan yang paling ngakak buat gue  sih bit soal berita negatif dan komentar netizen di internet. Gue ngakak parah banget. Adriano salah nih kayaknya taruh Kukuh jd pembuka pertunjukannya 🙂

Penampil utama yang buat nih acara akhirnya tampil ke panggung. Gue ngeliat muka Adri agak tegang waktu naik panggung, namun setelah dibuka dengan jokes cara ciuman, dia langsung keliatan lepas dan seenak jidatnya yang lebar buat ngebawain jokes. Yang gue suka dari Adri, selain dia lucu dan analogi di jokesnya keren, adalah dia orang yang bodo amat.

Peduli setan sama lo semua, gue ya gini. Kayaknya gitu yang ada di pikiran si Adri. Dia gak pake bridging antar jokes dan tetep bawa catetan bitnya ke panggung. Dengan sikap cuek gitu dia jadi menguasai audiens dan yang penting mah, kalau kata dia, lucu.  Sikap cuek Adri gini nih, mirip-mirip sama persona rock star. Mungkin karena banyak rock star yang jd idolanya, dia jd ikut ikutan gini personanya.

Lo pikir lo keren jadi judul dari pertunjukan ini karena selain sentilan buat para netizen, yg mana Adri sebel banget, juga jadi pengingat buat dirinya tiap dia ngaca supaya ngingetin dia untuk gak belaga keren. Karena kata Adri, orang keren tuh kayak orang bau ketek 🙂

Tapi setelah sukses bikin gue gak berhenti ketawa di show ini, gue harus bilang: Lo emang keren kok, Dri.

c3jk_-bvuaanfbc
source: @piokharisma @adrianoqalbi

Oh iya, gue dateng waktu Adri ngadain gladi resik untuk show ini. Jadi gue udah denger bit-bit dia dua kali dan masih aja ketawa ngakak. Shownya dia emang layak untuk ditonton dua atau tiga kali bahkan kalau lo seorang #gariskeras @adrianoqalbi.

All Begins With Bach, Lecture Recital.

Tengah pekan di akhir bulan Januari, Erasmus Huis mengadakan sebuah kuliah resital. Disebut kuliah karena ini bukan pertunjukan musik klasik biasanya. Yang menjadi pembicara atau pemberi “kuliah” kali ini adalah Merlijn Kerkhof, seorang kritikus musik klasik sekaligus penulis buku All Begins With Bach. Ia menjelaskan mengenai musik dan sedikit sejarah tentang Johann Sebastian Bach namun ia tidak memainkan musiknya. Pemain musiknya yaitu Merel Vercammen (violin) dan Joachim Ejlander (cello) serta pianis muda asal Indonesia Caitlin Wiranata.

Pertunjukan dibuka dengan permainan solo dari Joachim dengan membawakan musik dari Bach yang saya tidak tahu namanya. Setelah membuka dengan permainan cello yang rapi, Merlijn tampil ke panggung dengan menjelaskan bahwa Bach, seorang musisi dari Jerman, sebagai salah satu pioner dalam aliran musik klasik. Setelah itu ia menjelaskan bahwa musik yang akan dimainkan selanjutnya adalah gubahan Bach yang berjudul The Invention, yang dimainkan oleh Joachim beserta Merel. The invention ,sepenuturan Merlijn, adalah sebuah puzzel yang mana tiap nada yang berbeda-beda digabungkan dalam satu kesatuan yang sama.

Selesai mereka memainkan musik tersebut, Merlijn kembali menaiki panggung untuk berbicara sedikit mengenai sejarah hidup Johann Bach. Bach adalah pria yang memiliki banyak anak, namun sayangnya hanya sedikit dari anaknya yang tumbuh hingga dewasa. Jadi saat itu, rumah Bach penuh sesak dengan anak-anak. Salah satu musik yang Bach ciptakaan adalah musik untuk anak-anak. Lantas Merlijn memanggil Caitlin Wiranata untuk memainkannya dengan piano. Musik yang dimainkan terdengar menyenangkan.

Pertunjukan kali ini tidak hanya menyajikan mengenai musik Bach saja, namun juga salah satu musisi yang terkenal semasa Bach hidup yaitu Handel. Georg Handel adalah musisi terkenal yang melanglang buana dari Italia hingga ke Ibu Kota Inggris untuk menggubah musik klasik opera dan orkestra. Ia adalah kebalikan dari Bach. Johann Bach semasa hidupnya tidak begitu dikenal publik namun setelah ia meninggal, musiknya meninggalkan jejak bagi tiap komponis-komponis yang lahir setelahnya.

Ini mengingatkan saya pada banyak pekarya. Sebut saja di dunia seni lukis ada Van Gogh. Ia amat menderita semasa hidupnya bahkan ia memotong kupingnya sendiri karena menjadi gila. Ada juga penulis termahsyur Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, yang bukunya dilarang terbit pada jaman orde baru dan awal reformasi karena ia pernah berafiliasi dengan Lekra jaman PKI dahulu. Namun sekarang namanya menjadi salah satu tonggak khazanah sastra Indonesia.

Kembali ke pertunjukan musik klasik. Saya selalu tertarik untuk menonton musik klasik secara langsung. Entah mengapa saya merasa lebih senang untuk menonton pertunjukan musik klasik dibanding dengan jenis musik lainnya. Mungkin karena saya jarang menonton jenis musik yang satu ini. Terlebih lagi dengan tipe yang satu ini, resital dengan sedikit penuturan mengenai sejarah komponis dan musik yang dimainkannya.

Arrival dan La La Land: Pembuka Yang Baik

la-la-land-and-arrival-among-afi-s-top-ten-movies-of-2016
source: aceshowbiz.com

Film pertama yang  saya tonton di tahun yang baru ini adalah Arrival. Sebenarnya film ini telah rilis tahun lalu di luar negeri namun baru awal tahun ini ada di bioskop Indonesia. Arrival  menggambarkan komunikasi manusia dengan mahluk asing yang singgah di bumi. Sebagian besar film dihabiskan untuk memecahkan halangan akan komunikasi tersebut serta maksud dan tujuan mereka ke bumi.

Sebenarnya saya kurang begitu terarik dengan film sci-fi yang ada hubungannya dengan alien. Saya cenderung menyukai film sci-fi seperti Interstellar. Namun karena sinopisnya cukup menarik, terlebih yang bermain adalah Amy Adams  (she’s so hot isn’t it?) jadi saya memutuskan untuk menontonnya.

Film ini melambung  jauh dari apa yang saya ekspektasikan. Saya kira hanya berkisar di pertemuan mahluk asing dan manusia, komunikasi mereka dan maksud mereka ke bumi. Arrival mengisahkan lebih dari itu. Alurnya maju mundur dan musik pengiringnya menggantung di telinga saya terus menerus. Ada keganjilan saat credit film tampil. Mungkin ini yang namanya after taste dari menonton sebuah film. Yang sering saya rasakan adalah euforia setelah menonton tapi untuk yang satu ini adalah keganjilan dan kaget bahwa Arrival tidak sesuai  dengan ekspektasi saya, in a good way.

Kreator film ini adalah Denis Villeneuve. Ia adalah sutradara dari film Prisoners dan Enemy. Dua film yang saya tonton dengan ending yang gak banget. Pantas saja Arrival ganjil setelah saya selesai menontonnya. Untuk film Prisoners dan Enemy, saya sedikit kesal kenapa film film tersebut harus diakhiri dengan cara seperti itu. Oh iya, film Enemy, sedikit bernuansa Kafka. Hal berbeda saya rasakan setelah menonton Arrival dan berucap dalam hati akhirnya saya bisa menikmati film Villenueve. Menikmati yang saya maksud tetap dengan rasa keganjilan, tapi menyenangkan.

Selang tiga hari setelah menonton Arrival, saya memutuskan untuk melepas rasa penasaran dengan La La Land. Film tersebut  membuat saya penasaran karena panen penghargaan di Golden Globe tgl 8 Januari tahun ini. Sehari setalah penayangan Golden Globe di tv, akhirnya 21 cineplex merilis film tersebut. Jujur saya tidak pernah tertarik untuk menonton film musikal drama karena saya selalu merasa aneh menonton film sembari melihat orang orang bernyanyi lipsync. Namun untuk yang satu ini, atas dasar rasa penasaran saya menontonnya di hari pertama film ini rilis.

Awal film disuguhkan dengan musik yang sebetulnya menyenangkan dan koreografi yang asik, tapi entah kenapa saya masih belum tertarik. Apa yang saya duga sebelumnya bahwa La La Land hanya jadi film yang tidak dapat saya nikmati nyaris terjadi sampai Ryan Gosling dan Emma Stone menyanyi duet dengan koreografi yang membuat saya jatuh hati. Mereka menyanyi dan menari dengan setting di bukit Hollywood malam hari. Mungkin karena yang mereka nyanyikan adalah irama musik jazz yang membuat saya menjadi tertarik.

Setelah adegan itu, saya dapat menikmati setiap adegan-adegan yang disuguhkan. Walaupun para pemain di film tersebut menari dan menyanyi dengan gaya khas musikal drama, entah mengapa yang biasanya saya menganggap hal tersebut aneh, justru saya malah terbawa suasana dan semakin tertarik pada film ini.

Saya suka jazz. Mungkin itu salah satu alasan kenapa saya menyukai film ini. Lagu lagu di film ini amat bagus dan itu adalah salah satu alasan kita menyukai musikal drama bukan? Terlebih dari itu, saya kagum dengan akting Emma Stone. Salah satu akting terbaik yang pernah saya lihat.

Sutradara film La La Land adalah Damien Chazelle. Ia adalah orang yang membuat film Whiplash. Film yang juga saya sukai. Saya lihat Chazelle memang tertarik dengan jazz karena selain whiplash dan la la land, film pertamanya juga bertema jazz yang saya lupa judulnya apa. Selain itu, Justin Hurwitz sebagai komposer di film La La Land juga menghasilkan karya yang luar biasa.

Dari setiap aspek yang saya suka dari film ini, mungkin yang paling patut diacungi jempol adalah ending dari film ini. Saya tidak tahan untuk tidak terharu.

Awal tahun saya dibuka dengan mengkonsumsi karya- karya yang luar biasa ini. Baik La La Land dan Arrival mengejutkan saya dengan cara yang berbeda. Meninggalkan rasa yang berbeda pula. Kedua film tersebut meruntuhkan ekspektasi saya dengan cara yang elegan. Atau mungkin cuma saya saja yang berlebihan.

Anak Kecil Yang Merengek

Setelah selesai membaca memoar Etgar Keret, aku merasa ketagihan membaca memoar penulis lainnya. Aku memutuskan untuk mencari di internet dan menemukan memoar Murakami, What I Talk About When I Talk About Running, dalam terjemahan Bahasa Indonesia.

Aku sudah punya banyak daftar buku yang ingin ku beli dan buku memoar ini adalah salah satunya. Namun dulu aku menemukannya dalam bahasa Inggris dan harganya lumayan mahal. Sebagai manusia dengan kemampuan ekonomi yang terbatas, memilih judul buku mana yang harus lebih dulu dibeli adalah pilihan sulit. Untungnya buku memoar yang sudah diterjemahkan ini tidak terlampau mahal.

Aku berangkat ke toko buku yang tidak jauh dari rumahku. Sesampainya di sana, aku langsung menuju komputer pencarian dan mengetik nama Murakami. Sayangnya tidak ada judul buku dengan pengarang Murakami yang aku inginkan. Lalu aku berjalan menuju rak-rak buku baru dan toko buku itu memajang sastra klasik dengan sampul yang baru & menarik.

Di sana terpampang nama Tolstoy, Karl May, Ernest Hemingway, Flaubert, Anton Chekov, dll. Aku memegang buku itu satu persatu untuk membaca sinopsisnya. Dalam pikiranku, aku menimang nimang buku mana yang harus ku beli jika buku Murakami tak berhasil ku temukan.

Pada saat itu lah aku berpapasan dengan anak kecil yang meminta dibelikan komik oleh Bundanya. Kebetulan memang rak buku yang kusinggahi tidak jauh dari rak komik anak-anak. Anak itu meminta dibelikan dengan nada memelas sekali atau dua kali. Bundanya berkata tidak dan pergi ke bagian rak buku yang lain. Anak itu mengikuti Bundanya. Kali ini ia meningkatkan nada berbicaranya sampai pada tahap merengek.

Aku kembali menolehkan pandanganku pada karya klasik Tolstoy, namun pendengaranku menangkap rengekan anak itu. Seketika hal ini mengingatkanku akan masa kecilku.

Dahulu sebelum aksara membuatku jatuh cinta, aku tertarik oleh visualisasi komik Tsubatsa. Aku pun dulu meminta pada Ibuku untuk dibelikan komik. Namun entah mantra apa yang Ibuku gunakan, aku tidak pernah merengek seperti anak ini meminta dibelikan komik oleh Bundanya.

Saat aku menginginkan sesuatu, aku berpikir puluhan kali. Di kepalaku berputar putar pertanyaan haruskah aku membeli buku ini? Jika banyak jawaban Ya (terkadang lebih banyak pula jawaban tidak) berkumpul di pikiranku, maka dengan hati hati aku menanyakannya pada Ibuku.

Kadang jawabannya menggembirakan, namun tidak jarang kata tidak yang Ibuku ucapkan. Saat penolakan itu terlontar, aku tidak meminta dibelikan dengan cara merengek. Dengan gerakan penuh kekalahan atas sebuah keinginan, aku meletakan komik atau terkadang novel, kembali ke tempat semula ia berada.

Hal ini mungkin terbawa sampai sekarang. Walau saat ini aku lebih sering sendiri tanpa Ibuku untuk pergi ke toko buku, aku masih berpikir keras untuk memilih buku yang ingin aku beli. Tentu aku menulis ini bukan untuk menyalahkan anak itu yang merengek pada Bundanya. Dengan melihat anak itu, membawa pikiranku kembali ke masa lalu. Di toko yang sama, meminta dibelikan oleh Ibu benda yang sama.

Keadaanku saat ini dengan anak kecil itu mungkin tidak jauh berbeda. Aku yang diakhir masa remaja berpikir keras untuk memilih buku yang dibeli dengan uang jajan yang pas pasan. Ia, seorang bocah yang merengek pada Bundanya untuk dibelikan komik yang diinginkan. Ya, aku merengek dalam hati kepada dompetku yang tipis sekali.


Aku berkeliling-keliling, singgah dari satu rak ke rak lainnya dan akhirnya menemukan buku memoar Murakami. Buku itu berada di kategori biografi tapi tidak tercantum di mesin pencarian. Aku membayar dan membawa pulang buku diari Murakami tentang berlari. Aku mendapat apa yang aku inginkan.

Saat aku menuruni tangga eskalator, sekilas aku melihat anak yang tadi merengek. Ia berjalan setengah berlari menuju meja kasir dengan senyum lebar sembari menenteng komik yang ia pinta dari Bundanya.

Orang-Orang Bloomington, Budi Darma

30137424
foto: goodreads.com

Kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington bercerita tentang sisi suram kehidupan. Mendeskripsikan tokoh-tokohnya dalam potret yang kelabu. Setelah selesai membaca tiap cerpen yang ditulis di buku ini, selalu membuat saya diam sejenak karena emosinya masih membekas di dada. Budi Darma menunjukan sisi kelam manusia dalam balutan masyarakat yang individualis.

Ia mengambil latar kehidupan di kota Bloomington, Indiana. Tempat di mana ia melakukan studinya di Amerika. fiksi yang dicertiakannya berdasarkan fakta yang ada di kota tersebut. Seperti yang pernah ditulis Eka Kurniawan, formula terbaik sastra selalu menyuguhkan kejadian sesungguhnya. Penggambaran akan jalan, perumahan, blok-blok pertokoan dan terutama emosi tokoh terproyeksi jelas di kepala saya. Dengan pengambilan sudut pandang orang pertama di tiap cerpennya, seakan membuat saya membaca kumpulan cerita personal dan terasa amat nyata.

Akhir-akhir ini saya sering membaca buku sastra Indonesia. Walau tak bisa dibilang spesial, sastra Indonesia punya rasanya tersendiri. Namun ketika membaca kumcer ini, saya seperti membaca terjemahan sastra asing. Bisa jadi ini karena latar tempat yang berada di Amerika tapi memang kumcer ini memiliki gaya penceritaan yang terasa seperti sastra asing yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Tokoh saya dalam buku ini punya satu gaya yang selalu sama tiap cerpennya yaitu mengamati dan terkadang menghakimi. Tokoh-tokoh seperti Joshua Karabish, Ny. Elberth & Charles Lebourne mempunyai karakter yang kompleks dan suram. Tidak ada kebahagiaan di tiap tokoh dalam cerpen ini. Pengecualian untuk Yorick yang mana justru emosi yang gelap ditunjukan oleh tokoh saya. Sebuah cerpen dengan judul Orez murni adalah cerita pengamatan tokoh saya terhadap anak anak yang bermain di lapangan apartemen.

Alasan saya mengambil buku ini di salah satu rak sastra Indonesia karena ada kata kata endorsment dari Eka Kurniawan di sampul depan. Terlebih juga ada testimoni dari Leila Chudori dan Agus Noor di belakang novel. Hal itu membuat saya memutuskan untuk membawa pulang buku ini. Sampul depan yang apik juga jadi salah satu alasan karena ilustrasi gambar atap-atap rumah di kota Bloomingtoon yang terlihat seperti latar tempat serial tv Hey Arnold

Karya ini adalah salah satu favorit saya dalam mengekspose sisi gelap manusia. Orang-Orang Bloomington adalah sebuah cerita kolektif akan muramnya kehidupan manusia.

Kartun Masa Kecil

Saya menyalakan televisi pada pukul 16.00 untuk melihat channel berita Indonesia. Channel televisi Indonesia jelek dari segi acara oleh karena itu saya hanya menonton channel berita Indonesia saja. Ya walau terkadang channel berita kita pun jadi alat propaganda pemiliknya yang ingin ikut berpolitik.  Bahkan akhir akhir ini saya hanya sering menonton CNN saja untuk channel berita Indonesia.

Seketika saya sadar, 10 tahun lalu, pada  sore atau bahkan agak lebih siang, saya sering menyalakan televisi untuk menonton kartun kartun dari Nickelodeon yang ditayangkan oleh televisi nasional. Saat itu entah TV One (yg saat itu masih bernama lativi) atau Global TV yang menyiarkannya.  Sejauh yang saya ingat, channel tersebut menyiarkan kartun kartun Nickelodeon dari jam 2 siang hingga 5 sore. Bahkan di pagi hari sebelum berangkat sekolah ada beberapa kartun yang disiarkan. Yang saya ingat kalau pagi mereka menyiarkan kartun Chalk Zone. Pada siang hingga sore harinya, ada kartun maraton mulai dari Rugrats, The wild thornberry’s, Cat and Dog, dan yang paling banyak penggemarnya yaitu, Spongebob Squarepants. Namun saya punya kartun favorit, bahkan mungkin hingga saat ini, yaitu Hey Arnold!

Hey Arnold adalah kisah seorang bocah berumur 10 tahun bernama Arnold yang hidup bersama kakek dan neneknya. Cerita kartun tersebut berkisar di kehidupan Arnold dan teman teman sekolahnya yang juga para tetangganya. Diantara teman temannya tersebut ada juga yang sering berkonflik dengannya seperti Helga yang mana di sisi lain juga mengagumi Arnold.

Hey Arnold menjadi kartun favorit saya karena selain gambarnya yang menarik, juga ceritanya yang berkisar di umur yang sama ketika saya menontonnya. Hey Arnold pun menjadi terlihat realistis bagi saya. Kartun, terutama bagi anak anak, dapat dibalut oleh cerita apapun. Dari Spons yang hidup di bawah laut hingga anjing dan kucing dalam satu tubuh yang sama. Namun bagi saya Hey Arnold menarik dari sisi realisnya.

Hey Arnold juga  yang mungkin saja membuat saya saat ini menjadi ketagihan menonton serial-serial semacam Louie yang berkisar di kehidupan sehari hari seseorang. Saya baru sadar ternyata panutan saya saat kecil bukanlah dari seseorang yang nyata tapi dari karakter seorang Arnold.

hey-arnold-hey-arnold-13820619-1037-648
foto: fanpop.com

Arnold digambarkan sebagai bocah 10 tahun yang bijak. Dia bukanlah pemimpin diantara teman temannya tapi dia menjadi seorang juru damai dan kadang berisikap berani. Ia memiliki seorang sahabat bernama Gerald, seorang afro america. Mungkin pembawaanya yang santai, tidak mengedepankan kekerasan, berani dan paling utama yaitu bersikap bijak yang membuat saya menjadikannya karakter favorit. Secara tidak sadar mungkin dulu saya ingin menjadi dirinya.

Saya tahu mungkin saat ini saya belum sampai pada titik dimana bisa mewujudkan karakter seorang Arnold, bocah berusia 10 tahun, untuk diri saya sendiri. Dan saya sadar, untuk ukuran anak berumur 10 tahun, Arnold sudah jauh lebih dewasa dibanding teman temannya.

Bercita cita menjadi seorang Arnold ketika SD dulu tentu bukan sesuatu yang salah. Setidaknya saya memimpikan menjadi seorang anak yang cinta damai dan bijak. Arnold adalah role model bagi saya dahulu. Saya cukup senang akan kenangan itu.

Sekarang jarang saya temui kartun kartun yang disiarkan oleh televisi Indonesia. Ya mungkin karena saya juga jarang menonton channel tv Indonesia. Saya bersyukur karena tontonan masa kecil saya menyenangkan dan mungkin tontonan tersebut lah yang membentuk selera dan karakter saya saat ini.

Thanks for the memory, Arnold and friends!

Ulasan Film Sound City

“We got a 2 inch tape down at the Sound City” 

sound-city
source: eastsidecamerala.com

Merekam lagu bagi seorang musisi adalah sebuah proses penciptaan karya yang memiliki seninya sendiri. Saat ini segala proses rekaman dilakukan secara digital. Namun  bagi musisi yang pernah merasakan rekaman secara analog, mereka memiliki sisi sentimentil terhadap proses rekaman tersebut. Sound City,  studio rekaman analog yang telah bangkrut dimakan teknologi mengisahkan sejarahnya lewat film dokumenter.

Ini adalah film yang dibuat oleh pentolan Foo Fighters yang juga mantan drummer band Nirvana, Dave Grohl. Pada film ini selain sebagai pencerita, Dave Grohl  juga bertindak sebagai sutradara debutan. Film dibuka dengan gambaran ia memasuki studio rekaman dan merekam dengan tape seperti yang dilakukan musisi jaman dahulu dan ia pun mulai merekam petikan gitarnya.

Bagian awal dari film ini bercerita tentang sejarah studio terkenal di San Fernando Valley. Di lembah urban Kalifornia yang penuh dengan gudang bobrok, terselip sebuah studio rekaman bernama Sound City. Sound City didirikan oleh Joe Gottfried and Tom Skeeter  yang bercita cita ingin menelurkan “the new beatles” agar mereka meraih kesuksesan finansial. Sound City dikenal akan board mixernya yang terkanal tajam dalam merekam suara drum.

Sejarah studio ini diceritakan cukup lengkap di film ini. Berawal dari tahun 1969, artis artis awal tahun 70an hingga 80an yang merekam lagunya di studio tersebut hingga karyawan yang bekerja di studio tersebut digambarkan dengan porsi yang pas.

Cerita berlanjut hingga teknologi Sounds Tool datang. Di sini lah sisi menariknya. Banyak para musisi yang tampil di dokumenter ini  menolak terhadap kemajuan teknologi rekaman. Ada argumen bahwa saat ini musisi tidak perlu berlatih untuk merekam lagu karena teknologi canggih bisa membuat suara yang sumbang menjadi terdengar sempurna. Musisi tahun 70an dan 80an yang merekam lagu di Sound City merasa bahwa proses rekaman secara  analog adalah cara menghasilkan karya yang memiliki jiwa. Kesalahan kesalahan musisi dalam merekam lagu justru adalah sebuah kesempurnaan yang justru ditunjukan dalam karya mereka.

  “In this age of technology, where you can simulate or manipulate anything, how we retain our human element? How do we keep music to sound like people. That feel when I got when I was young.” -Dave Grohl-

soundcity02
source: soundcitystudio.net

Saya tidak akan menceritakan babak babak akhir film ini karena anda harus menontonnya sendiri. Namun bagian pentingnya, ia membawa “jiwa” Sound City ke studio pribadinya.

Saya  merasa, Dave Grohl, yang merekam album Nevermindnya Nirvana di Sound City, membuat film ini dengan sepenuh hati. Film ini dibuat secara khusus  untuk menggambarkan perasaannya terhadap studio tersebut,  dan secara general pandangannya terhadap rekaman digital.