14:14

Pada celah di antara waktu itu, seekor kucing betina mengawasi kita

Teras berubin merah mengatup dan merekah, 3 buah pohon mangga dan pagar hitam depan rumah terlihat sedang bergelisah

Lantas Kau sapukan bekas tatapanku di matamu dan Aku hangatkan lagi sisa-sisa genggaman tanganmu siang itu

Pucuk dedaunan bahagia Kau tempatkan di beranda rumah. Memetiknya adalah cara memasuki hatimu yang lapang dan sederhana, seluas cakrawala dan seindah warna jingga yang dipilih semesta saat itu untuk menemani kita.

Iklan

Buku Bersampul Biru Bergambar Rumah Merah

Kadang-kadang ia terbangun di tengah malam dan menebak-nebak apakah kamu sedang tidur atau terjaga. Kadang kadang setelah bangun di tengah malam dan menebak nebak apakah kamu sedang tidur atau terjaga, ia merasa yakin kamu sedang terjaga meskipun pada pagi harinya kamu harus kembali bekerja. Kadang kadang setelah ia yakin kamu sedang terjaga ia membayangkan dirinya membacakan sebuah cerita pendek Raymond Carver untukmu. Kamu orang yg tidak menyukai cerpen, tetapi bisa jadi ia orang yg menyukai cerpen dan bisa menyukai orang yang tidak menyukai cerpen, dan bisa jadi kamu adalah orang yang mau mendengarkan orang yang menyukai cerpen sedang membacakan cerpen Raymond Carver untukmu, sebab kamu secara tidak sadar memahami, tidak memfavoritkan sesuatu berbeda sekali dari membencinya sehingga kamu tak akan keberatan mendengarkan orang yg membacakan cerpen, toh ia membacakannya untukmu, toh ada tidaknya cerpen itu, ada tidaknya pengarang bernama Raymond Carver, ada tidaknya seorang yg menyukai cerpen dan orang yang tidak menyukai cerpen tak berpengaruh bagimu. Barangkali, setiap malam.

Kamu lantas tidur tanpa pernah mendengar ia membacakan cerpen What We Talk About When We Talk About Love untukmu.

pasar malam

aku kira menjadi dewasa berarti memiliki hati serupa pasar malam yang tutup

sampai kulihat kau tersenyum dan tertawa,

dan jari-jari tanganmu yang kupuja berada dalam genggamanku

 

Ujung-ujung saraf pada telapak tanganku melepaskan udara yang hangat

serupa pelukan sepasang kekasih yang berpisah saat ujung senja di sebuah bandara

Pada saatnya nanti aku mengerti: kebahagiaan yang kucari hanyalah bianglala di belantara pasar malam yang kau kunjungi.

rindu yang bulat

Kepada dua  buah kursi kayu di teras merah sebuah rumah bernomor dua di depan lapangan komplek bina marga kebayoran lama, aku berkata bahwa:

Aku rindu nabila

dan hangat suaranya, dan sejuk senyumnya, dan rambut bergelombangnya, dan tatapan tajam matanya, dan lebar dahinya, dan bintik komedo di hidungnya, dan kumis tipis di atas bibirnya, dan lentik kukunya, dan jari-jari indahnya yang kupuja

Dan genggaman tangannya yang menerbitkan bahagia di dada, dan airmukanya selepas menonton film disney kesukaannya,

Dan lamban cara berjalannya, dan pilihan warna bajunya, dan motif kotak-kotak celananya, dan wangi parfumnya, dan pilihan mall favoritnya, dan kekhawatiran yang ada di pikirannya, dan kegiatan hariannya, dan ajaran pun anjuran dari ibunya, dan bunga-bunga tidurnya dan resolusi tahunannya, dan foto-foto lama di laman facebooknya dan percakapan tentang keluarganya,

dan aku rindu sebulat-bulatnya. Bulat serupa perkataan eyang kakung kepada dirinya.

Realise

I sit down under the branchless tree upon her terrace. Setting up my feelings and trying to contemplate what I don’t understand yet.
I finally walk down on the path to her door.
I knock once, I believe the tapping sounds is too low. So I knock twice. Still the response is silent.

I know it isn’t a sudden, though she always said it so, when the lightning strucks over and over again to my head. And breaking my chest into pieces.
It makes me wonder. It makes me regret. It makes her open the door for a while just to say shut the fuck up and blame the noise what we heard before as my fault.
It was me, I said to her. It was the sound of absolution. The confession. The thing that I’ll never do that again. Forever.

She just reply: take your loneliness away. And she shuts the door.

“Do you content with loneliness?” I asked her, yet the wind that only heard. Yeah I did too, as I responsed even she never heard my question before. Till I realise the only thing that missing is you, I added.

Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya, Haruki Murakami

 

1408338758-0590ec16c3e9391f62f9b85292c59665
source: kouzou.org

Tsukuru Tazaki memiliki teman dekat saat sma yg terdiri dari 5 org : 2 perempuan dan 3 lelaki termasuk dirinya. Tapi nyatanya saat kuliah, keempat teman dekatnya itu memutuskan untuk tidak menghubungi Tsukuru lagi selamanya. Alasan kenapa mereka memutus hubungan pun tanpa penjelasan. Dari satu bab ke bab lainnya, selain menggambarkan kesendirian seorang Tsukuru, sang tokoh juga pada akhirnya mencari jawaban atas alasan sahabat-sahabatnya meninggalkan dirinya.

Keempat teman dekat Tsukuru masing masing memiliki nama yang mengandung warna. Eri Kurono yang berwarna Hitam, Yuzuki Shirane yang berarti Putih, Kei Akamatsu yang memiliki arti Merah dan Yoshio Oumi yang berarti Biru Laut. Hanya Tsukuru yang tidak memiliki warna dalam arti namanya. Secara harfiah, namanya memiliki arti “membuat atau mendirikan sesuatu” yang mungkin selaras dengan pekerjaannya sebagai seorang arsitektur rel kereta api.

Novel ini adalah bentuk bildungsroman (coming of age) dalam jenisnya yang realis. Hal-hal realisme magis yang sangat Murakami menurut saya agak ditinggalkan di novel ini, selain tentu saja masih ada satu dua mimpi yang sangat menggambarkan ciri khas seorang Murakami. Ia mampu menggali secara dalam akan penggambaran tokohnya dan bagaimana ia menjelaskan mengenai kesendirian, masalah hidup yang menghantui tokoh utama dan menghadapi urusan masa lalu yang belum selesai.

Murakami juga masih asik bercerita tentang karakter seorang pria di umur 30an, single tapi tidak kesepian dan mimpi2 nan erotis dan sureal. Di balik kemampuannya menulis soal budaya populer, yang paling menarik untuk diangkat adalah cerita tentang tokoh-tokohnya dan bagaimana karakter mereka menggerakan plot yang dibangun. Seperti kebanyakan novel Murakami lainnya yg menyelipkan referensi musik, di novel ini dia memberikan “soundtrack” le mal du pays karya Franz Listz.

Dari sekian banyak (gak banyak-banyak bgt sih sebenernya) buku Murakami yg saya baca, yg ini adalah salah satu favorit karena ia menampilkan tokoh yg secara paradoksal, jika dilihat dari namanya, justru karakternya paling menonjol dibanding tokoh2 novelnya yg lain yaitu Tsukuru yang tanpa warna.

 

Ramadhan dalam sebuah catatan

Ramadhan tahun ini jatuh di pertengahan tahun. Saat matahari sedang asyik asyiknya menampakkan diri dan hujan sedikit malu untuk tampil di depan umum. Namun begitu, sekali dalam suatu waktu, langit mendung menggantung di atap kota Jakarta. Dan di antara cuaca yang lembut itu, aku menuliskan catatanku di sini. Jangan lah menduga bahwasanya tulisan ini akan menjadi semacam catatan amal ibadah selama bulan puasa karena sejujurnya aku bukan orang yang religius dan diriku lebih bejat dari kelihatannya.

Aku memandang Ramadhan adalah bulan yang berbeda dari bulan lainnya karena ada perubahan sedikit fase kehidupan terutama tentang pola makan. Segalanya menunggu untuk senja datang. Menjadi sedikit berbeda sekali dalam satu tahun itu pun ada baiknya, setidaknya hidup tidak berkutat terus menerus dalam kejenuhan.

Seperti tahun-tahun dan ramadhan-ramadhan yang lalu, segalanya berjalan sederhana dan biasa saja. Tidak banyak yang berubah di tahun ini, selain diriku yang telah mampu hidup mandiri secara ekonomi. Bulan Ramadhan kali ini aku habiskan sedikit lebih sepi dari hirup pikuk berbuka bersama teman, entah itu mantan teman kelas atau teman yang lebih tepat dikatakan kenalan.

Aku menghabiskan waktu menunggu senja jatuh dengan bermain sepakbola. Sudah terasa lama aku tidak bermain di lapangan besar. Kami, aku dan teman sepermainan, biasa memainkannya saat waktu menunjukkan pukul setengah 5 tepat sehingga menjelang Maghrib tidak terlalu terasa lamanya.

Kegiatanku selepas berbuka yaitu membaca buku satu atau dua jam dan melewati waktu malam dengan berlari sebentar. Melakukannya untuk beberapa kali awalnya terasa amat berat. 2 putaran lapangan sepak bola pun aku sudah kelelahan. Namun makin lama menjalankannya, setelah lari 3 atau 4 putaran aku merasa ringan dan segar. Adalah betul penelitian tentang berlari memberikan sedikit kebahagiaan.

Kesempatan untuk berbuka puasa bersama dengan sahabatku baru terjadi pada tanggal terakhir di bulan Mei. Aku sih menganggap mereka sahabat, entah apakah mereka menganggapku dengan hal yang sama atau tidak. Akhir-akhir ini aku baru sadar bahwa kebahagiaan juga bisa hadir lewat relasi pertemanan. Aku senang berkawan dengan mereka dan untuk hal ini, aku berharap agar mereka juga merasakan hal yang sama. Kami berbincang dan bersenda gurau tentang teman kami yang lainnya, kisah percintaan kami, hal-hal remeh yang boleh dibilang gosip tidak penting dan tentunya masing-masing dari kami saling bertukar kabar.

Terkadang di sela-sela perbincangan dan gelak tawa, pikiranku melompat jauh ke lima atau sepuluh tahun mendatang. Memikirkan sejauh mana persahabatan ini akan bertahan, siapa di antara kami yang perlahan mundur untuk pergi, bagaimana tiap-tiap dari kami akan bersikap dan sejauh apa takdir membawa hidup kami.

Menjelang akhir bulan Ramadhan, saat sebagian besar manusia kembali pulang dan berkumpul bersama keluarga, aku justru kembali bekerja. Tentunya ada saat-saat di mana aku merasakan stres dan rasa iri. Namun akan selalu ada dua sisi dalam setiap kejadian, bukan?

Yang menyenangkan saat bekerja menjelang lebaran adalah lengangnya jalanan Jakarta. Seperti ramadhan yang datang sekali dalam satu tahun, keadaan ini pun seperti itu. Jakarta saat lebaran bukanlah Jakarta yang aku kenal. Justru di saat lengang aku bisa merasakan jalanan Jakarta dan memandang hutan-hutan beton yang mengelilinginya. Entah mengapa semua pemandangan ini tertutupi saat kemacetan melanda. Padahal lebih banyak waktu yang dihabiskan di jalan.

Mendengarkan Nat King cole dan John Mayer saat melewati lancarnya tol dalam kota bisa dikategorikan sebagai sebuah bentuk wisata di Jakarta. Percayalah, kamu akan lebih menikmati alunan lagu dan liriknya dibanding saat kendaraan berhenti dan menghasilkan polusi.
Aku menutup catatan kecil ini dengan sedikit perasaan aneh yang sepertinya tidak bisa dijelaskan. Bekerja di akhir ramadhan dan awal lebaran, di saat yang lainnya berkumpul bersama keluarga mereka, ternyata menyenangkan juga.