Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya, Haruki Murakami

 

1408338758-0590ec16c3e9391f62f9b85292c59665
source: kouzou.org

Tsukuru Tazaki memiliki teman dekat saat sma yg terdiri dari 5 org : 2 perempuan dan 3 lelaki termasuk dirinya. Tapi nyatanya saat kuliah, keempat teman dekatnya itu memutuskan untuk tidak menghubungi Tsukuru lagi selamanya. Alasan kenapa mereka memutus hubungan pun tanpa penjelasan. Dari satu bab ke bab lainnya, selain menggambarkan kesendirian seorang Tsukuru, sang tokoh juga pada akhirnya mencari jawaban atas alasan sahabat-sahabatnya meninggalkan dirinya.

Keempat teman dekat Tsukuru masing masing memiliki nama yang mengandung warna. Eri Kurono yang berwarna Hitam, Yuzuki Shirane yang berarti Putih, Kei Akamatsu yang memiliki arti Merah dan Yoshio Oumi yang berarti Biru Laut. Hanya Tsukuru yang tidak memiliki warna dalam arti namanya. Secara harfiah, namanya memiliki arti “membuat atau mendirikan sesuatu” yang mungkin selaras dengan pekerjaannya sebagai seorang arsitektur rel kereta api.

Novel ini adalah bentuk bildungsroman (coming of age) dalam jenisnya yang realis. Hal-hal realisme magis yang sangat Murakami menurut saya agak ditinggalkan di novel ini, selain tentu saja masih ada satu dua mimpi yang sangat menggambarkan ciri khas seorang Murakami. Ia mampu menggali secara dalam akan penggambaran tokohnya dan bagaimana ia menjelaskan mengenai kesendirian, masalah hidup yang menghantui tokoh utama dan menghadapi urusan masa lalu yang belum selesai.

Murakami juga masih asik bercerita tentang karakter seorang pria di umur 30an, single tapi tidak kesepian dan mimpi2 nan erotis dan sureal. Di balik kemampuannya menulis soal budaya populer, yang paling menarik untuk diangkat adalah cerita tentang tokoh-tokohnya dan bagaimana karakter mereka menggerakan plot yang dibangun. Seperti kebanyakan novel Murakami lainnya yg menyelipkan referensi musik, di novel ini dia memberikan “soundtrack” le mal du pays karya Franz Listz.

Dari sekian banyak (gak banyak-banyak bgt sih sebenernya) buku Murakami yg saya baca, yg ini adalah salah satu favorit karena ia menampilkan tokoh yg secara paradoksal, jika dilihat dari namanya, justru karakternya paling menonjol dibanding tokoh2 novelnya yg lain yaitu Tsukuru yang tanpa warna.

 

Iklan

Ramadhan dalam sebuah catatan

Ramadhan tahun ini jatuh di pertengahan tahun. Saat matahari sedang asyik asyiknya menampakkan diri dan hujan sedikit malu untuk tampil di depan umum. Namun begitu, sekali dalam suatu waktu, langit mendung menggantung di atap kota Jakarta. Dan di antara cuaca yang lembut itu, aku menuliskan catatanku di sini. Jangan lah menduga bahwasanya tulisan ini akan menjadi semacam catatan amal ibadah selama bulan puasa karena sejujurnya aku bukan orang yang religius dan diriku lebih bejat dari kelihatannya.

Aku memandang Ramadhan adalah bulan yang berbeda dari bulan lainnya karena ada perubahan sedikit fase kehidupan terutama tentang pola makan. Segalanya menunggu untuk senja datang. Menjadi sedikit berbeda sekali dalam satu tahun itu pun ada baiknya, setidaknya hidup tidak berkutat terus menerus dalam kejenuhan.

Seperti tahun-tahun dan ramadhan-ramadhan yang lalu, segalanya berjalan sederhana dan biasa saja. Tidak banyak yang berubah di tahun ini, selain diriku yang telah mampu hidup mandiri secara ekonomi. Bulan Ramadhan kali ini aku habiskan sedikit lebih sepi dari hirup pikuk berbuka bersama teman, entah itu mantan teman kelas atau teman yang lebih tepat dikatakan kenalan.

Aku menghabiskan waktu menunggu senja jatuh dengan bermain sepakbola. Sudah terasa lama aku tidak bermain di lapangan besar. Kami, aku dan teman sepermainan, biasa memainkannya saat waktu menunjukkan pukul setengah 5 tepat sehingga menjelang Maghrib tidak terlalu terasa lamanya.

Kegiatanku selepas berbuka yaitu membaca buku satu atau dua jam dan melewati waktu malam dengan berlari sebentar. Melakukannya untuk beberapa kali awalnya terasa amat berat. 2 putaran lapangan sepak bola pun aku sudah kelelahan. Namun makin lama menjalankannya, setelah lari 3 atau 4 putaran aku merasa ringan dan segar. Adalah betul penelitian tentang berlari memberikan sedikit kebahagiaan.

Kesempatan untuk berbuka puasa bersama dengan sahabatku baru terjadi pada tanggal terakhir di bulan Mei. Aku sih menganggap mereka sahabat, entah apakah mereka menganggapku dengan hal yang sama atau tidak. Akhir-akhir ini aku baru sadar bahwa kebahagiaan juga bisa hadir lewat relasi pertemanan. Aku senang berkawan dengan mereka dan untuk hal ini, aku berharap agar mereka juga merasakan hal yang sama. Kami berbincang dan bersenda gurau tentang teman kami yang lainnya, kisah percintaan kami, hal-hal remeh yang boleh dibilang gosip tidak penting dan tentunya masing-masing dari kami saling bertukar kabar.

Terkadang di sela-sela perbincangan dan gelak tawa, pikiranku melompat jauh ke lima atau sepuluh tahun mendatang. Memikirkan sejauh mana persahabatan ini akan bertahan, siapa di antara kami yang perlahan mundur untuk pergi, bagaimana tiap-tiap dari kami akan bersikap dan sejauh apa takdir membawa hidup kami.

Menjelang akhir bulan Ramadhan, saat sebagian besar manusia kembali pulang dan berkumpul bersama keluarga, aku justru kembali bekerja. Tentunya ada saat-saat di mana aku merasakan stres dan rasa iri. Namun akan selalu ada dua sisi dalam setiap kejadian, bukan?

Yang menyenangkan saat bekerja menjelang lebaran adalah lengangnya jalanan Jakarta. Seperti ramadhan yang datang sekali dalam satu tahun, keadaan ini pun seperti itu. Jakarta saat lebaran bukanlah Jakarta yang aku kenal. Justru di saat lengang aku bisa merasakan jalanan Jakarta dan memandang hutan-hutan beton yang mengelilinginya. Entah mengapa semua pemandangan ini tertutupi saat kemacetan melanda. Padahal lebih banyak waktu yang dihabiskan di jalan.

Mendengarkan Nat King cole dan John Mayer saat melewati lancarnya tol dalam kota bisa dikategorikan sebagai sebuah bentuk wisata di Jakarta. Percayalah, kamu akan lebih menikmati alunan lagu dan liriknya dibanding saat kendaraan berhenti dan menghasilkan polusi.
Aku menutup catatan kecil ini dengan sedikit perasaan aneh yang sepertinya tidak bisa dijelaskan. Bekerja di akhir ramadhan dan awal lebaran, di saat yang lainnya berkumpul bersama keluarga mereka, ternyata menyenangkan juga.

 

Beauty and Sadness, Yasunari Kawabata

il_fullxfull-298606726

My first introduction with Japanese literature was a couple years ago. I still feel enchanted with the short story by Murakami  and I didn’t  know that Japanese could write beautifully. I was so blind. Turns out, the way Murakami tells his stories is an antithesis of what Japanese literature really is. They  have one specific fabulous novelist which apparently tell about the so-called “real” Japanese culture. So I googled it and comes the first Japanese Nobel prize awardee, Yasunari Kawabata. Without any doubt, I try my best to explore the Beauty and Sadness.

This is a delicate love story opens with a trip to kyoto and a journey into the past by Oki Toshio, a successful author. He travels to Kyoto to hear the New Year’s Eve Bells with his old lover, Otoko Ueno. Twenty years ago, at the age of fifteen, Otoko fell in love with Oki, who was married with a young son at the time of the affair. Otoko fell pregnant, but her baby was born prematurely only to die shortly after the birth. This made her mental down and tried to suicide. Her mother moved the family to Kyoto in an effort to put some distance between the two former lovers.

The narration back to the present : Otoko already has a girlfriend, in the explicit way this novel describe when she turns into lesbian, and Oki sold millions of copy of A Girl of Sixteen, A novel about his relationship with Otoko. Those 2 long decades never dimmed their love. However, their story turns into a destruction when Keiko, Otoko’s jealous girlfriend, disrupt their past love

The story goes between flashbacks from years ago and brief yet significant moments in the present. Kawabata’s prose has the feeling of painting but he leaves some scope for the reader to draw their own interpretation from the picture. It might be spoiler but this book left with the unanswered ending. In a way, this ending adds to the beauty of this poignant novella.

 

Three Billboard Outside Ebbing, Missouri. {contain spoilers}

threeposter

Seorang ibu yang anak gadisnya mati memutuskan untuk menyewa tiga papan iklan besar sebagai bentuk protes terhadap kepolisian kota Ebbing, dan kepada kepala polisi Bill lebih tepatnya, karena belum berhasil menangkap pembunuh anak gadisnya. Ibu itu bernama Mildrerd Hayes.

Kepala polisi Bill mendatangi Mildred dan berbicara bahwa dirinya memiliki penyakit kanker untuk meminta belas kasih Mildred namun ibu itu tak peduli. Berita mengenai papan iklan ini telah sampai ke media televisi dan membuat heboh seisi kota.

Bill memiliki bawahan bernama Jason yang temperamental, rasis dan sering memukul. Jason tinggal berdua dengan ibunya yang sudah cukup tua. Saat Bill bunuh diri karena kankernya semakin ganas, Jason menjadi marah dan memukuli pemilik usaha billboard karena membolehkan Mildred memasang iklan yang menghina atasannya.  Setelah itu Jason dikeluarkan dari kepolisian oleh seorang kepala polisi yang baru.

Jason menerima surat dari Bill yang berisi wejangan bahwa sesungguhnya Jason adalah pria yang baik dan jadilah polisi yang sabar dan penuh cinta. Saat ia membaca itu di kantor polisinya, Mildred yang kesal karena pemilik usaha billboard dipukuli oleh Jason, melempari kantor kepolisian dengan bom Molotov dan tanpa Mildred tahu bahwa ada Jason di dalam kantor.

Suatu ketika Jason sedang minum-minum di bar  ketika ia mendengar tentang seseorang  yang menyombongkan diri telah memerkosa wanita seksi. Ia segera menyelediki hal tersebut dan menghubungi Mildred.  Namun ternyata setelah melalui penyelidikan polisi, pembunuhnya bukan orang yang disangka oleh Jason.

Jason menelpon Mildred dan memutuskan unntuk pergi ke rumah si tersangka dan ingin main hakim sendiri. Namun saat mereka menaiki mobil, mereka menjadi tidak yakin akan rencana tersebut. Film berakhir di situ.

Film ini berkisah tentang rasa dendam dan benci. Kedua hal tersebut tidak akan membawa kita kemana mana selain daripada amarah yang tak berkesudahan. Hidup memang terlalu pedih untuk dijalani namun menyimpan dendam akan membuat hal tersebut menjadi jauh lebih pedih.

Di akhir cerita, penonton disuguhkan lewat perubahan sikap Jason dan cara Mildred berdamai dengan kasus kematian anak gadisnya yang tak terselesaikan. Berdamai dengan hidup itu sulit dan memang kita harus menerima segala rasa sakit lalu melepaskannya.

Pendalaman karakter yang luar biasa di film ini membuat saya tidak sungkan untuk membocorkan filmnya karena anda harus menonton sendiri bagaimana perubahan karakter dan penggambaran tentang manusia yang diselimuti rasa dendam akan mengajarkan kita satu atau dua hal penting tentang hidup.

Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta, Luis Sepulveda

IMG_20170808_211603

Antonio Jose Bolivar tinggal di sebuah gubuk kecil di daerah El Idilio, belantara hutan raya Amazon. Pak tua itu jatuh cinta dengan cerita cinta. Ia pandangi lekat-lekat kata demi kata dari buku yang ia baca. Buku yang berkisah tentang cerita cinta.

Walau kemampuan bacanya tidak seberapa, ia merasakan kata-kata yang demikian indahnya sampai kadang membuatnya lupa akan kebiadaban umat manusia. Manusia-manusia kulit putih yang mencari emas, ladang minyak, dan melacurkan keperawanan amazonnya. Belum lagi para pemburu macan kumbang yang mengusik semesta Amazonia dan menimbulkan kerisuhan di El Idilio tempat pak tua itu bermukim.

Pada bab pertama buku ini, penulis mengenalkan beberapa tokoh yang saya kira akan terus ada hingga akhir cerita. Namun cerita ini hanya terpusat, yang makin meruncing di bagian-bagian selanjutnya, pada tokoh Pak tua bernama Antonio Jose Bolivar. Diceritakan awal mula ia tinggal di El Idilio bersama beberapa penduduk, ketertarikannya akan novel cerita cinta dan tentu saja tentang hidupnya.

Saya baru sadar bahwa dengan alur penceritaan seperti itu, Luis Sepulveda membuat saya betah terus menerus membacanya. Inti novel ini sebenarnya dapat ditemukan di 1/4 bagian akhir novel namun Bab-bab awal novel ini membuat saya jatuh cnta dengan si pak tua yang membaca kisah cinta.

Novel ini bertema petualangan, yang tentu saja bisa dilihat dari sinopsis bukunya. Saya tidak begitu banyak membaca tema petualangan. Terakhir yang saya ingat mungkin harimau,harimaunya Mochtar Lubis, yang mana juga bercerita tentang pertarungan melawan hewan buas di tengah hutan rimba.

Luis Sepulveda pandai betul menceritakan tokoh-tokohnya dan alur cerita yang mengalir tenang namun menghanyutkan seperti sungai-sungai di Amazonia. Beberapa selipan humor membuat saya tertawa saat Antonio dan para temannya membicarakan tentang kota Venesia yang mereka baca dari novelnya Antonio. Ada juga humor gelap yang secara tepat muncul dalam beberapa adegan.

Novel pendek ini diterjemahkan dengan apik oleh Ronny Agustinus. Sangking bagusnya bahkan ada beberapa kosakata yang saya tidak tahu. Saya yakin sang penerjemah tidak hanya pandai berbahasa spanyol tapi juga memiliki perbendaharaan kata yang mumpuni. Saya juga pernah membaca terjemahan yang enak di buku Monster Kepala Seribu karya Laura Santullo. Buku itu diterjemahkan oleh Ratna Dyah Wulandari.

Di akhir novel,ada wawancara dengan Luis Sepulveda dan kaitan akan dirinya yang juga seorang aktivis politik. Bahkan wawancara ini pun tak kalah menarik dengan cerita novelnya. Saya berharap untuk membaca karya-karyanya lebih banyak.

Hobi Masa Muda

Hobi membaca itu sebenarnya cukup menyesakan. Membaca buku itu buang banyak waktu. Tidak ada jaminan juga kalau saya banyak baca akan ada pengaruh yang besar untuk hidup saya. Sejauh saya hidup, saya belum merasakan efek dari banyak membaca. Memang bolehlah dikata bahwasanya saya lumayan tahu banyak hal karena hobi saya ini.

Dibanding dengan teman sepermainan, pengetahuan akan budaya massa dan sastra saya lebih baik. Ini mungkin juga saya yang sok paling tahu atau saya salah berteman.

Namun selebihnya, saya tidak mendapat efek apa-apa dari banyak membaca selain kepuasan diri saja. Membaca membawa saya menuju sebuah realitas yang baru. Sebuah eskapisme dari realitas yang saya jalani. Karena juga pada dasarnya saya menyukai kata-kata, itu menjadi dorongan terbesar saya untuk terus membunuh waktu dengan membaca.

Tidak selamanya membaca itu menyenangkan. Sekali duakali saya menemukan buku yang tidak saya selesaikan. Mungkin sinopsisnya menarik untuk dibaca tapi ternyata isinya mengecewakan bagi saya. Saat membaca buku yang seperti itu, saya lebih sering istirahat untuk membaca dan melamun untuk waktu yang lama sambil memegang buku yang saya baca.

Hingga saat ini, tulisan saya nyaris rendah sekali mutunya. Banyak baca katanya akan meningkatkan mutu menulis kita. Tapi nyatanya tulisan saya masih serupa dengan pengeran si buruk rupa dari dongeng la belle et la bête. Atau mungkin saja bacaan saya kurang banyak dan kurang luas(ini kemungkinan paling besar tentunya).

Saya sepertinya juga harus mendisiplinkan diri sendiri. Saya harus membuat sedikit catatan membaca. Ini dikarenakan sebagian besar buku yang saya baca, saya lupa beberapa bagiannya. Bahkan saya lupa bagian mana dari buku-buku itu yang saya suka.

Saya pernah membaca sebuah esai dari Aan Mansyur tentang tidak enaknya punya hobi membaca buku (yang saya lagi-lagi lupa beberapa alasannya). Saya rasa hal tersebut cukup relevan dengan keadaan saya.

Seringkali saya menimbang-nimbang dan berimaji, ketika tua nanti, apakah saya akan menyesali hobi masa muda saya ini?

Pamer Gambar

Yang paling ditunggu di bulan Juli ini selain War for the Planet of  The Apes adalah Dunkirk.  Dunkirk adalah sebuah film karya sutradara Christopher Nolan.  Menarik untuk melihat pertama kalinya Nolan mengarahkan film perang. Dunkirk adalah sebuah kota di pinggir utara Perancis yang bebatasan langsung dengan Belgia dan Selat Inggris. Kota itu menjadi tempat terakhir tentara sekutu untuk kabur dari serangan tentara Jerman. Film ini menceritakan tentang misi penyelamatan ratusan ribu tentara Inggris dan Perancis dari kota tersebut.   Nolan tidak mengambil tema macam cerita perang lainnya yang sebagian besar tentang kemenangan, karena evakuasi para tentara ketanah airnya kali ini diartikan sebagai sebuah kekalahan.

Sebagian besar film mengambil gambar di pantai yang berbatasan langsung dengan selat Inggris.  Penceritaan dibagi menjadi tiga tempat dan waktu yang berbeda. Di darat atau lebih tepatnya di dermaga, di laut, dan di udara. Masing masing tempat diwakili oleh satu atau beberapa karakter. Contohnya di laut, bercerita tentang seorang ayah dan anak remajanya, beserta pelaut sipil lainnya, berlayar dengan kapal feri biasa untuk pergi menyelamatkan para tentara Inggris di pantai Dunkirk atas himbauan dari Angkatan Laut Inggris.  Di udara, dikisahkan dua orang pilot tempur berusaha mengejar pesawat tempur Jerman yang ingin menebom kapal-kapal evakuasi tentara di dermaga. Kisah ini diceritakan dalam kurun waktu satu jam.

Di dermaga, bercerita tentang seorang tentara Inggris bernama Tommy yang mengerahkan segala usahanya untuk bisa pulang ke Inggris karena musuh sudah berada di ujung kota Dunkirk dan siap menghabisi tentara yang berada di pantai. Pada bagian ini dikisahkan dalam kurun waktu sehari. Ketiga bagian cerita itu pada akhirnya bertemu di akhir film. Sudah bisa ditebak memang, tapi ada beberapa bagian yang membuat film ini menjadi menarik untuk ditonton.

Saya menyarankan untuk menonton di IMAX. Saya pernah membaca bahwa Nolan merekam film ini dengan camera khusus untuk IMAX. Entah itu benar atau tidak, saya seperti kebanyakan warganet yang tidak budiman, hanya membaca sekelebat saja. Namun dari sisi gambar dan suara, film ini pantas untuk disaksikan di layar IMAX. Awalnya saya sedikit pusing karena kamera bergerak secara kasar seperti dipegang dengan tangan namun setelah beberapa waktu pergerakan kamera menjadi lebih halus seperti film pada umumnya.

Ada beberapa pengambilan gambar yang menarik seperti ketika adegan di udara dan pesawat meliuk liuk disertai dengan desiran peluru. Saya rasa Nolan beserta DOPnya berhasil membuat saya terkagum dengan gambar yang ditampilkan. Hans Zimmer, sang pengarah suara, seperti biasanya selalu menyajikan musik pengiring yang pas di setiap adegan terutama di bagian akhir film.

Namun tidak seperti film Nolan lainnya yang punya kekuatan penceritaan yang mumpuni, kali ini saya merasa film Dunkirk biasa saja. Mungkin karena itu durasi film ini menjadi film paling pendek yang pernah dibuat oleh Nolan. Walaupun begitu Nolan kali ini tidak menonjolkan cara berceritanya, namun ia mungkin ingin pamer gambar. Karena film tidak hanya sekedar aspek cerita, bukan?