Bulan: Juli 2014

Hapuskan Pulang Kampung

Mudik atau pulang kampung adalah ketika perantau kembali pulang ke ke kampung halaman dan terutama terjadi pada saat menjelang lebaran untuk bersilaturahmi dengan keluarga. Pulang kampung adalah sebuah tradisi di Indonesia. Di beberapa negara seperti Tiongkok pernah saya baca ada juga tradisi seperti ini. Tradisi mudik ini sudah terjadi sejak lama.

Pulang kampung pada saat lebaran ini terjadi secara besar-besaran.Dampak dari banyaknya para pemudik ini adalah lonjakan penumpang transportasi umum dan pribadi.  Meningkatnya lonjakan penumpang juga berbanding lurus dengan tingginya angka kecelakaan. Selain itu perjuangan untuk mendapat tiket kereta, bus, kapal laut maupun pesawat juga harus dilakukan jauh-jauh hari bahkan berbulan bulan sebelumnya. Namun semua itu terbayar ketika mereka bertemu kembali keluarga mereka di kampung halaman.

Saya kurang setuju dengan tradisi pulang kampung. Menurut pandangan saya kita harusnya menghapus tradisi pulang kampung akbar seperti ini. Pulang kampung terjadi karena para perantau kembali ke kampung halaman mereka. Perantauan terjadi karena seseorang merasa dirinya ingin mencari penghidupan yang lebih baik maka dari itu mereka ke kota kota besar dan dampaknya ketika terjadi libur lebaran seperti ini mereka melakukan pulang kampung secara akbar.

Seharusnya pemerintah mampu melakukan pemerataan baik itu dari sisi ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lainnya sehingga tidak perlulah seseorang merantau ke kota besar untuk mendapat penghidupan yang lebih baik. Mungkin pemerintah sebaiknya merencanakan program penghapusan pulang kampung sehingga setiap orang bisa tinggal di kampung halamannya masing masing tanpa harus merantau dikarenakan kehidupan yang kurang layak dikampungnya. Maksudnya adalah pemerintah melakukan pemerataan di berbagai sektor  sehingga dapat membuat rakyat sejahtera di kampungnya.

Terlepas dari apakah merantau itu sebuah tradisi dari satu daerah tertentu, seseorang pastilah lebih nyaman tinggal di kampung halamannya sendiri. Jadi, dengan adanya pemerataan di berbagai sektor suatu saat nanti, entah berapa puluh tahun lagi, mungkin tradisi pulang kampung secara besar-besaran  akan luntur dengan sendirinya.

Iklan

Gak akan ada habisnya

Dulu si dia bilang menang pilpres.

Riuh hitung cepat, sang lawan juga mengklaim mereka lah yang menang.

Lantas si dia menunggu hasil resmi dari KPU dan bilang percaya dengan lembaga tersebut.

Setelah itu, wawancara dengan media asing, si dia bilang kalah bukan lah opsi (lho??)

Akhirnya KPU mengumumkan hasil perebutan kekuasaan.

Sang lawan mendapat kuasa memimpin negri.

 

Si dia menolak hasilnya.

Menyatakan mundur dari rekapitulasi katanya.

Membawa bawa nama Tuhan umat muslim pula..

 

Kini si dia mengajukan banding ke MK

Gugatannya diterima

Katanya banyak kecurangan rekapitulasi suara

 

Mari  kita lihat dan awasi saja

Namun jika..

Namun jika tidak berbeda putusan KPU dan MK

Yang mana Capres nomer urut dua pemenangnya..

Dan dia tidak dapat kuasa memimpin negara..

Semoga saja si dia menerima hasilnya

Karena kalau tidak..

Maka hal ini tidak akan ada habisnya..

 

Rima tambahan :

Si dia..

Mirip koba…

hahahahahaha