Bulan: Desember 2014

Tuhan bertuhan

Karena kamu adalah kepura-puraan
Bagai puisi tentang kesunyian.
Karena aku adalah kepura-puraan
Bagai jiwa dalam kesendirian penuh keramaian.

 

Karena kita sedang berpura-pura

Menyembah tuhan yang berketuhanan.

Iklan

Menghapus Historical Malpractice : Hari sejarah Indonesia

Museum Pengkhianatan PKI

Dulu ketika masih kecil, saya bercita-cita ingiin menjadi sejarawan yang merenovasi gedung dan museum ini.  Museum yang dibuat bukan atas dasar sejarah kebenaran namun kepentingan dan doktrinisasi oleh penguasa.  Saya ingin menulis ulang sejarah secara ilmiah dan mengesampingkan segala kepentingan.  Menuliskan sejarah atas dasar kebenaran.

Sebagai seorang sejarawan, sejarah haruslah ditulis apa adanya sebgaimana fakta kejadian. Namun museum ini tidaklah begitu apa adanya. Seharusnya museum pengkhianatan PKI tidaklah sepenuhnya berisi diorama  PKI sebagai pelaku tindak kekerasan atau mungkin pengkhianatan.  Fakta sejarah yang haruslah diungkap dan ditulis ulang kembali atau bahkan dibuatkan dioramanya di dalam museum  adalah efeknya terhadap keluarga yang diduga komunis, para eks tapol dan para eksil politik. Mereka adalah korban yang dikhianati hak asasinya oleh pemerintah, masyarakat umum dan terutama golongan penguasa yang mendoktrin PKI sebagai pengkhianat.

Ini adalah sebuah proyeksi sejarah. Dimana mereka yang menuliskan sejarah (re: orba) membuat seakan-akan PKI lah yang mengkhianati negara namun faktanya mereka (re: orba) juga melakukan pengkhianatan terhadap negara pula. Yang amat sulit dilakuan adalah menelusuri  dan menulis kembali  sejarah rusuh-rusuh 65 dan dampaknya terhadap seluruh masyarakat Indonesia.

Kita sudah didoktrin terlalu lama oleh golongan penguasa orba. Sehingga menelusuri dan mengulang kembali penulisan sejarah kejahatan 65 ini bagaikan mengurai benang yang sudah terlalu kusut.

Ketika masih kecil,dahulu..

Saya bercita –cita ingin menghapus historical malpractice atau malpraktik sejarah dan menulis kembali sejarah atas dasar kebenaran…

Memperingati hari sejarah Indonesia. 14 Desember.

an average joe

Introducing Crane. Arthur Winston Crane. He is living in the world of appraisal achievement. He lives in the cold war of fame. The circumstances which society pursue is needs of fourth level on Maslow hierarchy. Surrounding by complement and rejection of differences despite it still exist.

Crane works as a journo in political media. Some of the task just writing about things. Writing in politics and it’s leverage on society. He fed up bear the tasks. What he always knows for his life is only about finishing the tasks. But he is not forget his dreams. In this world where achievement works as assessment, the dreams are flames. To achieve it, take action! like one of the many Crane dislike person said.

What has he suppose to do when he is just a daydreamer? Take action is nothing but a series of attempt to make it happens. What Crane does just nothing unless dreaming it. But dreaming is necessity. Dreaming is hope. Hope for something that always hang up in the clouds of happiness but never descend down and become real.

He sees a chance to become someone which count in society. But threat comes up like a postman delivering important mail. His eyeswatch always scan his feelings. He only feel emptiness every time the eyeswatch sees him. He is afraid to rebel. A very first dream of him is rebellion. That’s his very first dream.

He collects the braveness of self independently and reckons the idea of sustainability of his life after he releases himself from the eyeswatch. In spotlight of independence, he liberates from the black dark night of eyeswatch.

He run away with empty happiness. After two or three, he pull over. Checking the baggage and drink some water. He needs to fulfill his heart with a feeling. Any kind of feeling. The anger, love, hate, or anything that contains of feeling. He tries to walk again and does the things what society would remember him.

After contemplating for a while, he knows that he was nothing but just an average joe after all.