Bulan: Mei 2015

Fiksi Satire: Buku Bersampul Coklat

Andy & Yoko // Engaged in NYC

Eyes that last I saw in tears
Through division
Here in death’s dream kingdom
The golden vision reappears
I see the eyes but not the tears
This is my affliction 

Arthur terus membaca bait pertama  puisi tersebut berulang ulang.  T.S Eliot, penyair asal St. Louis favoritnya. Betapa ia dapat merasakan kesedihan seorang pria dalam puisi tersebut. Setidaknya kesedihan adalah yang dia tafsirkan pada puisi tersebut. Kesedihan tentang seseorang yang kehilangan orang yang dicintainya.

Bel yang tergantung di pintu masuk berbunyi.

Sekejap pandangan dan konsentrasinya teralih pada perempuan yang baru saja membuka pintu kafe dan menuju ke bagian kasir.

 “Saya pesan Hot Espresso Mocha ya.” 

“Oke baik, Mbak”

Lalu perempuan itu mengalihkan pandangannya ke meja-meja dan bangku kosong untuk dia duduk. Ia menuju meja pojok kafe. Di meja pojok dalam sebuah kafe kopi sederhana itu, ia membaca dengan sedikit senyum menghiasi bibirnya. Satu dua kali perempuan itu tertawa dengan tetap menjaga keanggunannya.  Arthur mencoba untuk menerka-nerka judul buku dibalik sampul coklat tersebut. Tidak seperti buku biasanya, buku itu disampul coklat seperti siswa SD menyampul buku tulis mereka.  Arthur yakin perempuan itu bukanlah pembaca buku humor-humor kacangan atau humor sms lucu. Buku itu cukup tebal untuk sebuah buku yang berisi sms sms lucu pikirnya.

Arthur menoleh  beberapa kali lagi. Tanpa persiapan untuk saling  pandang, perempuan itu melihat ke arah Arthur. Pandangan mereka bertemu ketika Arthur melihat buku perempuan tersebut dan perempuan tersebut  melihat ke arah Arthur. Dua detik durasi saling pandang tersebut terjadi. Perempuan itu hanya mengangguk kaku ke arah  Arthur dan Arthur pun sebentar terdiam dan menyinggungkan senyum. Arthur malu karena perempuan itu tahu ia menoleh ke arahnya.

Kini Arthur kembali fokus pada buku bacaannya, T.S. Eliot: Collected Poems. Setelah dia selesai membaca berulang ulang bait pertama, dia beralih kebait kedua puisi tersebut..

“T.S. Eliot, ya? Menarik juga bacaanmu.” Tiba tiba perempuan itu menghampiri dan memulai pembicaraan.

Arthur cukup kaget ketika ia menengadah ke atas dan melihat perempuan itu memandang buku yang dibaca olehnya. “ Oh iya betul” Arthur hanya tersenyum kaku memandang perempuan itu.

Perempuan itu menghampiri meja Arthur yang menghadap ke kaca luar jalanan.

“Kau boleh duduk jika berkenan.”  Kata Arthur.

“Oh, kau tidak sedang menunggu seseorang?”

“Bahkan jika aku sedang menunggu seseorang pun, kau tetap kupersilahkan duduk disini.”

Perempuan itu tersenyum simpul lalu duduk.

“Kenapa kau menatapku?” Tanya perempuan itu.

Arthur heran dan kaget. Tidak pernah ada perempuan sejelas dan seberani  ini dalam bertanya kepadanya.

“Well, aku hanya tertarik tentang buku bersampul coklat itu, aku rasa.” Tentu saja dia tidak hanya tertarik tentang buku itu.

“Apa kau tidak pernah melihat buku bersampul coklat sebelumnya?” 

“Pernah ketika SD dahulu. Bahkan aku pun menyampul buku dengan sampul itu.”

“Lantas?”

“Ya aku hanya heran saja mengenai novel yang disampul seperti itu.”

Perempuan itu tersenyum lebar dan sedikit tertawa.

“Ini adalah identitas dari klub buku kamI.”

“Marina! Hot Esspresso Mocha, ready!” Panggil seorang barista.

Minumannya sudah tersedia dan dia segera  beranjak mengambil kopinya. Arthur terus memandangi perempuan manis itu dengan seksama hingga perempuan itu duduk kembali di meja Arthur.

“Aku Arthur, Marina!” Ucapnya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.

“Nama yang bagus, Marina.” Ucapnya lagi.

Perempuan itu bersalaman dengan Arthur dan berkata,” Sesungguhnya itu bukan nama asliku,” katanya sambil tesenyum.

“Jadi kamu tidak memesan atas nama asli?”

“Tidak pernah. Dan siapa peduli juga kamu memesan dengan nama apapun pun tetap akan dipanggil,” jawab perempuan itu.

Artur heran dan mencoba mengalihkan ke pembicaraan awal.

“Jadi kau tergabung dalam klub buku?” tanya Arthur.

“Ini adalah semacam identitas bagi kami ketika sedang membaca buku yang kami pilih untuk dibaca. Ketika kami selesai membacanya, kami kirimkan buku ini ke perpustakan untuk disumbangkan, namun tetap meminta jangan pernah dibuka sampul coklatnya,” jawabnya tanpa menjawab pertanyaan Arthur.

“Jadi, hanya untuk sebagai identitas saja kah?” tanya Arthur kembali.

“ Memang keindahan buku terletak pula dari sampul yang menghiasinya, namun kami percaya dengan kalimat “jangan melihat buku dari sampulnya” secara harfiah hahaha,” katanya tertawa lebar.

“Aku serius, omong-omong,” lanjutnya lagi.

“Aku ingin mencoba untuk berpikir dan menelaah buku-buku dari isinya, bukan langsung menilai dari sampulnya saja, oleh karena itu aku menyampulnya. Selain itu tidak melihat sampulnya membuatmu bertanya tanya bukan sehingga kita bisa memulai percakapan?” ia tersenyum.

“Cukup filosofis juga ternyata klub bukumu,” jawab Arthur sambil tersenyum juga.

“Jadi apa yang sedang kau baca?” tanya Arthur kembali.

“Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas.”

“Menarik juga judulnya, karangan siapa?” tanya Arthur.

“Eka Kurniawan. Kau tidak akan pernah percaya dengan sampul luarnya. Jika aku merobek sampul coklat ini yang kau lihat adalah sampul buku yang indah dan aku yakin persepsimu ketika melihat sampul buku ini dan ketika membaca tentang buku ini jelas akan berbeda,” jawabnya sambil tersenyum.

“Menarik dan itu jelas membuatku penasaran haha,” ucap Arthur.

“Buku apa saja yang sedang hangat kalian perbincangkan?” tanya Arthur.

“Kami belakangan ini tidak sedang berbincang mengenai buku, namun mengenai album Jazz lama dari T. Monk, Straight, No Chaser” Jawabnya.

“Mengapa kalian berbicara musik?”

“Karena klub buku tidak harus berbicara mengenai buku secara terus menerus, bukan?” jawabnya tersenyum manis.

“Omong-omong, perbincangan musik kalian hipster ya hahaha” kata Arthur.

“Sesungguhnya tidak. Selera sesorang, dalam hal apapun dari musik hingga makanan sereal, tidak menggambarkan apakah ia hipster atau tidak. Walau sebenarnya itulah yang tergambar di masyarakat.

“Jika kita menyetarakan segala jenis musik, aku rasa itu lebih baik. Musik untuk dinikmati bukan untuk di buat sebuah hirarki,” Ia menambahkan.

Arthur hanya tersenyum mendengarnya.

“Darimana kau mendapat pemikiran itu?  Klub bukumu?,” Arthur kembali bertanya.

“Haha kau percaya klub buku bersampul coklat itu ada? Itu hanya semacam utopia,” katanya sambil kembali membaca buku Eka Kurniawan.

Matraman, Mei 2015.

photo source: elizabethannedesigns.com

Iklan

Fiction: The Tales in Our Boxes

royal tenenbaums

The rain pouring hard out there. Its been  two days since we sit together, get cups of tea and share stories. Well, I am just thinking out loud.

Clarie, the girl who is next to me is the girl who I share the stories with. A blond and good looking girl. Speaking English mostly and France occasionally.

We smile and talk. Sometimes when the rain stops, we went out and walked without direction.  Blocks by blocks but still talked. We were the fleneur of this town. As we passed the gallery, we came in and without interpretation, we smile to the paint that we love and gazed it like that was the last beautiful moment that we saw. If we back to reality, we walked to the central park and sat near Dam Lake. Sharing stories as usual we did and smiles.

And today is the last day we share the moment together. All I wanna do just rewind the two days back.  Moments that will last for decades.

“I love sharing stories with you. I really do.” I said.

She just glance at me and sip the jasmine tea. I am looking through the pouring rain.

“You know, those are the stray stories that we write. We barely edit those words, not even once,  since we are not editor. We are the story tellers. The story tellers of our stories. We create what we own.” Clarie said.  “ I  will always remember what you told me and what I told you.” She added.

“I know that it will last longer in me than you. I think this feeling is hard to tell. I got works to done but you are the embellish of my last 2 days. Thank you so much.” I speak slowly.

“Some of the best moment will last forever if we leave in peak moment. Keep the best for the rest. It is probably the best of our time.”

“I always wanted to tell you those stories but I don’t have time. For this beautiful 2 days, I thank God to tell you the all of me.”

She hold my hand gently and said  “It is ok if you just tell me now or 20 years ago. It is  still the same way. You and I just tell the stories of us. I don’t regret every moment that has been passed by.”

I begin to remember our conversation under the apple tree and the way we sat below there, back then when we were kids.

My reminiscence fading and I’m looking into her eyes very deeply and I just wanna say those beautiful words that always pull my heart out.

“Don’t say those words, please!” She reads my mind. “Don’t ruin this moment with those words. Please don’t. I know you and I feel the same way but we can’t say those words. Just keep it in our hearts.” She interrupted.

“I think this is the last time we can say hi and talk to each other.” She said.

I know this could be our first meeting  2 days ago and could be our last conversation for the rest of our life.

“I need to get a train before night comes. Take care of yourself and keep the tales in our boxes.” She put her hands in my chest and her chest while she stands up.

I’m still looking into her when she walk away into the street to the station even until she fade away.

I’m still looking into her. Into Clarie.

I know time calls me to get back to reality when I leave  the tea cafe, the phone rings and the appearance of my wife’s number on the screen. She probably wonders where the hell I were for 2 days.

photosource: pinterest.com

Tiada

Karena aku menulis dalam senyap
Dengan kata yang tidak bisa apa-apa

Sejauh jauhnya aku berbicara, menulis dan pesan ini tak akan jauh kemana
Selain kediaman yg kudapat.

Karena aku menulis dalam senyap.
Tidak ada yang tahu aku ada. Pada relung gelap dibawah meja kotor tanpa cahaya
Tidak terlihat

Aku adalah diriku ketika tak ada satu pun yg melihatku
Aku ada ketika matahari diam dalam renungan

Tapi ketiadaanku ada ketika mereka mendeskripsikan bahwa

Aku ada.