Bulan: September 2015

Maldini dan Curva Sud yang Lupa

maldini

Akhir dekade 90an hingga awal tahun 2000an, dunia mengenal sosoknya sebagai pemimpin di lapangan sekaligus bek tangguh dunia. Tiada yang menyangkal dirinya di tempatkan sebagai salah satu pemain bertahan yang sulit dilewati penyerang lawan. Diidolakan tidak hanya dari klub asalnya namun juga kawan rivalnya, Ronaldo pernah memujinya sewaktu bermain di Inter Milan, membuatnya menjadi legenda sepak bola. Dialah Paolo Cesare Maldini.

Lahir pada 26 Juni 1968 dan memulai debutnya secara sukses pada usia 16 tahun tidak serta merta menutup karirnya pada tahun 2009  secara sukses pula. Tidak ada gelar pada tahun terakhirnya, tidak masuk liga champions pada tahun tersebut dan pada hari terakhir dia bermain pun tidak ada penghormatan besar dari ultras klubnya terhadap dirinya yang telah berjasa memberikan gelar demi gelar bagi Ac Milan.

Seumur hidupnya, Maldini hanya membela satu klub. Milan adalah cinta pertama dan terakhirnya. Ketika ayahnya, Cesare Maldini, yang juga adalah seorang legenda Milan, bertanya kepada Maldini kecil tentang keinginannya bermain di akademi sepakbola, jawaban pertama dan pasti adalah akademi klub Ac Milan. Walaupun ayahnya memberikan ia kebebasan dalam memilih akademi yang diinginkan namun Maldini dengan mantap tetap milih menjadi rossonero.

Tumbuh besar di akademi Milan dan cukup sukses berperan di level senior membuatnya menjadi kapten Milan menggantikan Franco Baresi pada tahun 1997. Menjabatnya ia menjadi kapten membuka keran gelar yang deras ke San Siro. Sebut saja juara Serie A 2004, Juara liga champions 2003 dan 2007 dan gelar piala dunia antar klub 2007 adalah beberapa gelar juara yang diberikan ayah dari Cristian Maldini tersebut bagi Ac Milan.

Namun gelar-gelar, pencapaian  dan karir luar biasa yang dituturkan di atas seakan pudar bagi para ultras Milan di sudut selatan tribun San Siro sana. Senja karir yang dilalui pemain bernomor punggung 3 tersebut dirusak tidak hormat oleh Ultras Curva Sud. Seharusnya penghormatan besar menjadi tema utama pada pertandingan terakhirnya, seharusnya ada jersey besar bernomor punggung 3 dibentangkan dan seharusnya lagu lagu kehormatan dinyanyikan untuk dirinya. Kenyataannya segala hal tersebut tidak dilakukan oleh para pendukung di tribun selatan sana.

Para Curva Sud justru mengumandangkan nama kapten Ac Milan sebelum Maldini menjabat  dan membentangkan jerseynya, yaitu Franco Baresi.  Nomor punggung 6 tersebut berkibar bagi para pendukung yang berada di Curva Sud.

Peribahasa bagi nila setitik rusak susu sebelanga sepertinya berlaku bagi Maldini. Kejadian yang membuatnya tidak disukai Ultras Milan adalah ketika tahun 2005 pada final liga champion penuh drama tersebut,  Curva Sud menjual sisa jatah tiket mereka kepada pendukung klub rival, Liverpool, dengan harga yang jauh lebih mahal. Bagi Maldini, seharusnya tiket tiket itu dijual kepada pendukung Milan lainnya bagi yang belum mendapat tiket dengan harga sama. Maldini melihat bahwa Curva Sud hanya ultras yang mata duitan.

Dengan kejadian itu sebagai salah satu pemicu kemarahan ultras, membuatnya  dianggap tak pantas dihormati di hari terakhirnya sebagai pemain. Para curva sud seakan lupa dengan puluhan gelar yang telah diberikan Maldini kepada Ac Milan.

Hal ini mengingatkan saya dengan buku karangan Milan Kundera berjudul Kitab Lupa dan Gelak Tawa. Dalam novel ini Kundera seakan bertutur bahwa informasi yang bertubi-tubi mengenai berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita membuat kita gampang lupa dengan masa lalu kita.

Kundera mengangkat tema Lupa yang berkaitan dengan berkurangnya ingatan kolektif suatu masyarakat akan masa lalunya.  Di dalam novel itu, ia mengambarkan mengenai sosok Vladimir Clementis, yang berjuang bersama pemimpin komunis Cekoslowakia, Klement Gottwald, dan tentang penghapusan foto dirinya di samping Gottwald karena dituduh melakukan tindakan penghianatan terhadap negara.

Awalnya, foto masyhur  tersebut mengabadikan Gottwald berpidato dan topi yang dipakainya merupakan pemberian dari Clementis, dimana Clementis berdiri di samping Gottwald, tersebar dan diingat oleh siapapun yang ada di Cekoslowakia. Namun semenjak Clementis dituduh melakukan tindak penghianatan negara, foto dirinya dihapus oleh seksi propaganda negara Cekoslowakia dan meninggalkan Gottwald berpidato tanpa Clementis di sampingnya.

Saya berharap curva sud bukanlah seperti pemerintahan totaliter Cekoslowakia yang menghapus eksistensi para pahlawannya. Untuk pemain sebesar Maldini, penghormatan adalah sesuatu yang layak atau setidaknya mengingat jasanya adalah sebuah keharusan. Maldini bahkan tidak mendapat tempat di jajaran manajemen Ac Milan hingga kini.

Tulisan pada paragraf paragraf awal tadi secara khusus saya tunjukan kepada haribaan para curva sud milano di Italia sana, jika kalian bisa mengerti bahasa Indonesia, untuk mengingatkan kembali kebesaran Maldini yang seharusnya tetap diingat oleh para Milanisti seluruh dunia dimanapun ia berada. Saya berharap agar anda, para curva sud  yang lupa, tidak  lupa akan jasa-jasa para pahlawannya. Karena menurut Kundera,

“Lupa merupakan sebentuk kematian yang hadir dalam kehidupan… Bangsa yang kehilangan kesadaran akan masa lalunya perlahan-lahan akan kehilangan dirinya.”

Sumber foto: reddit.com

Iklan