Bulan: November 2015

Catatan personal Berlin-Frankfurt

Perjalanan adalah sebuah tahap dalam mencapai tujuan.  Bagi saya justru perjalanan ini adalah sebuah tujuan itu sendiri. Sebagai sebuah ingatan, perjalanan itu saya dokumentasikan. Saya merekam dalam ingatan dan dituangkan dalam tulisan. Karena pendokumentasian tidak hanya terekam dengan kamera, terekspos dengan foto saja, namun perjalanan ini sangat personal bagi saya, untuk itulah ingatan adalah medianya. Rekam dalam ingatan dan tuliskan.

Entah darimana awal ini bermula, tapi saya  rasa sudah 9 bulan lebih kami adalah sebuah keluarga. Kami adalah sekawanan mahasiswa yang ingin merasakan bagaimana rasanya atmosfer Eropa dan mencicipi sedikit rasa pendidikan disana. Jerman menawarkan kesempatan tersebut dan kami mengambilnya dengan penuh perjuangan.  9  bulan adalah waktu yang cukup panjang untuk dihabiskan mempersiapkan perjalanan 12 hari kami di Jerman. Namun di waktu-waktu itu pulalah yang mengingatkan saya bahwa semakin dekat kami bersama, kami telah membentuk sebuah ikatan yang lebih dari sekedar kawan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa mungkin saja 11 orang dari kami memiliki persepsi yang berbeda beda dalam menyikapi perjalanan ini. Ada yang memendam dalam hatinya sendiri dan ada pula yang meluapkan emosinya secara terbuka. Persiapan panjang dan berbagai konflik yang ada, saya amati, berakahir cukup bahagia bagi kami semua. Ratusan foto dan puluhan video perjalanan kami di Berlin dan Frankfurt, dua kota tujuan kami Jerman, mendeskripsikan perjalanan kami disana.

Bagi saya secara pribadi, merasakan budaya Jerman adalah sebuah kesenangan yang luar biasa. Awalnya hanya angan-angan, seorang udik macam saya diberi kesempatan menonton orkestra di salah satu teater musik terbaik di kota Berlin. Percayalah pada mimpimu adalah sebuah kata-kata klise yang sering secara malas saya dengarkan namun ternyata hal tersebut juga ada benarnya.

Berlin adalah sebuah kota metropolis yang komplit. Kaya akan sejarah dan ramai dengan kegiatan bisnisnya. Sejarah kota berlin dapat ditarik dari awal dalam sejarah Prusia hingga perang dunia kedua yang memisahkannya menjadi dua teritori. Hal eksotik bagi penggemar sejarah seperti saya adalah masa perang dunia kedua dan pasca perang tersebut. Berliner mauer membelah Berlin dengan dinding tebal dan dingin yang kini menjadi saksi sejarah yang eksotis. Sebuah tembok yang membatasi kebebasan bagi penduduk Jerman  Timur dahulu kala dan sebeuah kukungan bagi penduduk Jerman Barat.

Kini Berlin berbenah. Banyak konstruksi konstruksi bangunan yang sedang diajalankan. Salah satunya adalah sebuah komplek kota tua yang sedang dilestarikan bernama Museum Island. Pembangunan rekonstruksi tersebut berjalan hingga 15-20 tahun kedepan.  Masyarakat pun belajar dari sejarah mereka. Saya bertemu dengan Kristen, Josef, dan Patricia. Pendapat mereka dan hubungan sejarah masyarakat dan bagaimana mereka belajar dari sejarah tersebut membuat saya paham. Kita tidak akan pernah maju jika tidak pernah menoleh kebelakang.

Frankfurt menyampaikan ceritanya sendiri. Terkenal sebagai Vatikannya kaum kapitalis eropa, dimana disanalah terletak keharibaan Gedung Bank Sentral Eropa yang menjulang tinggi, kini kota Frankfurt berbenah menjadi sebuah kota yang ingin menonjolkan pariwisatanya. Pemerintah kota Frankfurt mendesain  sejak tahun 80an sebuah pusat museum dipinggir suangai Main. Sebuah grand design akan reposisi kota yang tadinya sebagai pusat finansial menjadi sebuah kota pusat pariwisata. Frankfurt mengedepankan sebuah hal yang kontras. Ingin ramai tidak hanya di tengah pekan, yang penuh dengan perjalanan bisnis, namun juga menyemarakan akhir pekan dengan perjalanan wisata.

Di Frankfurt, saya bertemu dengan Lauren Ugur, seorang Prof dalam bidang urban planning yang fokus pula terhadap bidang pariwisata di kota Frankfurt. Ia memaparkan bagaimana Frankfurt yang ingin berubah dengan berbagai aktivitas akativitas marketing yang inovatif untuk pariwisatanya. Saya bertanya pada dirinya, darimana ide ini semua muncul, apakah insiasi sebuah kelompok atau riset akademis yang dilakukannya. Jawabannya adalah riset riset dan kemauan dari pemerintahnya. Saya menyadari bahwa sebuah negara, atau dalam hal ini sebuah kota, akan semakin maju jika menempatkan orang-orang baik di pemerintahan.

Selama perjalanan kami di Jerman, kami ditemani oleh seorang tour guide bernama Julia. Masyarakat Jerman tidak terbiasa memanggil nama mereka dengan nama depan karena itu dianggap tidak sopan. Namun Julia mengenalkan namanya dengan nama depannya kepada kami, sebuah rasa keterbukaan yang ingin ditunjukannya. Bagi saya, Ia adalah pribadi yang menarik. Seorang polyglot dan vegetarian. Pandangannya terhadap lingkungan begitu besar. Ia berpikir bahwa kita, manusia, sudah sampai jauh menjelajah mars, menciptakan nano teknologi, namun kita masih memakai kulit hewan dikaki kita. Dia berpikir betapa terbelakangnya kita jika disuatu saat dimasa depan nanti kita menoleh kebelakang  dan meihat hal ini. Lelucon masa depan pikirku.

Julia memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian lima tahun lalu ketika ia menyadari bahwa mass production akan daging hewan dilakukan semena mena dan menyakiti hewan. Pada tesisnya yang sedang ditulisnya saat ini, ia mengambil topik mengenai vegetarian yang sedang berkembang di Jerman. Saat ini pertumbuhan vegetarian di  Jerman cukup tinggi dan semakin meningkat. Banyak  hal yang saya pelajari darinya, dan membuat saya beranggapan bahwa dia adalah perempuan yang pintar. Perempuan pintar selalu menarik bagi saya.

1448196923899

Di Frankfurt dan Berlin, saya dan teman teman berkesempatan ke berbagai tempat tempat yang sebelumnya hanya kami lihat di browser laptop kami. Tempat tempat yang kami rencanakan akan dikunjungi pun akhirnya benar benar kami kunjungi ke tempat tersebut. Gedung gedung megah yang hancur pada perang dunia ke dua, dibangun ulang dengan konstruksi yang hampir sama sebelum gedung gedung tersebut hancur.

Kami melewati sebuah Universitas bernama  Humboldt University dimana Karl Marx dan Einstein pernah belajar disana. Sebuah komplek universitas tua nan megah ditengah kota Berlin yang membuat saya berangan angan untuk belajar disana.

Banyak hal-hal yang dipelajari dari perjalanan ini. Garis besarnya adalah budaya. Perbedaan budaya dan cara pandang kami terhadap dunia, terbuka melalui perjalanan ini. Saya rasa perubahan menuju arah yang lebih baik salah satu caranya akan terjadi jika kita mampu mengerti dan merasakan sebuah tatanan masyarakat yang baik di suatu daerah sehingga hal tersebut tertular kedalam diri kita.

Tempat tempat menarik, perbincangan-perbincangan yang menyenangkan, dan persentuhan kebudayaan setiap harinya kami disana membuat kami merasa perjalanan ini akan terekam selamanya di benak sebagaian dari kami, terutama saya.

Perjalanan adalah sebuah jalan yang tidak hanya dihabiskan untuk mencapai sebuah tujuan, tapi juga bagaimana kita berbagi sudut pandang, cerita, pikiran, dan kasih sayang kepada mereka yang menghabiskan perjalanan ini bersama sama.

Terima kasih kepada Julia, Uti, Oli, Tian, David, Ano, Cr, Elmia, Zaki, Toni, Ali  dan Pak Dianta atas kebersamaannya.

Tujuan perjalanan ini telah terselesaikan. Namun mungkin kami akan mencari tujuan-tujuan lainnya lagi. Entah itu secara sendiri sendiri atau bersama sama.   Saya berharap kembali kesana suatu saat nanti..

Mungkin bersama-sama lagi..

berlin

franfurt

Iklan

Catatan Tinggal Sementara di Desa Kubang Baros

Jika direnungkan kembali, menghuni sebuah tempat dimana di tempat tersebut  saya harus mencoba untuk bersosialisasi  dengan sekitarnya adalah sebuah tantangan. Selama sebulan mencoba bersikap ramah sebagai seorang pendatang , awalnya adalah sebuah keterasingan tersendiri bagi saya. Keterasingan itu dimulai dari diri sendiri. Segala sesuatu yang biasanya saya lakukan sendiri kini harus dibagi bersama dengan kelompok. Kelompok ini beranggotakan 10 orang termasuk saya sebagai ketua di dalamnya. Anggota- anggota kelompok yang saling tidak mengenal ini membuat saya berhipotesa bahwa mereka tidak akan se asik yang saya duga namun saya peduli setan dengan segala hal yang seperti itu, saya percaya bahwa saya dapat hidup bahkan dalam dalam kondisi masyarakat yang tidak enak sekalipun.

Kelompok kami adalah utusan dari Univeristas dalam rangka menjalankan salah satu tridarma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu Universitas mencanangkan sebuah program bernama Kuliah Kerja Nyata (KKN). Selama sebulan, kami, mahasiswa yang tidak saling mengenal satu sama lain ini ditempatkan di sebuah desa yang sama sekali belum kami ketahui sebelumnya. Kelompok kami ditempatkan di sebuah desa bernama Kubang Baros di daerah Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari Jakarta namun terdapat perbedaan jauh dalam hal kesejahteraan masyarakatnya.

Kelompok kami ditempatkan di sebuah rumah berpenghuni 3 orang: Ibu, Bapak dan seorang perempuan anak mereka. Sebenarnya mereka adalah keluarga beranggotakan lima orang, namun dua anak laki laki mereka bersekolah di luar kota sehingga tidak tinggal bersama. Dengan tinggal di rumah mereka, saya berarti diharuskan untuk bersosialisasi dengan mereka. Entah mengapa bersosialisasi dengan orang baru menjadi ganjalan bagi saya. Mungkin ini tipikal orang kota yang terbiasa hidup invidualis. Saya pikir ada gunanya juga KKN ini membuat saya dipaksa harus bersosialisasi, sesuatu yang wajib dilakukan tapi saya malas untuk menjalankannya. Sejujurnya, saya dan teman teman sekelompok cukup diterima baik oleh tuan rumah. Kami bahkan sering makan malam bersama dan bercanda gurau dengan anaknya dan anak tetangga mereka. Mungkin karena keramahan mereka pulalah yang membuat saya menjadi mudah dalam berinteraksi dengan mereka dan penduduk sekitar yang awalnya terasa asing bagi saya.

Kami diharuskan untuk membuat beberapa program kerja dalam kegiatan kami untuk mengabdi kepada masyarakat. Beberapa kegiatan cukup menyenangkan, seperti bertepatan dengan  tanggal 17 agustus kami menyelenggarakan kegiatan kegiatan perlombaan siswa siswi MA/ setingkat SD. Kami juga mengajar di MA tersebut dan MTs di sebelahnya.  Dilihat dari sisi pendidikan, keadaan pendidikan di desa ini cukup tertinggal. Dibanding dengan Jakarta, terdapat perbedaan yang jauh dalam hal kompetensi guru maupun murid, fasilitas yang tidak memadai, rendahnya kesadaran akan belajar dan membaca dan jenjang pendidikan yang terputus hanya sampai SMA/MI. Ironi ditemukan disini. Sebuah desa yang tidak terlalu terpencil, bahkan hanya berjarak 4 jam perjalanan darat dari Ibu Kota, belum memiliki kualitas pendidikan yang memadai. Saya rasa kita masih jauh untuk menjadi negara maju.

Di dalam kelompok kami, terdapat dua laki dan delapan wanita. Saya adalah orang yang selalu menaruh harapan di titik paling bawah dalam sebuah situasi. Jadi tentunya saya tidak banyak berharap dari mereka. Ketidakberharapan saya ini, seiring berjalannya waktu dan tinggal dengan teman teman kelompok saya, menumbuhkan sebuah rasa kekeluargaan baru yang sebelumnya saya tidak harapakan dari beberapa orang asing ini. Mereka adalah orang-orang yang ramah. Sama seperti penduduk dan tuan rumah di tempat saya tinggal. Segala hal dalam hubungan antar manusia di tempat saya tinggal ini amat mendukung. Dimulai dari menyenangkannya interaksi dengan teman kelompok, dengan tuan rumah bahkan dengan penduduk sekitar.

Ternyata sekumpulan orang orang asing yang dipersatukan dapat pula membentuk sebuah rasa kekeluargaan yang hangat, bahkan ketika mereka menjadi diri mereka sendiri.

Tidak banyak catatan yang dapat ditulliskan disini, namun orang-orang asing (re: teman kelompok) yang sudah dapat dikatakan menjadi keluarga saya selama sebulan ini patut untuk dicatat secara mendalam dalam ingatan.