Bulan: November 2015

Catatan Tinggal Sementara di Desa Kubang Baros

Jika direnungkan kembali, menghuni sebuah tempat dimana di tempat tersebut  saya harus mencoba untuk bersosialisasi  dengan sekitarnya adalah sebuah tantangan. Selama sebulan mencoba bersikap ramah sebagai seorang pendatang , awalnya adalah sebuah keterasingan tersendiri bagi saya. Keterasingan itu dimulai dari diri sendiri. Segala sesuatu yang biasanya saya lakukan sendiri kini harus dibagi bersama dengan kelompok. Kelompok ini beranggotakan 10 orang termasuk saya sebagai ketua di dalamnya. Anggota- anggota kelompok yang saling tidak mengenal ini membuat saya berhipotesa bahwa mereka tidak akan se asik yang saya duga namun saya peduli setan dengan segala hal yang seperti itu, saya percaya bahwa saya dapat hidup bahkan dalam dalam kondisi masyarakat yang tidak enak sekalipun.

Kelompok kami adalah utusan dari Univeristas dalam rangka menjalankan salah satu tridarma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu Universitas mencanangkan sebuah program bernama Kuliah Kerja Nyata (KKN). Selama sebulan, kami, mahasiswa yang tidak saling mengenal satu sama lain ini ditempatkan di sebuah desa yang sama sekali belum kami ketahui sebelumnya. Kelompok kami ditempatkan di sebuah desa bernama Kubang Baros di daerah Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari Jakarta namun terdapat perbedaan jauh dalam hal kesejahteraan masyarakatnya.

Kelompok kami ditempatkan di sebuah rumah berpenghuni 3 orang: Ibu, Bapak dan seorang perempuan anak mereka. Sebenarnya mereka adalah keluarga beranggotakan lima orang, namun dua anak laki laki mereka bersekolah di luar kota sehingga tidak tinggal bersama. Dengan tinggal di rumah mereka, saya berarti diharuskan untuk bersosialisasi dengan mereka. Entah mengapa bersosialisasi dengan orang baru menjadi ganjalan bagi saya. Mungkin ini tipikal orang kota yang terbiasa hidup invidualis. Saya pikir ada gunanya juga KKN ini membuat saya dipaksa harus bersosialisasi, sesuatu yang wajib dilakukan tapi saya malas untuk menjalankannya. Sejujurnya, saya dan teman teman sekelompok cukup diterima baik oleh tuan rumah. Kami bahkan sering makan malam bersama dan bercanda gurau dengan anaknya dan anak tetangga mereka. Mungkin karena keramahan mereka pulalah yang membuat saya menjadi mudah dalam berinteraksi dengan mereka dan penduduk sekitar yang awalnya terasa asing bagi saya.

Kami diharuskan untuk membuat beberapa program kerja dalam kegiatan kami untuk mengabdi kepada masyarakat. Beberapa kegiatan cukup menyenangkan, seperti bertepatan dengan  tanggal 17 agustus kami menyelenggarakan kegiatan kegiatan perlombaan siswa siswi MA/ setingkat SD. Kami juga mengajar di MA tersebut dan MTs di sebelahnya.  Dilihat dari sisi pendidikan, keadaan pendidikan di desa ini cukup tertinggal. Dibanding dengan Jakarta, terdapat perbedaan yang jauh dalam hal kompetensi guru maupun murid, fasilitas yang tidak memadai, rendahnya kesadaran akan belajar dan membaca dan jenjang pendidikan yang terputus hanya sampai SMA/MI. Ironi ditemukan disini. Sebuah desa yang tidak terlalu terpencil, bahkan hanya berjarak 4 jam perjalanan darat dari Ibu Kota, belum memiliki kualitas pendidikan yang memadai. Saya rasa kita masih jauh untuk menjadi negara maju.

Di dalam kelompok kami, terdapat dua laki dan delapan wanita. Saya adalah orang yang selalu menaruh harapan di titik paling bawah dalam sebuah situasi. Jadi tentunya saya tidak banyak berharap dari mereka. Ketidakberharapan saya ini, seiring berjalannya waktu dan tinggal dengan teman teman kelompok saya, menumbuhkan sebuah rasa kekeluargaan baru yang sebelumnya saya tidak harapakan dari beberapa orang asing ini. Mereka adalah orang-orang yang ramah. Sama seperti penduduk dan tuan rumah di tempat saya tinggal. Segala hal dalam hubungan antar manusia di tempat saya tinggal ini amat mendukung. Dimulai dari menyenangkannya interaksi dengan teman kelompok, dengan tuan rumah bahkan dengan penduduk sekitar.

Ternyata sekumpulan orang orang asing yang dipersatukan dapat pula membentuk sebuah rasa kekeluargaan yang hangat, bahkan ketika mereka menjadi diri mereka sendiri.

Tidak banyak catatan yang dapat ditulliskan disini, namun orang-orang asing (re: teman kelompok) yang sudah dapat dikatakan menjadi keluarga saya selama sebulan ini patut untuk dicatat secara mendalam dalam ingatan.

Iklan