Bulan: Februari 2016

Mengabadikan Langkah Kaki

Musim gugur adalah sebuah musim yang tanggung. Tidak panas dan tidak juga terlalu dingin. Pertengahan bulan November adalah waktu yang menyenangkan untuk berjalan jauh. Cepatnya kaki melangkah tidak membuat keringat mengucur karena untuk ukuran 12 derajat celcius, suhu badan akan tetap terasa dingin. Aku berjalan di pinggir sungai Spree sebelah kanan istana kepresidenan Jerman. Ada jalan cukup luas untuk dilewati para pejalan kaki menuju stasiun kereta Bellevue.

Bellevue adalah daerah dimana istana kepresidenan berada. Bellevue palace adalah nama rumah dinas kepresidenan tersebut. Istana tersebut  terlihat besar namun tidak megah.  Entah mengapa menyebutnya sebagai istana karena nampaknya Bellevue Palace tidaklah tampak seperti istana yang mana kepala negara biasanya tinggal. Hanya sebuah gedung besar  berwarna putih bahkan tanpa ada pilar besar yang menyangganya. Setiap aku melewati gedung itu untuk berjalan kaki menuju stasiun kereta, aku selalu membandingkannya dengan istana kepresidenan di Jakarta atau Gedung Putihnya Washington D.C. Sepertinya kemegahan Gedung Putih berada di urutan pertama dan Istana Merdeka berada di urutan bawahnya. Iya, Bellevue Palace memang biasa aja yang bahkan tidak aku tempatkan di urutan ketiga.

IMG20151115161702
Bellevue Palace. Difoto saat tragedi Paris sehingga bendera berkibar setengah tiang.

Langkah dan pikiran ini kembali mengarah menuju stasiun kereta. Stasiun kereta Bellevue memiliki rel yang berada di atas jalan. Namun tidak seperti KRL di Jakarta, kereta metro di Berlin memiliki rel yang dibuat sendiri jadi terlihat seperti jembatan jika kita melihatnya dari trotoar jalanan. Rel tersebut tidak bersinggungan dengan jalan untuk mobil dan pastinya tidak akan ada kecelakaan antara mobil dan kereta seperti di Jakarta. Ada dua jenis rel yaitu rel bawah tanah dan rel yang di atas tanah seperti Bellevue ini.

Berbicara mengenai jalan kaki. Berjalan kaki itu menyenangkan. Mungkin yang membuatnya menjadi menyenangkan karena ini adalah Berlin. Berjalan kaki tidak pernah semenyenangkan ini sebelumnya. Dengan cuaca yang dingin menyejukan, aku berjalan jauh menuju stasiun kereta terdekat. Dengan jalan yang lebar dan pemandangan yang entah mengapa biasa saja tapi justru membuatku bahagia. Ada perasaan yang ganjil ketika sebuah hal yang sederhana justru terekam oleh ingatan.

Kaki kaki ini melangkah dengan cepat dan bersemangat. Aku suka dengan budaya jalan cepat a la Berliner. Melelahkan memang tapi entah mengapa mengasyikan. Pada pagi yang sunyi suara langkah kaki adalah metronome yang menjaga tempo kebahagiaan agar tidak keluar dari iramanya. Konstan dengan derap yang stabil.

Siang hari ketika membeli makan, yang diperlukan hanyalah kaki dan uang. Begitu senangnya ketika perut lapar dan berjalan menuju restoran melewati pertokoan dan trotoar jalan yang luas. Lagi lagi berjalan cepat. Namun kali ini karena kelaparan. Setelah makan pun tetap berjalan cepat. Kali ini karena punya energi untuk melakukannya. Di saat gerimis pun tetap berjalan cepat. Ya jelas lah, siapa pula yang hendak kehujanan. Aturannya cuma satu: Tidak bisa tidak berjalan cepat.


 

Sore itu senja tidak berwana jingga. Kelabu menggantung di atas kota Berlin.  Hujan di siang hari masih menyisakan warna gelapnya. Aku pulang dengan kereta dari Alexanderplatz menuju Bellevue.

Menikmati suasana di dalam kereta dan mengamati bagaimana penduduk kota melakukan kesehariannya. Dimana mana manusia sama saja, entah mereka tak acuh dengan sekitarnya atau termenung dengan khayalannya sendiri.

Sesampai di stasiun tujuan aku keluar dari kereta  dan berjalan menuju tangga turun. Disamping sebelah barat tangga turun, ada toko makanan cina dan di balik tangga terdapat toserba kecil yang sudah hampir tutup ketika sore itu aku menengok ke tokonya. Menuju keluar stasiun, yang juga pintu masuk stasiun, terdapat lapak penjual bunga disebelah kiri. Terlihat sepertinya penjual bunga itu adalah seorang Turki, mungkin karena paras mukanya yang agak arab. Aku tak tahu pasti.

Keluar dari stasiun tubuh langsung disergap oleh dinginnya kota Berlin. Aku melangkah menyusuri pinggir sungai yang mengarah ke Bellevue Palace. Kali ini Bellevue Palace ada di sebelah kananku. Terbentang di depan Bellevue Palace sebuah taman besar bernama Tiergarten. Aku berbelok ke kiri menuju jembatan dan jalan Paulstrasse. Jalanku tinggal lurus saja menuju hotel.

Ketika aku melangkah, aku menunduk untuk melihat kaki kakiku dan mereka tesenyum bahagia ke arah tuannya. Lalu kulemparkan pandangan ke belakang. Aku melihat jejak jejak langkah itu.  Tidak kasatmata namun jejaknya tertinggal disana.

Jujur saja, aku tidak suka hidup di masa lalu. Namun ketika melihat sebuah foto, tidak akan ada detail yang terlewatkan dari setiap inci cerita yang ada.

IMG20151115161800
Di sebelah kiri itu  terdapat jalan menuju stasiun. Foto ini diambil di atas  jembatan jalan Paulstrasse.
Iklan

Catatan Akhir Pekan 14 Februari 2016 : Review A Copy Of My Mind.

150918091442_a_copy_of_my_mind_2_640x360_acopyofmymind_nocredit
sumber gambar: bbc.co.uk

Yang ditunggu itu akhirnya datang juga. Mungkin udah setahun lebih denger riuh rendah tentang film terbaru arahan sutradara Joko Anwar ini. Sebelumnya Joko sudah memberikan “peringatan“ kepada para followers twitternya lewat rangkaian kicauan bahwa film ini akan sederhana. Ternyata beneran sesederhana itu.

Ekspektasi terkadang tidak terpenuhi dan film ini jadi salah satu contohnya. Awalnya saya berpikir dengan cerita dan konflik di dalamnya ini akan membekas bagi saya pribadi namun mungkin saya terlalu berharap lebih pada Bang Joko.

Joko Anwar adalah salah satu film maker favorit saya. Karyanya yang paling saya suka itu adalah film Kala. Settingnya yang keren dengan latar cerita yang menarik buat saya jatuh cinta sama karyanya. Beberapa filmnya cukup keren diantara lautan film  Indonesia  yang ancur ancuran. Selain karyanya, saya sebenarnya juga suka sama orangnya karena pendapat pendapatnya di Twitter dan beberapa kali datang workshopnya ternyata Bang Joko orangnya lucu, gak kayak film filmnya yang horror macam pintu terlarang dan modus anomali.

Ok, balik lagi ke film A Copy of My Mind.

Awalnya saya gak sabar banget mau nonton filmnya yang terbaru ini. Setelah menonton, ada sedikit kekecewaan timbul mungkin karena konflik yang seteguk saja tapi gak selesai dengan tuntas. Mungkin ini emang film yang dibuat untuk penggambaran kota jakarta dan kisah cinta kedua tokohnya aja sehingga penyelesaian konflik ditinggal begitu aja. Atau memang sengaja konfliknya berakhir antiklimaks karena akan ada A Copy of My Soul?

Joko berhasil ngebangun dua karakternya dengan baik dan buat kita jadi merasakan perasaan mereka. Oleh karena itu ketika Joko berhasil membangun suasana tersebut, konflik diakhiri dengan begitu aja. Ini kayak nonton drama Eropa dengan setting  gang gang sempit Jakarta. Ya selesainya udah gitu aja.

Sebenarnya kekecewaan saya lebih kepada konflik yang tidak selesai itu sih. Selebihnya adalah sebuah karya sederhana yang luar biasa. Entah kenapa saya selalu tertarik dengan hal hal yang sederhana. Film ini menggambarkan bahwa kesederhanaan itu gak selamanya tidak menyenangkan. Bahkan kedua tokoh di film ini bukan sederhana lagi, tapi termasuk golongan kurang mampu kali.

Saya gak usah lagi lah ya ngasih premis filmnya karena udah banyak banget tulisannya di internet. Yang saya suka dari film ini, kedua tokoh ini dapet banget keintimannya. Menurut saya Joko Anwar berhasil membangun keterikatan karakter dan mengarahkan Tara dan Chico dengan baik. Walau memang gak dipungkiri keduanya adalah aktris dan aktor hebat.

Dialog dialog di film ini pun juga lucu. Kalimat kalimat sederhana macam, “Makan Mie Ayam yuk” entah kenapa jadi lucu. Belum lagi dialog pas lagi tiba tiba adzan dan Sari nanya ke Alek “Agama kamu apa?” dan jawaban Alek lah yang buat saya ketawa.  Dan lucunnya, entah kenapa, suara adzan di film ini buat saya senyam senyum sendiri karena itu dekat banget sama keseharian kita.

Emang gak bisa dipungkiri, kayak keliatan banget gitu, film ini dibuat pake hati. Apalagi mengetahui bagiamana proses pendanaan filmnya, proses syutingnya yang ngumpet ngumpet, dan berapa banyak Indomie  yang dimakan Tara Basro pada hari pertama syuting. Penuh perjuangan dan kerja keras. Untunglah film ini diterima dengan baik di beberapa festival film terbaik di luar negri.

Terlepas dari kecewanya saya, saya tetap jatuh cinta sama karya yang satu ini. Sederhana tapi meninggalkan kesan pada perasaan.

Jadi pengin makan Indomie sambil nonton DVD..

Catatan Akhir Pekan 8 Feb 2016: Buang Waktu Di Media Sosial

20141117180945-right-business-wrong-social-media-culture

Duduk, buka hp, cek twitter, fb, instagram, tutup hp, melakukan aktifitas kecil yang lain, buka hp lagi, buka medsos lagi. Ini adalah aktifitas yang sering banget gue lakuin. Gue udah lupa bahkan kapan terakhir kali gue duduk diem gak ngelakuin apa apa atau seenggaknya gue duduk nonton film di rumah tanpa beberapa kali ngecek hp. Lama lama gue sadar kok sering banget ya gue cek hp dan medsos.

Smartphone adalah candu. Ditambah lagi sama adanya media sosial. Terlebih lagi kita menemukan kesenangan di media sosial tersebut. Gue sih di medsos untuk liat liat berita dan info gitu dan itu buat gue ketagihan. Di Twitter contohnya, sering banget gue ke linimasa berita, baik dalam atau luar negri, untuk baca berita apa aja. Terus jugamampir  ke akun akun yang menarik. Contohnya beberapa akun yang ngasih link short story, atau ilmu tentang sejarah dll pokoknya yang menarik untuk dibaca gitu.

Gue emang suka baca dan media sosial kayak jadi channel gitu untuk hal apa yang mau gue baca. Tapi lama lama buka hp dan liat medosos tuh kayak buang buang waktu. Gue pengin lho bisa ngerasain hidup yang agak lebih sederhana. Maksudnya, gue pengin hidup dimana buka medsos tuh gak perlu perlu amat. Pengin gitu rasanya nutup akun medosos, tapi info info kan ada disana.

Media sosial tuh jadi sarana yang tepat banget buat buang buang waktu. Dan ngebuang waktu.

Itu adalah dua hal yang berbeda. Buang buang waktu bisa jadi situasi dimana lo gak ada kerjaan dan lo menghabiskan waktu lo dengan bermain media sosial. Tapi soal ngebuang waktu, main medsos jadi jurang buat hal yang seharusnya gue kerjain. Contoh, seharusnya gue kerjain tugas tapi gue malah buka medsos dulu deh eh lama-lama kelamaan akhirnya jd males buat ngerjain tugas.

Pengin sih rasanya hidup gak punya medsos, atau paling tidak meminimalisir penggunaannya. Untung aja gue gak tertarik buat main medsos lainnya macam Path atau Snapchat. Entah gimana caranya ngurangin penggunaan medsos ini. Di sisi lain, platform ini penting karena gue banyak banget dapet info dari medsos. Ya begitulah.. di saat gue harus mikirin hal hal penting lainnya, gue masih berkutat dengan medsos gue.

NB: Damned, gue nulis ini  di awal pekan which is gue mengingkari jadwal yang gue buat sendiri. Catatan akhir pekan harusnya kan ditulis pada akhir pekan. Tapi di awal pekan ini adalah akhir dari akhir pekan yang panjang, jadi itu lah justifikasi gue.