Bulan: Maret 2016

Catatan Akhir Pekan: Perihal Seremonial Kelulusan

Image: File picture shows the silhouette of a student with a graduation cap during a diploma ceremony at the John F. Kennedy School of Government
clipartbest.com

Seremonial dalam KBBI adalah sesuatu yang bersifat upacara atau seremoni. Seremoni bisa jadi adalah sebuah peringatan akan sesuatu hal seperti contohnya upacara kemeredekaan. Bisa jadi pula seremoni adalah sebuah perayaan. Perayaan akan tercapainya suatu tahap baru dalam kehidupan seperti kelulusan dari sekolah atau kuliah.

Wisuda, begitu biasanya para civitas academica menyebutnya. Wisuda adalah motivasi dan pencapaian utama bagi sebagian besar mahasiswa. Jika ospek adalah kegiatan pertama dalam dunia perkuliahan maka seharusnya diakhiri dengan perayaan kelulusan. Datang kesebuah perayaan kelulusan itu adalah penting bagi kebanyakan orang. Tapi saya menanggapinya berbeda. Bagi saya mendatangi sebuah perayaan kelulusan bukanlah hal yang sebegitu harus dilakukannya.

Mengabadikan lewat foto saat wisuda adalah salah satu impian dan mungkin yang mendorong para mahasiswa untuk mengerjakan skripsinya. Walau ada hal hal lain yang memotivasi seseorang untuk meenuntaskan studinya, tapi berwisuda pastilah salah satu pemicunya. Saya kurang suka sesuatu yang dirayakan atas keberhasilan.

Bagi saya esensi sebuah keberhasilan adalah ketika kita tuntas melaksanakannya dan merenungkan proses yang telah dijalaninya.

Suatu waktu nanti ketika saya telah lulus kuliah, tanda tangan kelulusan dan senyum orang tua sudah cukup bagi saya tanpa perlu adanya sebuah wisuda.

Mungkin karena mendapat gelar pendidikan adalah sebuah hal yang biasa saat ini terutama gelar strata 1 membuat saya menganggap wisuda adalah hal yang kurang penting. Lain halnya mungkin bagi saya pribadi jika  meraih gelar strata 2 atau 3.

Mungkin juga itulah yang membuat saya tidak termotivasi untuk mengerjakan skripsi. Karena bukan menganggap wisuda adalah hal yang penting untuk dilakukan, saya menjadi tidak ada motivasi untuk menuntaskan perkuliahan. Saya pikir satu-satunya hal yang dapat memicu saya menjadi sarjana hanyalah karena tuntutan orang tua. Ketika diwisuda nanti, saya cukup yakin tidak merasa bangga.

Jika saya diwisuda nanti, satu satunya alasan saya datang dengan rasa malas di hati adalah karena orang tua ingin berfoto dengan anaknya yang telah dibiayainnya hingga pendidikan tinggi.

Iklan

Catatan Akhir Pekan 12 Maret 2016: Banyak Membaca

tumblr_l5ohy137bi1qb0j8no1_1280
sumber: tumblr.com

Sejak kecil saya punya hobi yang berganti ganti. Dulu ketika umur saya 10 tahun, saya hobi bermain sepeda. Sore hari saya ambil sepeda dan bermain bersama teman teman yang lain. Sejak masuk smp, hobi saya berganti menjadi bermain futsal dan menonton film. Sampai sekarang pun masih suka untuk bermain futsal namun terkadang keinginan tersebut suka hilang kalau  malas bergerak. Sedangkan untuk menonton film, akhir-akhir ini ada distraksi dari internet karena ketika saya menonton sering tidak betah dan sambil melihat linimasa atau bahkan mencari referensi film lainnya. Internet membuat rentang perhatian saya semakin kecil.

Namun diantara hobi yang terang redup minatnya itu, ada hobi yang selalu dikerjakan bahkan internet pun tidak dapat mereduksinya. Justru internet menambah hobi ini menjadi semakin adiktif. Membaca adalah hobi yang tak pernah tergerus rasa bosan itu. Bahkan bukan hanya menjadi sebuah hobi, hal ini adalah sebuah kebutuhan.

Selepas bangun pagi, saya ambil koran langganan sambil menyantap sarapan. Di sela sela waktu luang saya membuka situs berita, terutama The Guardian, untuk memenuhi rasa ingin tahu dari berbagai topik di belahan dunia. Entah mengapa informasi membuat saya semakin ketagihan untuk membaca. Mungkin saja pernah ada penelitian yang menunjukan bahwa mengetahui informasi itu membuat seseorang kecanduan untuk mengkonsumsinya lebih.

Belum lagi setidaknya ada satu buku yang harus saya habiskan bacanya selama sebulan. Saya adalah pembaca yang lamban. Terkadang ketika membaca sebuah  atau beberapa kalimat, saya berhenti sejenak unntuk meresapi kata kata itu dan merasakan emosi yang dibawanya. Begitulah kenapa saya terkadang menjadi sentimentil akan sebuah karya dan menjadi pembaca yang lambat. Lambat namun perasa.

Semakin sering saya membaca, baik itu artikel berita, karya sastra, atau buku non fiksi, semakin sering saya merasa bodoh dan tidak tahu apa apa. Banyak hal baru yang setiap  harinya saya temui lewat sebuah bacaan. Mungkin ini yang membuat saya sulit lepas dari media sosial. Ketika istirahat membaca buku, biasanya saya membuka ponsel untuk melihat berita apa saja yang ada di media sosial. Ya begitulah, saya istirahat membaca dengan membaca bacaan lainnya.

Sejujurnya, saya merasa bacaan saya kurang luas. Saya membaca apa yang penulis lain baca. Begitulah resep untuk mengetahui bacaan yang baik kata Eka Kurniawan.  Sering saya mengagumi sebuah artikel atau karya sastra yang isinya luas akan pengetahuan dan hal itu membuat saya mengulik lebih jauh dalam hal bacaan. Saya yakin yang saya baca pun pasti jauhlah lebih sedikit dari kebanyakan pembaca ulet di Goodreads Indonesia.

Membaca amat lah mudah , mungkin itu yang membuat saya terus menggeluti hobi ini selain karena rasa ingin tahu saya yang tinggi. Membaca juga lah yang menarik saya untuk menulis. Walau saya yakin yang saya tulis pasti berantakan karena saya baru membiasakan untuk melakukannya. Semoga saja seiring dengan banyaknya saya membaca dan menulis, tulisan saya jadi lebih berisi dan berkarakter.

Dengan banyak membaca, saya justru semakin penasaran dan tidak penah terpuaskan akan pengetahuan.