Anak Kecil Yang Merengek

Setelah selesai membaca memoar Etgar Keret, aku merasa ketagihan membaca memoar penulis lainnya. Aku memutuskan untuk mencari di internet dan menemukan memoar Murakami, What I Talk About When I Talk About Running, dalam terjemahan Bahasa Indonesia.

Aku sudah punya banyak daftar buku yang ingin ku beli dan buku memoar ini adalah salah satunya. Namun dulu aku menemukannya dalam bahasa Inggris dan harganya lumayan mahal. Sebagai manusia dengan kemampuan ekonomi yang terbatas, memilih judul buku mana yang harus lebih dulu dibeli adalah pilihan sulit. Untungnya buku memoar yang sudah diterjemahkan ini tidak terlampau mahal.

Aku berangkat ke toko buku yang tidak jauh dari rumahku. Sesampainya di sana, aku langsung menuju komputer pencarian dan mengetik nama Murakami. Sayangnya tidak ada judul buku dengan pengarang Murakami yang aku inginkan. Lalu aku berjalan menuju rak-rak buku baru dan toko buku itu memajang sastra klasik dengan sampul yang baru & menarik.

Di sana terpampang nama Tolstoy, Karl May, Ernest Hemingway, Flaubert, Anton Chekov, dll. Aku memegang buku itu satu persatu untuk membaca sinopsisnya. Dalam pikiranku, aku menimang nimang buku mana yang harus ku beli jika buku Murakami tak berhasil ku temukan.

Pada saat itu lah aku berpapasan dengan anak kecil yang meminta dibelikan komik oleh Bundanya. Kebetulan memang rak buku yang kusinggahi tidak jauh dari rak komik anak-anak. Anak itu meminta dibelikan dengan nada memelas sekali atau dua kali. Bundanya berkata tidak dan pergi ke bagian rak buku yang lain. Anak itu mengikuti Bundanya. Kali ini ia meningkatkan nada berbicaranya sampai pada tahap merengek.

Aku kembali menolehkan pandanganku pada karya klasik Tolstoy, namun pendengaranku menangkap rengekan anak itu. Seketika hal ini mengingatkanku akan masa kecilku.

Dahulu sebelum aksara membuatku jatuh cinta, aku tertarik oleh visualisasi komik Tsubatsa. Aku pun dulu meminta pada Ibuku untuk dibelikan komik. Namun entah mantra apa yang Ibuku gunakan, aku tidak pernah merengek seperti anak ini meminta dibelikan komik oleh Bundanya.

Saat aku menginginkan sesuatu, aku berpikir puluhan kali. Di kepalaku berputar putar pertanyaan haruskah aku membeli buku ini? Jika banyak jawaban Ya (terkadang lebih banyak pula jawaban tidak) berkumpul di pikiranku, maka dengan hati hati aku menanyakannya pada Ibuku.

Kadang jawabannya menggembirakan, namun tidak jarang kata tidak yang Ibuku ucapkan. Saat penolakan itu terlontar, aku tidak meminta dibelikan dengan cara merengek. Dengan gerakan penuh kekalahan atas sebuah keinginan, aku meletakan komik atau terkadang novel, kembali ke tempat semula ia berada.

Hal ini mungkin terbawa sampai sekarang. Walau saat ini aku lebih sering sendiri tanpa Ibuku untuk pergi ke toko buku, aku masih berpikir keras untuk memilih buku yang ingin aku beli. Tentu aku menulis ini bukan untuk menyalahkan anak itu yang merengek pada Bundanya. Dengan melihat anak itu, membawa pikiranku kembali ke masa lalu. Di toko yang sama, meminta dibelikan oleh Ibu benda yang sama.

Keadaanku saat ini dengan anak kecil itu mungkin tidak jauh berbeda. Aku yang diakhir masa remaja berpikir keras untuk memilih buku yang dibeli dengan uang jajan yang pas pasan. Ia, seorang bocah yang merengek pada Bundanya untuk dibelikan komik yang diinginkan. Ya, aku merengek dalam hati kepada dompetku yang tipis sekali.


Aku berkeliling-keliling, singgah dari satu rak ke rak lainnya dan akhirnya menemukan buku memoar Murakami. Buku itu berada di kategori biografi tapi tidak tercantum di mesin pencarian. Aku membayar dan membawa pulang buku diari Murakami tentang berlari. Aku mendapat apa yang aku inginkan.

Saat aku menuruni tangga eskalator, sekilas aku melihat anak yang tadi merengek. Ia berjalan setengah berlari menuju meja kasir dengan senyum lebar sembari menenteng komik yang ia pinta dari Bundanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s