Bulan: Januari 2017

All Begins With Bach, Lecture Recital.

Tengah pekan di akhir bulan Januari, Erasmus Huis mengadakan sebuah kuliah resital. Disebut kuliah karena ini bukan pertunjukan musik klasik biasanya. Yang menjadi pembicara atau pemberi “kuliah” kali ini adalah Merlijn Kerkhof, seorang kritikus musik klasik sekaligus penulis buku All Begins With Bach. Ia menjelaskan mengenai musik dan sedikit sejarah tentang Johann Sebastian Bach namun ia tidak memainkan musiknya. Pemain musiknya yaitu Merel Vercammen (violin) dan Joachim Ejlander (cello) serta pianis muda asal Indonesia Caitlin Wiranata.

Pertunjukan dibuka dengan permainan solo dari Joachim dengan membawakan musik dari Bach yang saya tidak tahu namanya. Setelah membuka dengan permainan cello yang rapi, Merlijn tampil ke panggung dengan menjelaskan bahwa Bach, seorang musisi dari Jerman, sebagai salah satu pioner dalam aliran musik klasik. Setelah itu ia menjelaskan bahwa musik yang akan dimainkan selanjutnya adalah gubahan Bach yang berjudul The Invention, yang dimainkan oleh Joachim beserta Merel. The invention ,sepenuturan Merlijn, adalah sebuah puzzel yang mana tiap nada yang berbeda-beda digabungkan dalam satu kesatuan yang sama.

Selesai mereka memainkan musik tersebut, Merlijn kembali menaiki panggung untuk berbicara sedikit mengenai sejarah hidup Johann Bach. Bach adalah pria yang memiliki banyak anak, namun sayangnya hanya sedikit dari anaknya yang tumbuh hingga dewasa. Jadi saat itu, rumah Bach penuh sesak dengan anak-anak. Salah satu musik yang Bach ciptakaan adalah musik untuk anak-anak. Lantas Merlijn memanggil Caitlin Wiranata untuk memainkannya dengan piano. Musik yang dimainkan terdengar menyenangkan.

Pertunjukan kali ini tidak hanya menyajikan mengenai musik Bach saja, namun juga salah satu musisi yang terkenal semasa Bach hidup yaitu Handel. Georg Handel adalah musisi terkenal yang melanglang buana dari Italia hingga ke Ibu Kota Inggris untuk menggubah musik klasik opera dan orkestra. Ia adalah kebalikan dari Bach. Johann Bach semasa hidupnya tidak begitu dikenal publik namun setelah ia meninggal, musiknya meninggalkan jejak bagi tiap komponis-komponis yang lahir setelahnya.

Ini mengingatkan saya pada banyak pekarya. Sebut saja di dunia seni lukis ada Van Gogh. Ia amat menderita semasa hidupnya bahkan ia memotong kupingnya sendiri karena menjadi gila. Ada juga penulis termahsyur Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, yang bukunya dilarang terbit pada jaman orde baru dan awal reformasi karena ia pernah berafiliasi dengan Lekra jaman PKI dahulu. Namun sekarang namanya menjadi salah satu tonggak khazanah sastra Indonesia.

Kembali ke pertunjukan musik klasik. Saya selalu tertarik untuk menonton musik klasik secara langsung. Entah mengapa saya merasa lebih senang untuk menonton pertunjukan musik klasik dibanding dengan jenis musik lainnya. Mungkin karena saya jarang menonton jenis musik yang satu ini. Terlebih lagi dengan tipe yang satu ini, resital dengan sedikit penuturan mengenai sejarah komponis dan musik yang dimainkannya.

Iklan

Arrival dan La La Land: Pembuka Yang Baik

la-la-land-and-arrival-among-afi-s-top-ten-movies-of-2016
source: aceshowbiz.com

Film pertama yang  saya tonton di tahun yang baru ini adalah Arrival. Sebenarnya film ini telah rilis tahun lalu di luar negeri namun baru awal tahun ini ada di bioskop Indonesia. Arrival  menggambarkan komunikasi manusia dengan mahluk asing yang singgah di bumi. Sebagian besar film dihabiskan untuk memecahkan halangan akan komunikasi tersebut serta maksud dan tujuan mereka ke bumi.

Sebenarnya saya kurang begitu terarik dengan film sci-fi yang ada hubungannya dengan alien. Saya cenderung menyukai film sci-fi seperti Interstellar. Namun karena sinopisnya cukup menarik, terlebih yang bermain adalah Amy Adams  (she’s so hot isn’t it?) jadi saya memutuskan untuk menontonnya.

Film ini melambung  jauh dari apa yang saya ekspektasikan. Saya kira hanya berkisar di pertemuan mahluk asing dan manusia, komunikasi mereka dan maksud mereka ke bumi. Arrival mengisahkan lebih dari itu. Alurnya maju mundur dan musik pengiringnya menggantung di telinga saya terus menerus. Ada keganjilan saat credit film tampil. Mungkin ini yang namanya after taste dari menonton sebuah film. Yang sering saya rasakan adalah euforia setelah menonton tapi untuk yang satu ini adalah keganjilan dan kaget bahwa Arrival tidak sesuai  dengan ekspektasi saya, in a good way.

Kreator film ini adalah Denis Villeneuve. Ia adalah sutradara dari film Prisoners dan Enemy. Dua film yang saya tonton dengan ending yang gak banget. Pantas saja Arrival ganjil setelah saya selesai menontonnya. Untuk film Prisoners dan Enemy, saya sedikit kesal kenapa film film tersebut harus diakhiri dengan cara seperti itu. Oh iya, film Enemy, sedikit bernuansa Kafka. Hal berbeda saya rasakan setelah menonton Arrival dan berucap dalam hati akhirnya saya bisa menikmati film Villenueve. Menikmati yang saya maksud tetap dengan rasa keganjilan, tapi menyenangkan.

Selang tiga hari setelah menonton Arrival, saya memutuskan untuk melepas rasa penasaran dengan La La Land. Film tersebut  membuat saya penasaran karena panen penghargaan di Golden Globe tgl 8 Januari tahun ini. Sehari setalah penayangan Golden Globe di tv, akhirnya 21 cineplex merilis film tersebut. Jujur saya tidak pernah tertarik untuk menonton film musikal drama karena saya selalu merasa aneh menonton film sembari melihat orang orang bernyanyi lipsync. Namun untuk yang satu ini, atas dasar rasa penasaran saya menontonnya di hari pertama film ini rilis.

Awal film disuguhkan dengan musik yang sebetulnya menyenangkan dan koreografi yang asik, tapi entah kenapa saya masih belum tertarik. Apa yang saya duga sebelumnya bahwa La La Land hanya jadi film yang tidak dapat saya nikmati nyaris terjadi sampai Ryan Gosling dan Emma Stone menyanyi duet dengan koreografi yang membuat saya jatuh hati. Mereka menyanyi dan menari dengan setting di bukit Hollywood malam hari. Mungkin karena yang mereka nyanyikan adalah irama musik jazz yang membuat saya menjadi tertarik.

Setelah adegan itu, saya dapat menikmati setiap adegan-adegan yang disuguhkan. Walaupun para pemain di film tersebut menari dan menyanyi dengan gaya khas musikal drama, entah mengapa yang biasanya saya menganggap hal tersebut aneh, justru saya malah terbawa suasana dan semakin tertarik pada film ini.

Saya suka jazz. Mungkin itu salah satu alasan kenapa saya menyukai film ini. Lagu lagu di film ini amat bagus dan itu adalah salah satu alasan kita menyukai musikal drama bukan? Terlebih dari itu, saya kagum dengan akting Emma Stone. Salah satu akting terbaik yang pernah saya lihat.

Sutradara film La La Land adalah Damien Chazelle. Ia adalah orang yang membuat film Whiplash. Film yang juga saya sukai. Saya lihat Chazelle memang tertarik dengan jazz karena selain whiplash dan la la land, film pertamanya juga bertema jazz yang saya lupa judulnya apa. Selain itu, Justin Hurwitz sebagai komposer di film La La Land juga menghasilkan karya yang luar biasa.

Dari setiap aspek yang saya suka dari film ini, mungkin yang paling patut diacungi jempol adalah ending dari film ini. Saya tidak tahan untuk tidak terharu.

Awal tahun saya dibuka dengan mengkonsumsi karya- karya yang luar biasa ini. Baik La La Land dan Arrival mengejutkan saya dengan cara yang berbeda. Meninggalkan rasa yang berbeda pula. Kedua film tersebut meruntuhkan ekspektasi saya dengan cara yang elegan. Atau mungkin cuma saya saja yang berlebihan.