All Begins With Bach, Lecture Recital.

Tengah pekan di akhir bulan Januari, Erasmus Huis mengadakan sebuah kuliah resital. Disebut kuliah karena ini bukan pertunjukan musik klasik biasanya. Yang menjadi pembicara atau pemberi “kuliah” kali ini adalah Merlijn Kerkhof, seorang kritikus musik klasik sekaligus penulis buku All Begins With Bach. Ia menjelaskan mengenai musik dan sedikit sejarah tentang Johann Sebastian Bach namun ia tidak memainkan musiknya. Pemain musiknya yaitu Merel Vercammen (violin) dan Joachim Ejlander (cello) serta pianis muda asal Indonesia Caitlin Wiranata.

Pertunjukan dibuka dengan permainan solo dari Joachim dengan membawakan musik dari Bach yang saya tidak tahu namanya. Setelah membuka dengan permainan cello yang rapi, Merlijn tampil ke panggung dengan menjelaskan bahwa Bach, seorang musisi dari Jerman, sebagai salah satu pioner dalam aliran musik klasik. Setelah itu ia menjelaskan bahwa musik yang akan dimainkan selanjutnya adalah gubahan Bach yang berjudul The Invention, yang dimainkan oleh Joachim beserta Merel. The invention ,sepenuturan Merlijn, adalah sebuah puzzel yang mana tiap nada yang berbeda-beda digabungkan dalam satu kesatuan yang sama.

Selesai mereka memainkan musik tersebut, Merlijn kembali menaiki panggung untuk berbicara sedikit mengenai sejarah hidup Johann Bach. Bach adalah pria yang memiliki banyak anak, namun sayangnya hanya sedikit dari anaknya yang tumbuh hingga dewasa. Jadi saat itu, rumah Bach penuh sesak dengan anak-anak. Salah satu musik yang Bach ciptakaan adalah musik untuk anak-anak. Lantas Merlijn memanggil Caitlin Wiranata untuk memainkannya dengan piano. Musik yang dimainkan terdengar menyenangkan.

Pertunjukan kali ini tidak hanya menyajikan mengenai musik Bach saja, namun juga salah satu musisi yang terkenal semasa Bach hidup yaitu Handel. Georg Handel adalah musisi terkenal yang melanglang buana dari Italia hingga ke Ibu Kota Inggris untuk menggubah musik klasik opera dan orkestra. Ia adalah kebalikan dari Bach. Johann Bach semasa hidupnya tidak begitu dikenal publik namun setelah ia meninggal, musiknya meninggalkan jejak bagi tiap komponis-komponis yang lahir setelahnya.

Ini mengingatkan saya pada banyak pekarya. Sebut saja di dunia seni lukis ada Van Gogh. Ia amat menderita semasa hidupnya bahkan ia memotong kupingnya sendiri karena menjadi gila. Ada juga penulis termahsyur Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, yang bukunya dilarang terbit pada jaman orde baru dan awal reformasi karena ia pernah berafiliasi dengan Lekra jaman PKI dahulu. Namun sekarang namanya menjadi salah satu tonggak khazanah sastra Indonesia.

Kembali ke pertunjukan musik klasik. Saya selalu tertarik untuk menonton musik klasik secara langsung. Entah mengapa saya merasa lebih senang untuk menonton pertunjukan musik klasik dibanding dengan jenis musik lainnya. Mungkin karena saya jarang menonton jenis musik yang satu ini. Terlebih lagi dengan tipe yang satu ini, resital dengan sedikit penuturan mengenai sejarah komponis dan musik yang dimainkannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s