Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta, Luis Sepulveda

IMG_20170808_211603

Antonio Jose Bolivar tinggal di sebuah gubuk kecil di daerah El Idilio, belantara hutan raya Amazon. Pak tua itu jatuh cinta dengan cerita cinta. Ia pandangi lekat-lekat kata demi kata dari buku yang ia baca. Buku yang berkisah tentang cerita cinta.

Walau kemampuan bacanya tidak seberapa, ia merasakan kata-kata yang demikian indahnya sampai kadang membuatnya lupa akan kebiadaban umat manusia. Manusia-manusia kulit putih yang mencari emas, ladang minyak, dan melacurkan keperawanan amazonnya. Belum lagi para pemburu macan kumbang yang mengusik semesta Amazonia dan menimbulkan kerisuhan di El Idilio tempat pak tua itu bermukim.

Pada bab pertama buku ini, penulis mengenalkan beberapa tokoh yang saya kira akan terus ada hingga akhir cerita. Namun cerita ini hanya terpusat, yang makin meruncing di bagian-bagian selanjutnya, pada tokoh Pak tua bernama Antonio Jose Bolivar. Diceritakan awal mula ia tinggal di El Idilio bersama beberapa penduduk, ketertarikannya akan novel cerita cinta dan tentu saja tentang hidupnya.

Saya baru sadar bahwa dengan alur penceritaan seperti itu, Luis Sepulveda membuat saya betah terus menerus membacanya. Inti novel ini sebenarnya dapat ditemukan di 1/4 bagian akhir novel namun Bab-bab awal novel ini membuat saya jatuh cnta dengan si pak tua yang membaca kisah cinta.

Novel ini bertema petualangan, yang tentu saja bisa dilihat dari sinopsis bukunya. Saya tidak begitu banyak membaca tema petualangan. Terakhir yang saya ingat mungkin harimau,harimaunya Mochtar Lubis, yang mana juga bercerita tentang pertarungan melawan hewan buas di tengah hutan rimba.

Luis Sepulveda pandai betul menceritakan tokoh-tokohnya dan alur cerita yang mengalir tenang namun menghanyutkan seperti sungai-sungai di Amazonia. Beberapa selipan humor membuat saya tertawa saat Antonio dan para temannya membicarakan tentang kota Venesia yang mereka baca dari novelnya Antonio. Ada juga humor gelap yang secara tepat muncul dalam beberapa adegan.

Novel pendek ini diterjemahkan dengan apik oleh Ronny Agustinus. Sangking bagusnya bahkan ada beberapa kosakata yang saya tidak tahu. Saya yakin sang penerjemah tidak hanya pandai berbahasa spanyol tapi juga memiliki perbendaharaan kata yang mumpuni. Saya juga pernah membaca terjemahan yang enak di buku Monster Kepala Seribu karya Laura Santullo. Buku itu diterjemahkan oleh Ratna Dyah Wulandari.

Di akhir novel,ada wawancara dengan Luis Sepulveda dan kaitan akan dirinya yang juga seorang aktivis politik. Bahkan wawancara ini pun tak kalah menarik dengan cerita novelnya. Saya berharap untuk membaca karya-karyanya lebih banyak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s