Kategori: catatan

Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta, Luis Sepulveda

IMG_20170808_211603

Antonio Jose Bolivar tinggal di sebuah gubuk kecil di daerah El Idilio, belantara hutan raya Amazon. Pak tua itu jatuh cinta dengan cerita cinta. Ia pandangi lekat-lekat kata demi kata dari buku yang ia baca. Buku yang berkisah tentang cerita cinta.

Walau kemampuan bacanya tidak seberapa, ia merasakan kata-kata yang demikian indahnya sampai kadang membuatnya lupa akan kebiadaban umat manusia. Manusia-manusia kulit putih yang mencari emas, ladang minyak, dan melacurkan keperawanan amazonnya. Belum lagi para pemburu macan kumbang yang mengusik semesta Amazonia dan menimbulkan kerisuhan di El Idilio tempat pak tua itu bermukim.

Pada bab pertama buku ini, penulis mengenalkan beberapa tokoh yang saya kira akan terus ada hingga akhir cerita. Namun cerita ini hanya terpusat, yang makin meruncing di bagian-bagian selanjutnya, pada tokoh Pak tua bernama Antonio Jose Bolivar. Diceritakan awal mula ia tinggal di El Idilio bersama beberapa penduduk, ketertarikannya akan novel cerita cinta dan tentu saja tentang hidupnya.

Saya baru sadar bahwa dengan alur penceritaan seperti itu, Luis Sepulveda membuat saya betah terus menerus membacanya. Inti novel ini sebenarnya dapat ditemukan di 1/4 bagian akhir novel namun Bab-bab awal novel ini membuat saya jatuh cnta dengan si pak tua yang membaca kisah cinta.

Novel ini bertema petualangan, yang tentu saja bisa dilihat dari sinopsis bukunya. Saya tidak begitu banyak membaca tema petualangan. Terakhir yang saya ingat mungkin harimau,harimaunya Mochtar Lubis, yang mana juga bercerita tentang pertarungan melawan hewan buas di tengah hutan rimba.

Luis Sepulveda pandai betul menceritakan tokoh-tokohnya dan alur cerita yang mengalir tenang namun menghanyutkan seperti sungai-sungai di Amazonia. Beberapa selipan humor membuat saya tertawa saat Antonio dan para temannya membicarakan tentang kota Venesia yang mereka baca dari novelnya Antonio. Ada juga humor gelap yang secara tepat muncul dalam beberapa adegan.

Novel pendek ini diterjemahkan dengan apik oleh Ronny Agustinus. Sangking bagusnya bahkan ada beberapa kosakata yang saya tidak tahu. Saya yakin sang penerjemah tidak hanya pandai berbahasa spanyol tapi juga memiliki perbendaharaan kata yang mumpuni. Saya juga pernah membaca terjemahan yang enak di buku Monster Kepala Seribu karya Laura Santullo. Buku itu diterjemahkan oleh Ratna Dyah Wulandari.

Di akhir novel,ada wawancara dengan Luis Sepulveda dan kaitan akan dirinya yang juga seorang aktivis politik. Bahkan wawancara ini pun tak kalah menarik dengan cerita novelnya. Saya berharap untuk membaca karya-karyanya lebih banyak.

Iklan

Pamer Gambar

Yang paling ditunggu di bulan Juli ini selain War for the Planet of  The Apes adalah Dunkirk.  Dunkirk adalah sebuah film karya sutradara Christopher Nolan.  Menarik untuk melihat pertama kalinya Nolan mengarahkan film perang. Dunkirk adalah sebuah kota di pinggir utara Perancis yang bebatasan langsung dengan Belgia dan Selat Inggris. Kota itu menjadi tempat terakhir tentara sekutu untuk kabur dari serangan tentara Jerman. Film ini menceritakan tentang misi penyelamatan ratusan ribu tentara Inggris dan Perancis dari kota tersebut.   Nolan tidak mengambil tema macam cerita perang lainnya yang sebagian besar tentang kemenangan, karena evakuasi para tentara ketanah airnya kali ini diartikan sebagai sebuah kekalahan.

Sebagian besar film mengambil gambar di pantai yang berbatasan langsung dengan selat Inggris.  Penceritaan dibagi menjadi tiga tempat dan waktu yang berbeda. Di darat atau lebih tepatnya di dermaga, di laut, dan di udara. Masing masing tempat diwakili oleh satu atau beberapa karakter. Contohnya di laut, bercerita tentang seorang ayah dan anak remajanya, beserta pelaut sipil lainnya, berlayar dengan kapal feri biasa untuk pergi menyelamatkan para tentara Inggris di pantai Dunkirk atas himbauan dari Angkatan Laut Inggris.  Di udara, dikisahkan dua orang pilot tempur berusaha mengejar pesawat tempur Jerman yang ingin menebom kapal-kapal evakuasi tentara di dermaga. Kisah ini diceritakan dalam kurun waktu satu jam.

Di dermaga, bercerita tentang seorang tentara Inggris bernama Tommy yang mengerahkan segala usahanya untuk bisa pulang ke Inggris karena musuh sudah berada di ujung kota Dunkirk dan siap menghabisi tentara yang berada di pantai. Pada bagian ini dikisahkan dalam kurun waktu sehari. Ketiga bagian cerita itu pada akhirnya bertemu di akhir film. Sudah bisa ditebak memang, tapi ada beberapa bagian yang membuat film ini menjadi menarik untuk ditonton.

Saya menyarankan untuk menonton di IMAX. Saya pernah membaca bahwa Nolan merekam film ini dengan camera khusus untuk IMAX. Entah itu benar atau tidak, saya seperti kebanyakan warganet yang tidak budiman, hanya membaca sekelebat saja. Namun dari sisi gambar dan suara, film ini pantas untuk disaksikan di layar IMAX. Awalnya saya sedikit pusing karena kamera bergerak secara kasar seperti dipegang dengan tangan namun setelah beberapa waktu pergerakan kamera menjadi lebih halus seperti film pada umumnya.

Ada beberapa pengambilan gambar yang menarik seperti ketika adegan di udara dan pesawat meliuk liuk disertai dengan desiran peluru. Saya rasa Nolan beserta DOPnya berhasil membuat saya terkagum dengan gambar yang ditampilkan. Hans Zimmer, sang pengarah suara, seperti biasanya selalu menyajikan musik pengiring yang pas di setiap adegan terutama di bagian akhir film.

Namun tidak seperti film Nolan lainnya yang punya kekuatan penceritaan yang mumpuni, kali ini saya merasa film Dunkirk biasa saja. Mungkin karena itu durasi film ini menjadi film paling pendek yang pernah dibuat oleh Nolan. Walaupun begitu Nolan kali ini tidak menonjolkan cara berceritanya, namun ia mungkin ingin pamer gambar. Karena film tidak hanya sekedar aspek cerita, bukan?

Lo Pikir Lo Keren: Komedi Tunggal Adriano Qalbi

Aktivitas pertama yang gue lakukan dalam dunia internet tiap senin pagi adalah membuka soundcloud untuk mendengarkan podcast awal minggu. Konten tersebut dibuat oleh seorang pelawak bernama Adriano Qalbi. Namanya gak seterkenal komika lainnya di Indonesia, tapi kabarnya dia jadi salah satu panutan dari para komika-komika yang terkenal itu.

Gue pertama kali denger namanya saat dia masih sering manggung di acara provocative proactive stand up, acara komedi tunggal yang bertema sosial politik. Namun pertama kali gue nonton dia manggung saat acara Jumat Keramat dalam memperingati hari anti korupsi tahun 2015 lalu. Setelah itu gue selalu ngikutin podcastnya dan hampir setiap dia manggung gue dateng.

Tanggal 28 Januari kemarin, untuk pertama kalinya dia mengadakan acara komedi tunggal. Karena sold out di penjualan pertama, akhirnya dia buka untuk pertunjukan kedua yang mana digelar sebelum pertunjukan pertama. Beruntungnya gue dapet tiket untuk pertunjukan utama, yang malem, jd joke yang dia pake udah “dicobain” dulu empuk enggaknya di pertunjukan tambahan sebelumnya.

Show di buka sama Ben Dhanio, komika keturunan tionghoa tapi bahasannya gak cuma perihal tionghoa aja. Lumayan lucu sih menurut gue tapi ya gak lucu lucu banget lah. Setelah dia turun, lalu tampil lah komika yang baru dua kali manggung namanya Patra. Dia sebenernya adalah penyiar genfm namun karena karirnya mentok di situ-situ aja, akhirnya dia banting stir jadi komika. Yang gue inget, Patra ngebawain bit soal keresahannya jadi penyiar, 3 alasannya jadi komika dan tentang afgan. Dia keliatan gak grogi waktu tampil dan untuk komika yang baru tampil dua kali, jokesnya lucu dan gak keliatan kayak komika baru gitu.

Selesai Patra ngelawak, muncul lah Kukuh dengan gimmick yang bikin ketawa duluan bahkan sebelum dia mulai ngomong. Penampilan Kukuh malam itu benar-benar lucu banget. Dia bawain bit customer service, sushi tei dan yang paling ngakak buat gue  sih bit soal berita negatif dan komentar netizen di internet. Gue ngakak parah banget. Adriano salah nih kayaknya taruh Kukuh jd pembuka pertunjukannya 🙂

Penampil utama yang buat nih acara akhirnya tampil ke panggung. Gue ngeliat muka Adri agak tegang waktu naik panggung, namun setelah dibuka dengan jokes cara ciuman, dia langsung keliatan lepas dan seenak jidatnya yang lebar buat ngebawain jokes. Yang gue suka dari Adri, selain dia lucu dan analogi di jokesnya keren, adalah dia orang yang bodo amat.

Peduli setan sama lo semua, gue ya gini. Kayaknya gitu yang ada di pikiran si Adri. Dia gak pake bridging antar jokes dan tetep bawa catetan bitnya ke panggung. Dengan sikap cuek gitu dia jadi menguasai audiens dan yang penting mah, kalau kata dia, lucu.  Sikap cuek Adri gini nih, mirip-mirip sama persona rock star. Mungkin karena banyak rock star yang jd idolanya, dia jd ikut ikutan gini personanya.

Lo pikir lo keren jadi judul dari pertunjukan ini karena selain sentilan buat para netizen, yg mana Adri sebel banget, juga jadi pengingat buat dirinya tiap dia ngaca supaya ngingetin dia untuk gak belaga keren. Karena kata Adri, orang keren tuh kayak orang bau ketek 🙂

Tapi setelah sukses bikin gue gak berhenti ketawa di show ini, gue harus bilang: Lo emang keren kok, Dri.

c3jk_-bvuaanfbc
source: @piokharisma @adrianoqalbi

Oh iya, gue dateng waktu Adri ngadain gladi resik untuk show ini. Jadi gue udah denger bit-bit dia dua kali dan masih aja ketawa ngakak. Shownya dia emang layak untuk ditonton dua atau tiga kali bahkan kalau lo seorang #gariskeras @adrianoqalbi.

All Begins With Bach, Lecture Recital.

Tengah pekan di akhir bulan Januari, Erasmus Huis mengadakan sebuah kuliah resital. Disebut kuliah karena ini bukan pertunjukan musik klasik biasanya. Yang menjadi pembicara atau pemberi “kuliah” kali ini adalah Merlijn Kerkhof, seorang kritikus musik klasik sekaligus penulis buku All Begins With Bach. Ia menjelaskan mengenai musik dan sedikit sejarah tentang Johann Sebastian Bach namun ia tidak memainkan musiknya. Pemain musiknya yaitu Merel Vercammen (violin) dan Joachim Ejlander (cello) serta pianis muda asal Indonesia Caitlin Wiranata.

Pertunjukan dibuka dengan permainan solo dari Joachim dengan membawakan musik dari Bach yang saya tidak tahu namanya. Setelah membuka dengan permainan cello yang rapi, Merlijn tampil ke panggung dengan menjelaskan bahwa Bach, seorang musisi dari Jerman, sebagai salah satu pioner dalam aliran musik klasik. Setelah itu ia menjelaskan bahwa musik yang akan dimainkan selanjutnya adalah gubahan Bach yang berjudul The Invention, yang dimainkan oleh Joachim beserta Merel. The invention ,sepenuturan Merlijn, adalah sebuah puzzel yang mana tiap nada yang berbeda-beda digabungkan dalam satu kesatuan yang sama.

Selesai mereka memainkan musik tersebut, Merlijn kembali menaiki panggung untuk berbicara sedikit mengenai sejarah hidup Johann Bach. Bach adalah pria yang memiliki banyak anak, namun sayangnya hanya sedikit dari anaknya yang tumbuh hingga dewasa. Jadi saat itu, rumah Bach penuh sesak dengan anak-anak. Salah satu musik yang Bach ciptakaan adalah musik untuk anak-anak. Lantas Merlijn memanggil Caitlin Wiranata untuk memainkannya dengan piano. Musik yang dimainkan terdengar menyenangkan.

Pertunjukan kali ini tidak hanya menyajikan mengenai musik Bach saja, namun juga salah satu musisi yang terkenal semasa Bach hidup yaitu Handel. Georg Handel adalah musisi terkenal yang melanglang buana dari Italia hingga ke Ibu Kota Inggris untuk menggubah musik klasik opera dan orkestra. Ia adalah kebalikan dari Bach. Johann Bach semasa hidupnya tidak begitu dikenal publik namun setelah ia meninggal, musiknya meninggalkan jejak bagi tiap komponis-komponis yang lahir setelahnya.

Ini mengingatkan saya pada banyak pekarya. Sebut saja di dunia seni lukis ada Van Gogh. Ia amat menderita semasa hidupnya bahkan ia memotong kupingnya sendiri karena menjadi gila. Ada juga penulis termahsyur Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, yang bukunya dilarang terbit pada jaman orde baru dan awal reformasi karena ia pernah berafiliasi dengan Lekra jaman PKI dahulu. Namun sekarang namanya menjadi salah satu tonggak khazanah sastra Indonesia.

Kembali ke pertunjukan musik klasik. Saya selalu tertarik untuk menonton musik klasik secara langsung. Entah mengapa saya merasa lebih senang untuk menonton pertunjukan musik klasik dibanding dengan jenis musik lainnya. Mungkin karena saya jarang menonton jenis musik yang satu ini. Terlebih lagi dengan tipe yang satu ini, resital dengan sedikit penuturan mengenai sejarah komponis dan musik yang dimainkannya.

Arrival dan La La Land: Pembuka Yang Baik

la-la-land-and-arrival-among-afi-s-top-ten-movies-of-2016
source: aceshowbiz.com

Film pertama yang  saya tonton di tahun yang baru ini adalah Arrival. Sebenarnya film ini telah rilis tahun lalu di luar negeri namun baru awal tahun ini ada di bioskop Indonesia. Arrival  menggambarkan komunikasi manusia dengan mahluk asing yang singgah di bumi. Sebagian besar film dihabiskan untuk memecahkan halangan akan komunikasi tersebut serta maksud dan tujuan mereka ke bumi.

Sebenarnya saya kurang begitu terarik dengan film sci-fi yang ada hubungannya dengan alien. Saya cenderung menyukai film sci-fi seperti Interstellar. Namun karena sinopisnya cukup menarik, terlebih yang bermain adalah Amy Adams  (she’s so hot isn’t it?) jadi saya memutuskan untuk menontonnya.

Film ini melambung  jauh dari apa yang saya ekspektasikan. Saya kira hanya berkisar di pertemuan mahluk asing dan manusia, komunikasi mereka dan maksud mereka ke bumi. Arrival mengisahkan lebih dari itu. Alurnya maju mundur dan musik pengiringnya menggantung di telinga saya terus menerus. Ada keganjilan saat credit film tampil. Mungkin ini yang namanya after taste dari menonton sebuah film. Yang sering saya rasakan adalah euforia setelah menonton tapi untuk yang satu ini adalah keganjilan dan kaget bahwa Arrival tidak sesuai  dengan ekspektasi saya, in a good way.

Kreator film ini adalah Denis Villeneuve. Ia adalah sutradara dari film Prisoners dan Enemy. Dua film yang saya tonton dengan ending yang gak banget. Pantas saja Arrival ganjil setelah saya selesai menontonnya. Untuk film Prisoners dan Enemy, saya sedikit kesal kenapa film film tersebut harus diakhiri dengan cara seperti itu. Oh iya, film Enemy, sedikit bernuansa Kafka. Hal berbeda saya rasakan setelah menonton Arrival dan berucap dalam hati akhirnya saya bisa menikmati film Villenueve. Menikmati yang saya maksud tetap dengan rasa keganjilan, tapi menyenangkan.

Selang tiga hari setelah menonton Arrival, saya memutuskan untuk melepas rasa penasaran dengan La La Land. Film tersebut  membuat saya penasaran karena panen penghargaan di Golden Globe tgl 8 Januari tahun ini. Sehari setalah penayangan Golden Globe di tv, akhirnya 21 cineplex merilis film tersebut. Jujur saya tidak pernah tertarik untuk menonton film musikal drama karena saya selalu merasa aneh menonton film sembari melihat orang orang bernyanyi lipsync. Namun untuk yang satu ini, atas dasar rasa penasaran saya menontonnya di hari pertama film ini rilis.

Awal film disuguhkan dengan musik yang sebetulnya menyenangkan dan koreografi yang asik, tapi entah kenapa saya masih belum tertarik. Apa yang saya duga sebelumnya bahwa La La Land hanya jadi film yang tidak dapat saya nikmati nyaris terjadi sampai Ryan Gosling dan Emma Stone menyanyi duet dengan koreografi yang membuat saya jatuh hati. Mereka menyanyi dan menari dengan setting di bukit Hollywood malam hari. Mungkin karena yang mereka nyanyikan adalah irama musik jazz yang membuat saya menjadi tertarik.

Setelah adegan itu, saya dapat menikmati setiap adegan-adegan yang disuguhkan. Walaupun para pemain di film tersebut menari dan menyanyi dengan gaya khas musikal drama, entah mengapa yang biasanya saya menganggap hal tersebut aneh, justru saya malah terbawa suasana dan semakin tertarik pada film ini.

Saya suka jazz. Mungkin itu salah satu alasan kenapa saya menyukai film ini. Lagu lagu di film ini amat bagus dan itu adalah salah satu alasan kita menyukai musikal drama bukan? Terlebih dari itu, saya kagum dengan akting Emma Stone. Salah satu akting terbaik yang pernah saya lihat.

Sutradara film La La Land adalah Damien Chazelle. Ia adalah orang yang membuat film Whiplash. Film yang juga saya sukai. Saya lihat Chazelle memang tertarik dengan jazz karena selain whiplash dan la la land, film pertamanya juga bertema jazz yang saya lupa judulnya apa. Selain itu, Justin Hurwitz sebagai komposer di film La La Land juga menghasilkan karya yang luar biasa.

Dari setiap aspek yang saya suka dari film ini, mungkin yang paling patut diacungi jempol adalah ending dari film ini. Saya tidak tahan untuk tidak terharu.

Awal tahun saya dibuka dengan mengkonsumsi karya- karya yang luar biasa ini. Baik La La Land dan Arrival mengejutkan saya dengan cara yang berbeda. Meninggalkan rasa yang berbeda pula. Kedua film tersebut meruntuhkan ekspektasi saya dengan cara yang elegan. Atau mungkin cuma saya saja yang berlebihan.

Anak Kecil Yang Merengek

Setelah selesai membaca memoar Etgar Keret, aku merasa ketagihan membaca memoar penulis lainnya. Aku memutuskan untuk mencari di internet dan menemukan memoar Murakami, What I Talk About When I Talk About Running, dalam terjemahan Bahasa Indonesia.

Aku sudah punya banyak daftar buku yang ingin ku beli dan buku memoar ini adalah salah satunya. Namun dulu aku menemukannya dalam bahasa Inggris dan harganya lumayan mahal. Sebagai manusia dengan kemampuan ekonomi yang terbatas, memilih judul buku mana yang harus lebih dulu dibeli adalah pilihan sulit. Untungnya buku memoar yang sudah diterjemahkan ini tidak terlampau mahal.

Aku berangkat ke toko buku yang tidak jauh dari rumahku. Sesampainya di sana, aku langsung menuju komputer pencarian dan mengetik nama Murakami. Sayangnya tidak ada judul buku dengan pengarang Murakami yang aku inginkan. Lalu aku berjalan menuju rak-rak buku baru dan toko buku itu memajang sastra klasik dengan sampul yang baru & menarik.

Di sana terpampang nama Tolstoy, Karl May, Ernest Hemingway, Flaubert, Anton Chekov, dll. Aku memegang buku itu satu persatu untuk membaca sinopsisnya. Dalam pikiranku, aku menimang nimang buku mana yang harus ku beli jika buku Murakami tak berhasil ku temukan.

Pada saat itu lah aku berpapasan dengan anak kecil yang meminta dibelikan komik oleh Bundanya. Kebetulan memang rak buku yang kusinggahi tidak jauh dari rak komik anak-anak. Anak itu meminta dibelikan dengan nada memelas sekali atau dua kali. Bundanya berkata tidak dan pergi ke bagian rak buku yang lain. Anak itu mengikuti Bundanya. Kali ini ia meningkatkan nada berbicaranya sampai pada tahap merengek.

Aku kembali menolehkan pandanganku pada karya klasik Tolstoy, namun pendengaranku menangkap rengekan anak itu. Seketika hal ini mengingatkanku akan masa kecilku.

Dahulu sebelum aksara membuatku jatuh cinta, aku tertarik oleh visualisasi komik Tsubatsa. Aku pun dulu meminta pada Ibuku untuk dibelikan komik. Namun entah mantra apa yang Ibuku gunakan, aku tidak pernah merengek seperti anak ini meminta dibelikan komik oleh Bundanya.

Saat aku menginginkan sesuatu, aku berpikir puluhan kali. Di kepalaku berputar putar pertanyaan haruskah aku membeli buku ini? Jika banyak jawaban Ya (terkadang lebih banyak pula jawaban tidak) berkumpul di pikiranku, maka dengan hati hati aku menanyakannya pada Ibuku.

Kadang jawabannya menggembirakan, namun tidak jarang kata tidak yang Ibuku ucapkan. Saat penolakan itu terlontar, aku tidak meminta dibelikan dengan cara merengek. Dengan gerakan penuh kekalahan atas sebuah keinginan, aku meletakan komik atau terkadang novel, kembali ke tempat semula ia berada.

Hal ini mungkin terbawa sampai sekarang. Walau saat ini aku lebih sering sendiri tanpa Ibuku untuk pergi ke toko buku, aku masih berpikir keras untuk memilih buku yang ingin aku beli. Tentu aku menulis ini bukan untuk menyalahkan anak itu yang merengek pada Bundanya. Dengan melihat anak itu, membawa pikiranku kembali ke masa lalu. Di toko yang sama, meminta dibelikan oleh Ibu benda yang sama.

Keadaanku saat ini dengan anak kecil itu mungkin tidak jauh berbeda. Aku yang diakhir masa remaja berpikir keras untuk memilih buku yang dibeli dengan uang jajan yang pas pasan. Ia, seorang bocah yang merengek pada Bundanya untuk dibelikan komik yang diinginkan. Ya, aku merengek dalam hati kepada dompetku yang tipis sekali.


Aku berkeliling-keliling, singgah dari satu rak ke rak lainnya dan akhirnya menemukan buku memoar Murakami. Buku itu berada di kategori biografi tapi tidak tercantum di mesin pencarian. Aku membayar dan membawa pulang buku diari Murakami tentang berlari. Aku mendapat apa yang aku inginkan.

Saat aku menuruni tangga eskalator, sekilas aku melihat anak yang tadi merengek. Ia berjalan setengah berlari menuju meja kasir dengan senyum lebar sembari menenteng komik yang ia pinta dari Bundanya.

Orang-Orang Bloomington, Budi Darma

30137424
foto: goodreads.com

Kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington bercerita tentang sisi suram kehidupan. Mendeskripsikan tokoh-tokohnya dalam potret yang kelabu. Setelah selesai membaca tiap cerpen yang ditulis di buku ini, selalu membuat saya diam sejenak karena emosinya masih membekas di dada. Budi Darma menunjukan sisi kelam manusia dalam balutan masyarakat yang individualis.

Ia mengambil latar kehidupan di kota Bloomington, Indiana. Tempat di mana ia melakukan studinya di Amerika. fiksi yang dicertiakannya berdasarkan fakta yang ada di kota tersebut. Seperti yang pernah ditulis Eka Kurniawan, formula terbaik sastra selalu menyuguhkan kejadian sesungguhnya. Penggambaran akan jalan, perumahan, blok-blok pertokoan dan terutama emosi tokoh terproyeksi jelas di kepala saya. Dengan pengambilan sudut pandang orang pertama di tiap cerpennya, seakan membuat saya membaca kumpulan cerita personal dan terasa amat nyata.

Akhir-akhir ini saya sering membaca buku sastra Indonesia. Walau tak bisa dibilang spesial, sastra Indonesia punya rasanya tersendiri. Namun ketika membaca kumcer ini, saya seperti membaca terjemahan sastra asing. Bisa jadi ini karena latar tempat yang berada di Amerika tapi memang kumcer ini memiliki gaya penceritaan yang terasa seperti sastra asing yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Tokoh saya dalam buku ini punya satu gaya yang selalu sama tiap cerpennya yaitu mengamati dan terkadang menghakimi. Tokoh-tokoh seperti Joshua Karabish, Ny. Elberth & Charles Lebourne mempunyai karakter yang kompleks dan suram. Tidak ada kebahagiaan di tiap tokoh dalam cerpen ini. Pengecualian untuk Yorick yang mana justru emosi yang gelap ditunjukan oleh tokoh saya. Sebuah cerpen dengan judul Orez murni adalah cerita pengamatan tokoh saya terhadap anak anak yang bermain di lapangan apartemen.

Alasan saya mengambil buku ini di salah satu rak sastra Indonesia karena ada kata kata endorsment dari Eka Kurniawan di sampul depan. Terlebih juga ada testimoni dari Leila Chudori dan Agus Noor di belakang novel. Hal itu membuat saya memutuskan untuk membawa pulang buku ini. Sampul depan yang apik juga jadi salah satu alasan karena ilustrasi gambar atap-atap rumah di kota Bloomingtoon yang terlihat seperti latar tempat serial tv Hey Arnold

Karya ini adalah salah satu favorit saya dalam mengekspose sisi gelap manusia. Orang-Orang Bloomington adalah sebuah cerita kolektif akan muramnya kehidupan manusia.