Kategori: Opini

Hobi Masa Muda

Hobi membaca itu sebenarnya cukup menyesakan. Membaca buku itu buang banyak waktu. Tidak ada jaminan juga kalau saya banyak baca akan ada pengaruh yang besar untuk hidup saya. Sejauh saya hidup, saya belum merasakan efek dari banyak membaca. Memang bolehlah dikata bahwasanya saya lumayan tahu banyak hal karena hobi saya ini.

Dibanding dengan teman sepermainan, pengetahuan akan budaya massa dan sastra saya lebih baik. Ini mungkin juga saya yang sok paling tahu atau saya salah berteman.

Namun selebihnya, saya tidak mendapat efek apa-apa dari banyak membaca selain kepuasan diri saja. Membaca membawa saya menuju sebuah realitas yang baru. Sebuah eskapisme dari realitas yang saya jalani. Karena juga pada dasarnya saya menyukai kata-kata, itu menjadi dorongan terbesar saya untuk terus membunuh waktu dengan membaca.

Tidak selamanya membaca itu menyenangkan. Sekali duakali saya menemukan buku yang tidak saya selesaikan. Mungkin sinopsisnya menarik untuk dibaca tapi ternyata isinya mengecewakan bagi saya. Saat membaca buku yang seperti itu, saya lebih sering istirahat untuk membaca dan melamun untuk waktu yang lama sambil memegang buku yang saya baca.

Hingga saat ini, tulisan saya nyaris rendah sekali mutunya. Banyak baca katanya akan meningkatkan mutu menulis kita. Tapi nyatanya tulisan saya masih serupa dengan pengeran si buruk rupa dari dongeng la belle et la bête. Atau mungkin saja bacaan saya kurang banyak dan kurang luas(ini kemungkinan paling besar tentunya).

Saya sepertinya juga harus mendisiplinkan diri sendiri. Saya harus membuat sedikit catatan membaca. Ini dikarenakan sebagian besar buku yang saya baca, saya lupa beberapa bagiannya. Bahkan saya lupa bagian mana dari buku-buku itu yang saya suka.

Saya pernah membaca sebuah esai dari Aan Mansyur tentang tidak enaknya punya hobi membaca buku (yang saya lagi-lagi lupa beberapa alasannya). Saya rasa hal tersebut cukup relevan dengan keadaan saya.

Seringkali saya menimbang-nimbang dan berimaji, ketika tua nanti, apakah saya akan menyesali hobi masa muda saya ini?

Iklan

Kartun Masa Kecil

Saya menyalakan televisi pada pukul 16.00 untuk melihat channel berita Indonesia. Channel televisi Indonesia jelek dari segi acara oleh karena itu saya hanya menonton channel berita Indonesia saja. Ya walau terkadang channel berita kita pun jadi alat propaganda pemiliknya yang ingin ikut berpolitik.  Bahkan akhir akhir ini saya hanya sering menonton CNN saja untuk channel berita Indonesia.

Seketika saya sadar, 10 tahun lalu, pada  sore atau bahkan agak lebih siang, saya sering menyalakan televisi untuk menonton kartun kartun dari Nickelodeon yang ditayangkan oleh televisi nasional. Saat itu entah TV One (yg saat itu masih bernama lativi) atau Global TV yang menyiarkannya.  Sejauh yang saya ingat, channel tersebut menyiarkan kartun kartun Nickelodeon dari jam 2 siang hingga 5 sore. Bahkan di pagi hari sebelum berangkat sekolah ada beberapa kartun yang disiarkan. Yang saya ingat kalau pagi mereka menyiarkan kartun Chalk Zone. Pada siang hingga sore harinya, ada kartun maraton mulai dari Rugrats, The wild thornberry’s, Cat and Dog, dan yang paling banyak penggemarnya yaitu, Spongebob Squarepants. Namun saya punya kartun favorit, bahkan mungkin hingga saat ini, yaitu Hey Arnold!

Hey Arnold adalah kisah seorang bocah berumur 10 tahun bernama Arnold yang hidup bersama kakek dan neneknya. Cerita kartun tersebut berkisar di kehidupan Arnold dan teman teman sekolahnya yang juga para tetangganya. Diantara teman temannya tersebut ada juga yang sering berkonflik dengannya seperti Helga yang mana di sisi lain juga mengagumi Arnold.

Hey Arnold menjadi kartun favorit saya karena selain gambarnya yang menarik, juga ceritanya yang berkisar di umur yang sama ketika saya menontonnya. Hey Arnold pun menjadi terlihat realistis bagi saya. Kartun, terutama bagi anak anak, dapat dibalut oleh cerita apapun. Dari Spons yang hidup di bawah laut hingga anjing dan kucing dalam satu tubuh yang sama. Namun bagi saya Hey Arnold menarik dari sisi realisnya.

Hey Arnold juga  yang mungkin saja membuat saya saat ini menjadi ketagihan menonton serial-serial semacam Louie yang berkisar di kehidupan sehari hari seseorang. Saya baru sadar ternyata panutan saya saat kecil bukanlah dari seseorang yang nyata tapi dari karakter seorang Arnold.

hey-arnold-hey-arnold-13820619-1037-648
foto: fanpop.com

Arnold digambarkan sebagai bocah 10 tahun yang bijak. Dia bukanlah pemimpin diantara teman temannya tapi dia menjadi seorang juru damai dan kadang berisikap berani. Ia memiliki seorang sahabat bernama Gerald, seorang afro america. Mungkin pembawaanya yang santai, tidak mengedepankan kekerasan, berani dan paling utama yaitu bersikap bijak yang membuat saya menjadikannya karakter favorit. Secara tidak sadar mungkin dulu saya ingin menjadi dirinya.

Saya tahu mungkin saat ini saya belum sampai pada titik dimana bisa mewujudkan karakter seorang Arnold, bocah berusia 10 tahun, untuk diri saya sendiri. Dan saya sadar, untuk ukuran anak berumur 10 tahun, Arnold sudah jauh lebih dewasa dibanding teman temannya.

Bercita cita menjadi seorang Arnold ketika SD dulu tentu bukan sesuatu yang salah. Setidaknya saya memimpikan menjadi seorang anak yang cinta damai dan bijak. Arnold adalah role model bagi saya dahulu. Saya cukup senang akan kenangan itu.

Sekarang jarang saya temui kartun kartun yang disiarkan oleh televisi Indonesia. Ya mungkin karena saya juga jarang menonton channel tv Indonesia. Saya bersyukur karena tontonan masa kecil saya menyenangkan dan mungkin tontonan tersebut lah yang membentuk selera dan karakter saya saat ini.

Thanks for the memory, Arnold and friends!

Jarang Menulis

tumblr_static_tum
source: dominique jackson

Awalnya platform ini saya jadikan sebagai saluran tulisan saya tentang apapun. Keinginan saya untuk menulis memang besar, tapi nyatanya saya jarang untuk melakukannya. Beberapa hal sudah saya lakukan untuk dapat meningkatkan  jumlah tulisan saya agar lebih sering tampil dalam laman ini.  Salah satu diantaranya dengan membuat kategori catatan akhir pekan.

Di catatan akhir pekan tersebut, setidaknya  saya telah membuat tenggat waktu untuk diri saya pribadi agar menulis  tiap pekannya satu artikel. Hal ini makin saya longgarkan  dari sisi kepenulisan. Saya tak harus memakai kata yang baku, membicarakan apapun, asal saya menulis satu artikel selama seminggu. Pada ujungnya saya tidak mampu melaksanakan hal yang saya targetkan sendiri.

Menulis, kata mereka, adalah sebuah kebiasaan. Saya sadar akan jeleknya tulisan saya. Oleh karena itu saya ingin terus menulis agar suatu saat tulisan saya dapat terus  berkembang. Seperti kata Tan Malaka: Terbentur, terbentur, terbentur lalu terbentuk.

Saya juga ingin blog ini menjadi kapsul waktu  bagi tulisan saya. Suatu saat di masa depan nanti, ketika  menulis adalah sebuah keseharian, saya dapat melihat bagaimana tulisan tulisan saya dimasa lalu lewat platform ini. Saat ini amat jelas menulis bukalah kegiatan sehari hari bagi  saya.

Mungkin keseharian saya yang paling dekat kaitannya dengan kepenulisan adalah membaca. Saya baru sadar belakangan, membaca adalah hobi yang tidak pernah surut.  Saya adalah orang yang selalu ingin tahu. Mungkin medium tulisan adalah tempat di mana saya mendapatkan keingintahuan tersebut, oleh karena itu  saya rajin membaca.

Atas dasar rajin membaca lah yang membuat saya memutuskan untuk menulis. Setiap orang yang gandrung akan bacaan pastilah ada satu titik dimana ia  ingin menulis pula.  Saya rasa sudah lama saya  berada di titik tersebut. Saya sering membaca sesuatu yang menurut saya sederhana, tapi kalimat kalimatnya membekas di ingatan, pada titik itulah saya ingin agar saya mampu menulis hal hal seperti itu.

Terkadang keinginan kuat untuk menulis tidak dibarengi dengan ide ide yang ada. Di saat saya menargetkan untuk menulis tiap pekannya, ide adalah oase di padang gurun. Sulit menemukan ide untuk menulis. Bahkan ketika telah menemukan ide tersebut, mengembangkannya menjadi sebuah tulisan jauh lebih sulit.

Saya tidak tahu apakah saya orang yang berbakat untuk menulis atau tidak. Namun sejauh yang saya ingat, saya cukup akrab dengan kata kata. Untuk saat ini saya tidak terlalu muluk untuk menghasilkan tulisan yang bagus. Setidaknya saya bisa menulis secara berkesinambungan dan setelah itu mari berbicara soal mutu tulisan.

Catatan Akhir Pekan 12 Maret 2016: Banyak Membaca

tumblr_l5ohy137bi1qb0j8no1_1280
sumber: tumblr.com

Sejak kecil saya punya hobi yang berganti ganti. Dulu ketika umur saya 10 tahun, saya hobi bermain sepeda. Sore hari saya ambil sepeda dan bermain bersama teman teman yang lain. Sejak masuk smp, hobi saya berganti menjadi bermain futsal dan menonton film. Sampai sekarang pun masih suka untuk bermain futsal namun terkadang keinginan tersebut suka hilang kalau  malas bergerak. Sedangkan untuk menonton film, akhir-akhir ini ada distraksi dari internet karena ketika saya menonton sering tidak betah dan sambil melihat linimasa atau bahkan mencari referensi film lainnya. Internet membuat rentang perhatian saya semakin kecil.

Namun diantara hobi yang terang redup minatnya itu, ada hobi yang selalu dikerjakan bahkan internet pun tidak dapat mereduksinya. Justru internet menambah hobi ini menjadi semakin adiktif. Membaca adalah hobi yang tak pernah tergerus rasa bosan itu. Bahkan bukan hanya menjadi sebuah hobi, hal ini adalah sebuah kebutuhan.

Selepas bangun pagi, saya ambil koran langganan sambil menyantap sarapan. Di sela sela waktu luang saya membuka situs berita, terutama The Guardian, untuk memenuhi rasa ingin tahu dari berbagai topik di belahan dunia. Entah mengapa informasi membuat saya semakin ketagihan untuk membaca. Mungkin saja pernah ada penelitian yang menunjukan bahwa mengetahui informasi itu membuat seseorang kecanduan untuk mengkonsumsinya lebih.

Belum lagi setidaknya ada satu buku yang harus saya habiskan bacanya selama sebulan. Saya adalah pembaca yang lamban. Terkadang ketika membaca sebuah  atau beberapa kalimat, saya berhenti sejenak unntuk meresapi kata kata itu dan merasakan emosi yang dibawanya. Begitulah kenapa saya terkadang menjadi sentimentil akan sebuah karya dan menjadi pembaca yang lambat. Lambat namun perasa.

Semakin sering saya membaca, baik itu artikel berita, karya sastra, atau buku non fiksi, semakin sering saya merasa bodoh dan tidak tahu apa apa. Banyak hal baru yang setiap  harinya saya temui lewat sebuah bacaan. Mungkin ini yang membuat saya sulit lepas dari media sosial. Ketika istirahat membaca buku, biasanya saya membuka ponsel untuk melihat berita apa saja yang ada di media sosial. Ya begitulah, saya istirahat membaca dengan membaca bacaan lainnya.

Sejujurnya, saya merasa bacaan saya kurang luas. Saya membaca apa yang penulis lain baca. Begitulah resep untuk mengetahui bacaan yang baik kata Eka Kurniawan.  Sering saya mengagumi sebuah artikel atau karya sastra yang isinya luas akan pengetahuan dan hal itu membuat saya mengulik lebih jauh dalam hal bacaan. Saya yakin yang saya baca pun pasti jauhlah lebih sedikit dari kebanyakan pembaca ulet di Goodreads Indonesia.

Membaca amat lah mudah , mungkin itu yang membuat saya terus menggeluti hobi ini selain karena rasa ingin tahu saya yang tinggi. Membaca juga lah yang menarik saya untuk menulis. Walau saya yakin yang saya tulis pasti berantakan karena saya baru membiasakan untuk melakukannya. Semoga saja seiring dengan banyaknya saya membaca dan menulis, tulisan saya jadi lebih berisi dan berkarakter.

Dengan banyak membaca, saya justru semakin penasaran dan tidak penah terpuaskan akan pengetahuan.

Catatan personal Berlin-Frankfurt

Perjalanan adalah sebuah tahap dalam mencapai tujuan.  Bagi saya justru perjalanan ini adalah sebuah tujuan itu sendiri. Sebagai sebuah ingatan, perjalanan itu saya dokumentasikan. Saya merekam dalam ingatan dan dituangkan dalam tulisan. Karena pendokumentasian tidak hanya terekam dengan kamera, terekspos dengan foto saja, namun perjalanan ini sangat personal bagi saya, untuk itulah ingatan adalah medianya. Rekam dalam ingatan dan tuliskan.

Entah darimana awal ini bermula, tapi saya  rasa sudah 9 bulan lebih kami adalah sebuah keluarga. Kami adalah sekawanan mahasiswa yang ingin merasakan bagaimana rasanya atmosfer Eropa dan mencicipi sedikit rasa pendidikan disana. Jerman menawarkan kesempatan tersebut dan kami mengambilnya dengan penuh perjuangan.  9  bulan adalah waktu yang cukup panjang untuk dihabiskan mempersiapkan perjalanan 12 hari kami di Jerman. Namun di waktu-waktu itu pulalah yang mengingatkan saya bahwa semakin dekat kami bersama, kami telah membentuk sebuah ikatan yang lebih dari sekedar kawan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa mungkin saja 11 orang dari kami memiliki persepsi yang berbeda beda dalam menyikapi perjalanan ini. Ada yang memendam dalam hatinya sendiri dan ada pula yang meluapkan emosinya secara terbuka. Persiapan panjang dan berbagai konflik yang ada, saya amati, berakahir cukup bahagia bagi kami semua. Ratusan foto dan puluhan video perjalanan kami di Berlin dan Frankfurt, dua kota tujuan kami Jerman, mendeskripsikan perjalanan kami disana.

Bagi saya secara pribadi, merasakan budaya Jerman adalah sebuah kesenangan yang luar biasa. Awalnya hanya angan-angan, seorang udik macam saya diberi kesempatan menonton orkestra di salah satu teater musik terbaik di kota Berlin. Percayalah pada mimpimu adalah sebuah kata-kata klise yang sering secara malas saya dengarkan namun ternyata hal tersebut juga ada benarnya.

Berlin adalah sebuah kota metropolis yang komplit. Kaya akan sejarah dan ramai dengan kegiatan bisnisnya. Sejarah kota berlin dapat ditarik dari awal dalam sejarah Prusia hingga perang dunia kedua yang memisahkannya menjadi dua teritori. Hal eksotik bagi penggemar sejarah seperti saya adalah masa perang dunia kedua dan pasca perang tersebut. Berliner mauer membelah Berlin dengan dinding tebal dan dingin yang kini menjadi saksi sejarah yang eksotis. Sebuah tembok yang membatasi kebebasan bagi penduduk Jerman  Timur dahulu kala dan sebeuah kukungan bagi penduduk Jerman Barat.

Kini Berlin berbenah. Banyak konstruksi konstruksi bangunan yang sedang diajalankan. Salah satunya adalah sebuah komplek kota tua yang sedang dilestarikan bernama Museum Island. Pembangunan rekonstruksi tersebut berjalan hingga 15-20 tahun kedepan.  Masyarakat pun belajar dari sejarah mereka. Saya bertemu dengan Kristen, Josef, dan Patricia. Pendapat mereka dan hubungan sejarah masyarakat dan bagaimana mereka belajar dari sejarah tersebut membuat saya paham. Kita tidak akan pernah maju jika tidak pernah menoleh kebelakang.

Frankfurt menyampaikan ceritanya sendiri. Terkenal sebagai Vatikannya kaum kapitalis eropa, dimana disanalah terletak keharibaan Gedung Bank Sentral Eropa yang menjulang tinggi, kini kota Frankfurt berbenah menjadi sebuah kota yang ingin menonjolkan pariwisatanya. Pemerintah kota Frankfurt mendesain  sejak tahun 80an sebuah pusat museum dipinggir suangai Main. Sebuah grand design akan reposisi kota yang tadinya sebagai pusat finansial menjadi sebuah kota pusat pariwisata. Frankfurt mengedepankan sebuah hal yang kontras. Ingin ramai tidak hanya di tengah pekan, yang penuh dengan perjalanan bisnis, namun juga menyemarakan akhir pekan dengan perjalanan wisata.

Di Frankfurt, saya bertemu dengan Lauren Ugur, seorang Prof dalam bidang urban planning yang fokus pula terhadap bidang pariwisata di kota Frankfurt. Ia memaparkan bagaimana Frankfurt yang ingin berubah dengan berbagai aktivitas akativitas marketing yang inovatif untuk pariwisatanya. Saya bertanya pada dirinya, darimana ide ini semua muncul, apakah insiasi sebuah kelompok atau riset akademis yang dilakukannya. Jawabannya adalah riset riset dan kemauan dari pemerintahnya. Saya menyadari bahwa sebuah negara, atau dalam hal ini sebuah kota, akan semakin maju jika menempatkan orang-orang baik di pemerintahan.

Selama perjalanan kami di Jerman, kami ditemani oleh seorang tour guide bernama Julia. Masyarakat Jerman tidak terbiasa memanggil nama mereka dengan nama depan karena itu dianggap tidak sopan. Namun Julia mengenalkan namanya dengan nama depannya kepada kami, sebuah rasa keterbukaan yang ingin ditunjukannya. Bagi saya, Ia adalah pribadi yang menarik. Seorang polyglot dan vegetarian. Pandangannya terhadap lingkungan begitu besar. Ia berpikir bahwa kita, manusia, sudah sampai jauh menjelajah mars, menciptakan nano teknologi, namun kita masih memakai kulit hewan dikaki kita. Dia berpikir betapa terbelakangnya kita jika disuatu saat dimasa depan nanti kita menoleh kebelakang  dan meihat hal ini. Lelucon masa depan pikirku.

Julia memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian lima tahun lalu ketika ia menyadari bahwa mass production akan daging hewan dilakukan semena mena dan menyakiti hewan. Pada tesisnya yang sedang ditulisnya saat ini, ia mengambil topik mengenai vegetarian yang sedang berkembang di Jerman. Saat ini pertumbuhan vegetarian di  Jerman cukup tinggi dan semakin meningkat. Banyak  hal yang saya pelajari darinya, dan membuat saya beranggapan bahwa dia adalah perempuan yang pintar. Perempuan pintar selalu menarik bagi saya.

1448196923899

Di Frankfurt dan Berlin, saya dan teman teman berkesempatan ke berbagai tempat tempat yang sebelumnya hanya kami lihat di browser laptop kami. Tempat tempat yang kami rencanakan akan dikunjungi pun akhirnya benar benar kami kunjungi ke tempat tersebut. Gedung gedung megah yang hancur pada perang dunia ke dua, dibangun ulang dengan konstruksi yang hampir sama sebelum gedung gedung tersebut hancur.

Kami melewati sebuah Universitas bernama  Humboldt University dimana Karl Marx dan Einstein pernah belajar disana. Sebuah komplek universitas tua nan megah ditengah kota Berlin yang membuat saya berangan angan untuk belajar disana.

Banyak hal-hal yang dipelajari dari perjalanan ini. Garis besarnya adalah budaya. Perbedaan budaya dan cara pandang kami terhadap dunia, terbuka melalui perjalanan ini. Saya rasa perubahan menuju arah yang lebih baik salah satu caranya akan terjadi jika kita mampu mengerti dan merasakan sebuah tatanan masyarakat yang baik di suatu daerah sehingga hal tersebut tertular kedalam diri kita.

Tempat tempat menarik, perbincangan-perbincangan yang menyenangkan, dan persentuhan kebudayaan setiap harinya kami disana membuat kami merasa perjalanan ini akan terekam selamanya di benak sebagaian dari kami, terutama saya.

Perjalanan adalah sebuah jalan yang tidak hanya dihabiskan untuk mencapai sebuah tujuan, tapi juga bagaimana kita berbagi sudut pandang, cerita, pikiran, dan kasih sayang kepada mereka yang menghabiskan perjalanan ini bersama sama.

Terima kasih kepada Julia, Uti, Oli, Tian, David, Ano, Cr, Elmia, Zaki, Toni, Ali  dan Pak Dianta atas kebersamaannya.

Tujuan perjalanan ini telah terselesaikan. Namun mungkin kami akan mencari tujuan-tujuan lainnya lagi. Entah itu secara sendiri sendiri atau bersama sama.   Saya berharap kembali kesana suatu saat nanti..

Mungkin bersama-sama lagi..

berlin

franfurt

Catatan Tinggal Sementara di Desa Kubang Baros

Jika direnungkan kembali, menghuni sebuah tempat dimana di tempat tersebut  saya harus mencoba untuk bersosialisasi  dengan sekitarnya adalah sebuah tantangan. Selama sebulan mencoba bersikap ramah sebagai seorang pendatang , awalnya adalah sebuah keterasingan tersendiri bagi saya. Keterasingan itu dimulai dari diri sendiri. Segala sesuatu yang biasanya saya lakukan sendiri kini harus dibagi bersama dengan kelompok. Kelompok ini beranggotakan 10 orang termasuk saya sebagai ketua di dalamnya. Anggota- anggota kelompok yang saling tidak mengenal ini membuat saya berhipotesa bahwa mereka tidak akan se asik yang saya duga namun saya peduli setan dengan segala hal yang seperti itu, saya percaya bahwa saya dapat hidup bahkan dalam dalam kondisi masyarakat yang tidak enak sekalipun.

Kelompok kami adalah utusan dari Univeristas dalam rangka menjalankan salah satu tridarma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu Universitas mencanangkan sebuah program bernama Kuliah Kerja Nyata (KKN). Selama sebulan, kami, mahasiswa yang tidak saling mengenal satu sama lain ini ditempatkan di sebuah desa yang sama sekali belum kami ketahui sebelumnya. Kelompok kami ditempatkan di sebuah desa bernama Kubang Baros di daerah Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari Jakarta namun terdapat perbedaan jauh dalam hal kesejahteraan masyarakatnya.

Kelompok kami ditempatkan di sebuah rumah berpenghuni 3 orang: Ibu, Bapak dan seorang perempuan anak mereka. Sebenarnya mereka adalah keluarga beranggotakan lima orang, namun dua anak laki laki mereka bersekolah di luar kota sehingga tidak tinggal bersama. Dengan tinggal di rumah mereka, saya berarti diharuskan untuk bersosialisasi dengan mereka. Entah mengapa bersosialisasi dengan orang baru menjadi ganjalan bagi saya. Mungkin ini tipikal orang kota yang terbiasa hidup invidualis. Saya pikir ada gunanya juga KKN ini membuat saya dipaksa harus bersosialisasi, sesuatu yang wajib dilakukan tapi saya malas untuk menjalankannya. Sejujurnya, saya dan teman teman sekelompok cukup diterima baik oleh tuan rumah. Kami bahkan sering makan malam bersama dan bercanda gurau dengan anaknya dan anak tetangga mereka. Mungkin karena keramahan mereka pulalah yang membuat saya menjadi mudah dalam berinteraksi dengan mereka dan penduduk sekitar yang awalnya terasa asing bagi saya.

Kami diharuskan untuk membuat beberapa program kerja dalam kegiatan kami untuk mengabdi kepada masyarakat. Beberapa kegiatan cukup menyenangkan, seperti bertepatan dengan  tanggal 17 agustus kami menyelenggarakan kegiatan kegiatan perlombaan siswa siswi MA/ setingkat SD. Kami juga mengajar di MA tersebut dan MTs di sebelahnya.  Dilihat dari sisi pendidikan, keadaan pendidikan di desa ini cukup tertinggal. Dibanding dengan Jakarta, terdapat perbedaan yang jauh dalam hal kompetensi guru maupun murid, fasilitas yang tidak memadai, rendahnya kesadaran akan belajar dan membaca dan jenjang pendidikan yang terputus hanya sampai SMA/MI. Ironi ditemukan disini. Sebuah desa yang tidak terlalu terpencil, bahkan hanya berjarak 4 jam perjalanan darat dari Ibu Kota, belum memiliki kualitas pendidikan yang memadai. Saya rasa kita masih jauh untuk menjadi negara maju.

Di dalam kelompok kami, terdapat dua laki dan delapan wanita. Saya adalah orang yang selalu menaruh harapan di titik paling bawah dalam sebuah situasi. Jadi tentunya saya tidak banyak berharap dari mereka. Ketidakberharapan saya ini, seiring berjalannya waktu dan tinggal dengan teman teman kelompok saya, menumbuhkan sebuah rasa kekeluargaan baru yang sebelumnya saya tidak harapakan dari beberapa orang asing ini. Mereka adalah orang-orang yang ramah. Sama seperti penduduk dan tuan rumah di tempat saya tinggal. Segala hal dalam hubungan antar manusia di tempat saya tinggal ini amat mendukung. Dimulai dari menyenangkannya interaksi dengan teman kelompok, dengan tuan rumah bahkan dengan penduduk sekitar.

Ternyata sekumpulan orang orang asing yang dipersatukan dapat pula membentuk sebuah rasa kekeluargaan yang hangat, bahkan ketika mereka menjadi diri mereka sendiri.

Tidak banyak catatan yang dapat ditulliskan disini, namun orang-orang asing (re: teman kelompok) yang sudah dapat dikatakan menjadi keluarga saya selama sebulan ini patut untuk dicatat secara mendalam dalam ingatan.

Maldini dan Curva Sud yang Lupa

maldini

Akhir dekade 90an hingga awal tahun 2000an, dunia mengenal sosoknya sebagai pemimpin di lapangan sekaligus bek tangguh dunia. Tiada yang menyangkal dirinya di tempatkan sebagai salah satu pemain bertahan yang sulit dilewati penyerang lawan. Diidolakan tidak hanya dari klub asalnya namun juga kawan rivalnya, Ronaldo pernah memujinya sewaktu bermain di Inter Milan, membuatnya menjadi legenda sepak bola. Dialah Paolo Cesare Maldini.

Lahir pada 26 Juni 1968 dan memulai debutnya secara sukses pada usia 16 tahun tidak serta merta menutup karirnya pada tahun 2009  secara sukses pula. Tidak ada gelar pada tahun terakhirnya, tidak masuk liga champions pada tahun tersebut dan pada hari terakhir dia bermain pun tidak ada penghormatan besar dari ultras klubnya terhadap dirinya yang telah berjasa memberikan gelar demi gelar bagi Ac Milan.

Seumur hidupnya, Maldini hanya membela satu klub. Milan adalah cinta pertama dan terakhirnya. Ketika ayahnya, Cesare Maldini, yang juga adalah seorang legenda Milan, bertanya kepada Maldini kecil tentang keinginannya bermain di akademi sepakbola, jawaban pertama dan pasti adalah akademi klub Ac Milan. Walaupun ayahnya memberikan ia kebebasan dalam memilih akademi yang diinginkan namun Maldini dengan mantap tetap milih menjadi rossonero.

Tumbuh besar di akademi Milan dan cukup sukses berperan di level senior membuatnya menjadi kapten Milan menggantikan Franco Baresi pada tahun 1997. Menjabatnya ia menjadi kapten membuka keran gelar yang deras ke San Siro. Sebut saja juara Serie A 2004, Juara liga champions 2003 dan 2007 dan gelar piala dunia antar klub 2007 adalah beberapa gelar juara yang diberikan ayah dari Cristian Maldini tersebut bagi Ac Milan.

Namun gelar-gelar, pencapaian  dan karir luar biasa yang dituturkan di atas seakan pudar bagi para ultras Milan di sudut selatan tribun San Siro sana. Senja karir yang dilalui pemain bernomor punggung 3 tersebut dirusak tidak hormat oleh Ultras Curva Sud. Seharusnya penghormatan besar menjadi tema utama pada pertandingan terakhirnya, seharusnya ada jersey besar bernomor punggung 3 dibentangkan dan seharusnya lagu lagu kehormatan dinyanyikan untuk dirinya. Kenyataannya segala hal tersebut tidak dilakukan oleh para pendukung di tribun selatan sana.

Para Curva Sud justru mengumandangkan nama kapten Ac Milan sebelum Maldini menjabat  dan membentangkan jerseynya, yaitu Franco Baresi.  Nomor punggung 6 tersebut berkibar bagi para pendukung yang berada di Curva Sud.

Peribahasa bagi nila setitik rusak susu sebelanga sepertinya berlaku bagi Maldini. Kejadian yang membuatnya tidak disukai Ultras Milan adalah ketika tahun 2005 pada final liga champion penuh drama tersebut,  Curva Sud menjual sisa jatah tiket mereka kepada pendukung klub rival, Liverpool, dengan harga yang jauh lebih mahal. Bagi Maldini, seharusnya tiket tiket itu dijual kepada pendukung Milan lainnya bagi yang belum mendapat tiket dengan harga sama. Maldini melihat bahwa Curva Sud hanya ultras yang mata duitan.

Dengan kejadian itu sebagai salah satu pemicu kemarahan ultras, membuatnya  dianggap tak pantas dihormati di hari terakhirnya sebagai pemain. Para curva sud seakan lupa dengan puluhan gelar yang telah diberikan Maldini kepada Ac Milan.

Hal ini mengingatkan saya dengan buku karangan Milan Kundera berjudul Kitab Lupa dan Gelak Tawa. Dalam novel ini Kundera seakan bertutur bahwa informasi yang bertubi-tubi mengenai berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita membuat kita gampang lupa dengan masa lalu kita.

Kundera mengangkat tema Lupa yang berkaitan dengan berkurangnya ingatan kolektif suatu masyarakat akan masa lalunya.  Di dalam novel itu, ia mengambarkan mengenai sosok Vladimir Clementis, yang berjuang bersama pemimpin komunis Cekoslowakia, Klement Gottwald, dan tentang penghapusan foto dirinya di samping Gottwald karena dituduh melakukan tindakan penghianatan terhadap negara.

Awalnya, foto masyhur  tersebut mengabadikan Gottwald berpidato dan topi yang dipakainya merupakan pemberian dari Clementis, dimana Clementis berdiri di samping Gottwald, tersebar dan diingat oleh siapapun yang ada di Cekoslowakia. Namun semenjak Clementis dituduh melakukan tindak penghianatan negara, foto dirinya dihapus oleh seksi propaganda negara Cekoslowakia dan meninggalkan Gottwald berpidato tanpa Clementis di sampingnya.

Saya berharap curva sud bukanlah seperti pemerintahan totaliter Cekoslowakia yang menghapus eksistensi para pahlawannya. Untuk pemain sebesar Maldini, penghormatan adalah sesuatu yang layak atau setidaknya mengingat jasanya adalah sebuah keharusan. Maldini bahkan tidak mendapat tempat di jajaran manajemen Ac Milan hingga kini.

Tulisan pada paragraf paragraf awal tadi secara khusus saya tunjukan kepada haribaan para curva sud milano di Italia sana, jika kalian bisa mengerti bahasa Indonesia, untuk mengingatkan kembali kebesaran Maldini yang seharusnya tetap diingat oleh para Milanisti seluruh dunia dimanapun ia berada. Saya berharap agar anda, para curva sud  yang lupa, tidak  lupa akan jasa-jasa para pahlawannya. Karena menurut Kundera,

“Lupa merupakan sebentuk kematian yang hadir dalam kehidupan… Bangsa yang kehilangan kesadaran akan masa lalunya perlahan-lahan akan kehilangan dirinya.”

Sumber foto: reddit.com