Kategori: Opini

Beauty and Sadness, Yasunari Kawabata

il_fullxfull-298606726

My first introduction with Japanese literature was a couple years ago. I still feel enchanted with the short story by Murakami  and I didn’t  know that Japanese could write beautifully. I was so blind. Turns out, the way Murakami tells his stories is an antithesis of what Japanese literature really is. They  have one specific fabulous novelist which apparently tell about the so-called “real” Japanese culture. So I googled it and comes the first Japanese Nobel prize awardee, Yasunari Kawabata. Without any doubt, I try my best to explore the Beauty and Sadness.

This is a delicate love story opens with a trip to kyoto and a journey into the past by Oki Toshio, a successful author. He travels to Kyoto to hear the New Year’s Eve Bells with his old lover, Otoko Ueno. Twenty years ago, at the age of fifteen, Otoko fell in love with Oki, who was married with a young son at the time of the affair. Otoko fell pregnant, but her baby was born prematurely only to die shortly after the birth. This made her mental down and tried to suicide. Her mother moved the family to Kyoto in an effort to put some distance between the two former lovers.

The narration back to the present : Otoko already has a girlfriend, in the explicit way this novel describe when she turns into lesbian, and Oki sold millions of copy of A Girl of Sixteen, A novel about his relationship with Otoko. Those 2 long decades never dimmed their love. However, their story turns into a destruction when Keiko, Otoko’s jealous girlfriend, disrupt their past love

The story goes between flashbacks from years ago and brief yet significant moments in the present. Kawabata’s prose has the feeling of painting but he leaves some scope for the reader to draw their own interpretation from the picture. It might be spoiler but this book left with the unanswered ending. In a way, this ending adds to the beauty of this poignant novella.

 

Iklan

Three Billboard Outside Ebbing, Missouri. {contain spoilers}

threeposter

Seorang ibu yang anak gadisnya mati memutuskan untuk menyewa tiga papan iklan besar sebagai bentuk protes terhadap kepolisian kota Ebbing, dan kepada kepala polisi Bill lebih tepatnya, karena belum berhasil menangkap pembunuh anak gadisnya. Ibu itu bernama Mildrerd Hayes.

Kepala polisi Bill mendatangi Mildred dan berbicara bahwa dirinya memiliki penyakit kanker untuk meminta belas kasih Mildred namun ibu itu tak peduli. Berita mengenai papan iklan ini telah sampai ke media televisi dan membuat heboh seisi kota.

Bill memiliki bawahan bernama Jason yang temperamental, rasis dan sering memukul. Jason tinggal berdua dengan ibunya yang sudah cukup tua. Saat Bill bunuh diri karena kankernya semakin ganas, Jason menjadi marah dan memukuli pemilik usaha billboard karena membolehkan Mildred memasang iklan yang menghina atasannya.  Setelah itu Jason dikeluarkan dari kepolisian oleh seorang kepala polisi yang baru.

Jason menerima surat dari Bill yang berisi wejangan bahwa sesungguhnya Jason adalah pria yang baik dan jadilah polisi yang sabar dan penuh cinta. Saat ia membaca itu di kantor polisinya, Mildred yang kesal karena pemilik usaha billboard dipukuli oleh Jason, melempari kantor kepolisian dengan bom Molotov dan tanpa Mildred tahu bahwa ada Jason di dalam kantor.

Suatu ketika Jason sedang minum-minum di bar  ketika ia mendengar tentang seseorang  yang menyombongkan diri telah memerkosa wanita seksi. Ia segera menyelediki hal tersebut dan menghubungi Mildred.  Namun ternyata setelah melalui penyelidikan polisi, pembunuhnya bukan orang yang disangka oleh Jason.

Jason menelpon Mildred dan memutuskan unntuk pergi ke rumah si tersangka dan ingin main hakim sendiri. Namun saat mereka menaiki mobil, mereka menjadi tidak yakin akan rencana tersebut. Film berakhir di situ.

Film ini berkisah tentang rasa dendam dan benci. Kedua hal tersebut tidak akan membawa kita kemana mana selain daripada amarah yang tak berkesudahan. Hidup memang terlalu pedih untuk dijalani namun menyimpan dendam akan membuat hal tersebut menjadi jauh lebih pedih.

Di akhir cerita, penonton disuguhkan lewat perubahan sikap Jason dan cara Mildred berdamai dengan kasus kematian anak gadisnya yang tak terselesaikan. Berdamai dengan hidup itu sulit dan memang kita harus menerima segala rasa sakit lalu melepaskannya.

Pendalaman karakter yang luar biasa di film ini membuat saya tidak sungkan untuk membocorkan filmnya karena anda harus menonton sendiri bagaimana perubahan karakter dan penggambaran tentang manusia yang diselimuti rasa dendam akan mengajarkan kita satu atau dua hal penting tentang hidup.

Hobi Masa Muda

Hobi membaca itu sebenarnya cukup menyesakan. Membaca buku itu buang banyak waktu. Tidak ada jaminan juga kalau saya banyak baca akan ada pengaruh yang besar untuk hidup saya. Sejauh saya hidup, saya belum merasakan efek dari banyak membaca. Memang bolehlah dikata bahwasanya saya lumayan tahu banyak hal karena hobi saya ini.

Dibanding dengan teman sepermainan, pengetahuan akan budaya massa dan sastra saya lebih baik. Ini mungkin juga saya yang sok paling tahu atau saya salah berteman.

Namun selebihnya, saya tidak mendapat efek apa-apa dari banyak membaca selain kepuasan diri saja. Membaca membawa saya menuju sebuah realitas yang baru. Sebuah eskapisme dari realitas yang saya jalani. Karena juga pada dasarnya saya menyukai kata-kata, itu menjadi dorongan terbesar saya untuk terus membunuh waktu dengan membaca.

Tidak selamanya membaca itu menyenangkan. Sekali duakali saya menemukan buku yang tidak saya selesaikan. Mungkin sinopsisnya menarik untuk dibaca tapi ternyata isinya mengecewakan bagi saya. Saat membaca buku yang seperti itu, saya lebih sering istirahat untuk membaca dan melamun untuk waktu yang lama sambil memegang buku yang saya baca.

Hingga saat ini, tulisan saya nyaris rendah sekali mutunya. Banyak baca katanya akan meningkatkan mutu menulis kita. Tapi nyatanya tulisan saya masih serupa dengan pengeran si buruk rupa dari dongeng la belle et la bête. Atau mungkin saja bacaan saya kurang banyak dan kurang luas(ini kemungkinan paling besar tentunya).

Saya sepertinya juga harus mendisiplinkan diri sendiri. Saya harus membuat sedikit catatan membaca. Ini dikarenakan sebagian besar buku yang saya baca, saya lupa beberapa bagiannya. Bahkan saya lupa bagian mana dari buku-buku itu yang saya suka.

Saya pernah membaca sebuah esai dari Aan Mansyur tentang tidak enaknya punya hobi membaca buku (yang saya lagi-lagi lupa beberapa alasannya). Saya rasa hal tersebut cukup relevan dengan keadaan saya.

Seringkali saya menimbang-nimbang dan berimaji, ketika tua nanti, apakah saya akan menyesali hobi masa muda saya ini?

Kartun Masa Kecil

Saya menyalakan televisi pada pukul 16.00 untuk melihat channel berita Indonesia. Channel televisi Indonesia jelek dari segi acara oleh karena itu saya hanya menonton channel berita Indonesia saja. Ya walau terkadang channel berita kita pun jadi alat propaganda pemiliknya yang ingin ikut berpolitik.  Bahkan akhir akhir ini saya hanya sering menonton CNN saja untuk channel berita Indonesia.

Seketika saya sadar, 10 tahun lalu, pada  sore atau bahkan agak lebih siang, saya sering menyalakan televisi untuk menonton kartun kartun dari Nickelodeon yang ditayangkan oleh televisi nasional. Saat itu entah TV One (yg saat itu masih bernama lativi) atau Global TV yang menyiarkannya.  Sejauh yang saya ingat, channel tersebut menyiarkan kartun kartun Nickelodeon dari jam 2 siang hingga 5 sore. Bahkan di pagi hari sebelum berangkat sekolah ada beberapa kartun yang disiarkan. Yang saya ingat kalau pagi mereka menyiarkan kartun Chalk Zone. Pada siang hingga sore harinya, ada kartun maraton mulai dari Rugrats, The wild thornberry’s, Cat and Dog, dan yang paling banyak penggemarnya yaitu, Spongebob Squarepants. Namun saya punya kartun favorit, bahkan mungkin hingga saat ini, yaitu Hey Arnold!

Hey Arnold adalah kisah seorang bocah berumur 10 tahun bernama Arnold yang hidup bersama kakek dan neneknya. Cerita kartun tersebut berkisar di kehidupan Arnold dan teman teman sekolahnya yang juga para tetangganya. Diantara teman temannya tersebut ada juga yang sering berkonflik dengannya seperti Helga yang mana di sisi lain juga mengagumi Arnold.

Hey Arnold menjadi kartun favorit saya karena selain gambarnya yang menarik, juga ceritanya yang berkisar di umur yang sama ketika saya menontonnya. Hey Arnold pun menjadi terlihat realistis bagi saya. Kartun, terutama bagi anak anak, dapat dibalut oleh cerita apapun. Dari Spons yang hidup di bawah laut hingga anjing dan kucing dalam satu tubuh yang sama. Namun bagi saya Hey Arnold menarik dari sisi realisnya.

Hey Arnold juga  yang mungkin saja membuat saya saat ini menjadi ketagihan menonton serial-serial semacam Louie yang berkisar di kehidupan sehari hari seseorang. Saya baru sadar ternyata panutan saya saat kecil bukanlah dari seseorang yang nyata tapi dari karakter seorang Arnold.

hey-arnold-hey-arnold-13820619-1037-648
foto: fanpop.com

Arnold digambarkan sebagai bocah 10 tahun yang bijak. Dia bukanlah pemimpin diantara teman temannya tapi dia menjadi seorang juru damai dan kadang berisikap berani. Ia memiliki seorang sahabat bernama Gerald, seorang afro america. Mungkin pembawaanya yang santai, tidak mengedepankan kekerasan, berani dan paling utama yaitu bersikap bijak yang membuat saya menjadikannya karakter favorit. Secara tidak sadar mungkin dulu saya ingin menjadi dirinya.

Saya tahu mungkin saat ini saya belum sampai pada titik dimana bisa mewujudkan karakter seorang Arnold, bocah berusia 10 tahun, untuk diri saya sendiri. Dan saya sadar, untuk ukuran anak berumur 10 tahun, Arnold sudah jauh lebih dewasa dibanding teman temannya.

Bercita cita menjadi seorang Arnold ketika SD dulu tentu bukan sesuatu yang salah. Setidaknya saya memimpikan menjadi seorang anak yang cinta damai dan bijak. Arnold adalah role model bagi saya dahulu. Saya cukup senang akan kenangan itu.

Sekarang jarang saya temui kartun kartun yang disiarkan oleh televisi Indonesia. Ya mungkin karena saya juga jarang menonton channel tv Indonesia. Saya bersyukur karena tontonan masa kecil saya menyenangkan dan mungkin tontonan tersebut lah yang membentuk selera dan karakter saya saat ini.

Thanks for the memory, Arnold and friends!

Jarang Menulis

tumblr_static_tum
source: dominique jackson

Awalnya platform ini saya jadikan sebagai saluran tulisan saya tentang apapun. Keinginan saya untuk menulis memang besar, tapi nyatanya saya jarang untuk melakukannya. Beberapa hal sudah saya lakukan untuk dapat meningkatkan  jumlah tulisan saya agar lebih sering tampil dalam laman ini.  Salah satu diantaranya dengan membuat kategori catatan akhir pekan.

Di catatan akhir pekan tersebut, setidaknya  saya telah membuat tenggat waktu untuk diri saya pribadi agar menulis  tiap pekannya satu artikel. Hal ini makin saya longgarkan  dari sisi kepenulisan. Saya tak harus memakai kata yang baku, membicarakan apapun, asal saya menulis satu artikel selama seminggu. Pada ujungnya saya tidak mampu melaksanakan hal yang saya targetkan sendiri.

Menulis, kata mereka, adalah sebuah kebiasaan. Saya sadar akan jeleknya tulisan saya. Oleh karena itu saya ingin terus menulis agar suatu saat tulisan saya dapat terus  berkembang. Seperti kata Tan Malaka: Terbentur, terbentur, terbentur lalu terbentuk.

Saya juga ingin blog ini menjadi kapsul waktu  bagi tulisan saya. Suatu saat di masa depan nanti, ketika  menulis adalah sebuah keseharian, saya dapat melihat bagaimana tulisan tulisan saya dimasa lalu lewat platform ini. Saat ini amat jelas menulis bukalah kegiatan sehari hari bagi  saya.

Mungkin keseharian saya yang paling dekat kaitannya dengan kepenulisan adalah membaca. Saya baru sadar belakangan, membaca adalah hobi yang tidak pernah surut.  Saya adalah orang yang selalu ingin tahu. Mungkin medium tulisan adalah tempat di mana saya mendapatkan keingintahuan tersebut, oleh karena itu  saya rajin membaca.

Atas dasar rajin membaca lah yang membuat saya memutuskan untuk menulis. Setiap orang yang gandrung akan bacaan pastilah ada satu titik dimana ia  ingin menulis pula.  Saya rasa sudah lama saya  berada di titik tersebut. Saya sering membaca sesuatu yang menurut saya sederhana, tapi kalimat kalimatnya membekas di ingatan, pada titik itulah saya ingin agar saya mampu menulis hal hal seperti itu.

Terkadang keinginan kuat untuk menulis tidak dibarengi dengan ide ide yang ada. Di saat saya menargetkan untuk menulis tiap pekannya, ide adalah oase di padang gurun. Sulit menemukan ide untuk menulis. Bahkan ketika telah menemukan ide tersebut, mengembangkannya menjadi sebuah tulisan jauh lebih sulit.

Saya tidak tahu apakah saya orang yang berbakat untuk menulis atau tidak. Namun sejauh yang saya ingat, saya cukup akrab dengan kata kata. Untuk saat ini saya tidak terlalu muluk untuk menghasilkan tulisan yang bagus. Setidaknya saya bisa menulis secara berkesinambungan dan setelah itu mari berbicara soal mutu tulisan.

Catatan Akhir Pekan 12 Maret 2016: Banyak Membaca

tumblr_l5ohy137bi1qb0j8no1_1280
sumber: tumblr.com

Sejak kecil saya punya hobi yang berganti ganti. Dulu ketika umur saya 10 tahun, saya hobi bermain sepeda. Sore hari saya ambil sepeda dan bermain bersama teman teman yang lain. Sejak masuk smp, hobi saya berganti menjadi bermain futsal dan menonton film. Sampai sekarang pun masih suka untuk bermain futsal namun terkadang keinginan tersebut suka hilang kalau  malas bergerak. Sedangkan untuk menonton film, akhir-akhir ini ada distraksi dari internet karena ketika saya menonton sering tidak betah dan sambil melihat linimasa atau bahkan mencari referensi film lainnya. Internet membuat rentang perhatian saya semakin kecil.

Namun diantara hobi yang terang redup minatnya itu, ada hobi yang selalu dikerjakan bahkan internet pun tidak dapat mereduksinya. Justru internet menambah hobi ini menjadi semakin adiktif. Membaca adalah hobi yang tak pernah tergerus rasa bosan itu. Bahkan bukan hanya menjadi sebuah hobi, hal ini adalah sebuah kebutuhan.

Selepas bangun pagi, saya ambil koran langganan sambil menyantap sarapan. Di sela sela waktu luang saya membuka situs berita, terutama The Guardian, untuk memenuhi rasa ingin tahu dari berbagai topik di belahan dunia. Entah mengapa informasi membuat saya semakin ketagihan untuk membaca. Mungkin saja pernah ada penelitian yang menunjukan bahwa mengetahui informasi itu membuat seseorang kecanduan untuk mengkonsumsinya lebih.

Belum lagi setidaknya ada satu buku yang harus saya habiskan bacanya selama sebulan. Saya adalah pembaca yang lamban. Terkadang ketika membaca sebuah  atau beberapa kalimat, saya berhenti sejenak unntuk meresapi kata kata itu dan merasakan emosi yang dibawanya. Begitulah kenapa saya terkadang menjadi sentimentil akan sebuah karya dan menjadi pembaca yang lambat. Lambat namun perasa.

Semakin sering saya membaca, baik itu artikel berita, karya sastra, atau buku non fiksi, semakin sering saya merasa bodoh dan tidak tahu apa apa. Banyak hal baru yang setiap  harinya saya temui lewat sebuah bacaan. Mungkin ini yang membuat saya sulit lepas dari media sosial. Ketika istirahat membaca buku, biasanya saya membuka ponsel untuk melihat berita apa saja yang ada di media sosial. Ya begitulah, saya istirahat membaca dengan membaca bacaan lainnya.

Sejujurnya, saya merasa bacaan saya kurang luas. Saya membaca apa yang penulis lain baca. Begitulah resep untuk mengetahui bacaan yang baik kata Eka Kurniawan.  Sering saya mengagumi sebuah artikel atau karya sastra yang isinya luas akan pengetahuan dan hal itu membuat saya mengulik lebih jauh dalam hal bacaan. Saya yakin yang saya baca pun pasti jauhlah lebih sedikit dari kebanyakan pembaca ulet di Goodreads Indonesia.

Membaca amat lah mudah , mungkin itu yang membuat saya terus menggeluti hobi ini selain karena rasa ingin tahu saya yang tinggi. Membaca juga lah yang menarik saya untuk menulis. Walau saya yakin yang saya tulis pasti berantakan karena saya baru membiasakan untuk melakukannya. Semoga saja seiring dengan banyaknya saya membaca dan menulis, tulisan saya jadi lebih berisi dan berkarakter.

Dengan banyak membaca, saya justru semakin penasaran dan tidak penah terpuaskan akan pengetahuan.

Catatan Tinggal Sementara di Desa Kubang Baros

Jika direnungkan kembali, menghuni sebuah tempat dimana di tempat tersebut  saya harus mencoba untuk bersosialisasi  dengan sekitarnya adalah sebuah tantangan. Selama sebulan mencoba bersikap ramah sebagai seorang pendatang , awalnya adalah sebuah keterasingan tersendiri bagi saya. Keterasingan itu dimulai dari diri sendiri. Segala sesuatu yang biasanya saya lakukan sendiri kini harus dibagi bersama dengan kelompok. Kelompok ini beranggotakan 10 orang termasuk saya sebagai ketua di dalamnya. Anggota- anggota kelompok yang saling tidak mengenal ini membuat saya berhipotesa bahwa mereka tidak akan se asik yang saya duga namun saya peduli setan dengan segala hal yang seperti itu, saya percaya bahwa saya dapat hidup bahkan dalam dalam kondisi masyarakat yang tidak enak sekalipun.

Kelompok kami adalah utusan dari Univeristas dalam rangka menjalankan salah satu tridarma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu Universitas mencanangkan sebuah program bernama Kuliah Kerja Nyata (KKN). Selama sebulan, kami, mahasiswa yang tidak saling mengenal satu sama lain ini ditempatkan di sebuah desa yang sama sekali belum kami ketahui sebelumnya. Kelompok kami ditempatkan di sebuah desa bernama Kubang Baros di daerah Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari Jakarta namun terdapat perbedaan jauh dalam hal kesejahteraan masyarakatnya.

Kelompok kami ditempatkan di sebuah rumah berpenghuni 3 orang: Ibu, Bapak dan seorang perempuan anak mereka. Sebenarnya mereka adalah keluarga beranggotakan lima orang, namun dua anak laki laki mereka bersekolah di luar kota sehingga tidak tinggal bersama. Dengan tinggal di rumah mereka, saya berarti diharuskan untuk bersosialisasi dengan mereka. Entah mengapa bersosialisasi dengan orang baru menjadi ganjalan bagi saya. Mungkin ini tipikal orang kota yang terbiasa hidup invidualis. Saya pikir ada gunanya juga KKN ini membuat saya dipaksa harus bersosialisasi, sesuatu yang wajib dilakukan tapi saya malas untuk menjalankannya. Sejujurnya, saya dan teman teman sekelompok cukup diterima baik oleh tuan rumah. Kami bahkan sering makan malam bersama dan bercanda gurau dengan anaknya dan anak tetangga mereka. Mungkin karena keramahan mereka pulalah yang membuat saya menjadi mudah dalam berinteraksi dengan mereka dan penduduk sekitar yang awalnya terasa asing bagi saya.

Kami diharuskan untuk membuat beberapa program kerja dalam kegiatan kami untuk mengabdi kepada masyarakat. Beberapa kegiatan cukup menyenangkan, seperti bertepatan dengan  tanggal 17 agustus kami menyelenggarakan kegiatan kegiatan perlombaan siswa siswi MA/ setingkat SD. Kami juga mengajar di MA tersebut dan MTs di sebelahnya.  Dilihat dari sisi pendidikan, keadaan pendidikan di desa ini cukup tertinggal. Dibanding dengan Jakarta, terdapat perbedaan yang jauh dalam hal kompetensi guru maupun murid, fasilitas yang tidak memadai, rendahnya kesadaran akan belajar dan membaca dan jenjang pendidikan yang terputus hanya sampai SMA/MI. Ironi ditemukan disini. Sebuah desa yang tidak terlalu terpencil, bahkan hanya berjarak 4 jam perjalanan darat dari Ibu Kota, belum memiliki kualitas pendidikan yang memadai. Saya rasa kita masih jauh untuk menjadi negara maju.

Di dalam kelompok kami, terdapat dua laki dan delapan wanita. Saya adalah orang yang selalu menaruh harapan di titik paling bawah dalam sebuah situasi. Jadi tentunya saya tidak banyak berharap dari mereka. Ketidakberharapan saya ini, seiring berjalannya waktu dan tinggal dengan teman teman kelompok saya, menumbuhkan sebuah rasa kekeluargaan baru yang sebelumnya saya tidak harapakan dari beberapa orang asing ini. Mereka adalah orang-orang yang ramah. Sama seperti penduduk dan tuan rumah di tempat saya tinggal. Segala hal dalam hubungan antar manusia di tempat saya tinggal ini amat mendukung. Dimulai dari menyenangkannya interaksi dengan teman kelompok, dengan tuan rumah bahkan dengan penduduk sekitar.

Ternyata sekumpulan orang orang asing yang dipersatukan dapat pula membentuk sebuah rasa kekeluargaan yang hangat, bahkan ketika mereka menjadi diri mereka sendiri.

Tidak banyak catatan yang dapat ditulliskan disini, namun orang-orang asing (re: teman kelompok) yang sudah dapat dikatakan menjadi keluarga saya selama sebulan ini patut untuk dicatat secara mendalam dalam ingatan.